Mag-log inAku menutup telepon, lalu mengambil sebuah map dokumen yang sudah lama kusiapkan dari laci dan menyerahkannya kepada asisten."Kirim semua data ini ke tim investigasi ekonomi, juga ke otoritas pengawas pasar modal. Selain itu, jalankan rencana B. Alihkan seluruh arus kas dari anak perusahaan yang sebelumnya sudah kita akuisisi dan hantam balik dengan keras!""Dia mau main permainan modal? Aku akan tunjukkan padanya apa itu modal yang sebenarnya!"Tiga hari berikutnya adalah perang tanpa asap. Dana luar negeri yang dibanggakan Charlie langsung dibekukan setelah aku melaporkannya. Uang yang dia pertaruhkan habis-habisan di pasar saham langsung terjebak oleh arus kas besar yang kugunakan, membuatnya kehilangan segalanya.Bukan hanya itu, karena diduga melakukan manipulasi pasar saham dan pencucian uang, polisi resmi membuka penyelidikan terhadapnya.Seminggu kemudian, Charlie ditangkap. Namun, dia tidak masuk penjara, melainkan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.Karena saat ditangkap, kondis
Para tamu di bawah panggung akhirnya tersadar dari keterkejutan.Aula yang semula sunyi langsung gempar, bisik-bisik berubah menjadi ejekan dan obrolan keras."Ya ampun, ternyata Charlie itu cuma numpang hidup dari istri? Sudah tanda tangan perjanjian seperti itu masih berani selingkuh, benar-benar cari mati.""Nissa ini juga kejam banget, langsung menghantam dari akar.""Mampus! Sudah bawa selingkuhan, masih berani sombong di depan istri sah. Sekarang rasakan, keluar tanpa apa-apa, malah bawa utang segunung.""Wah, ini bakal seru. Utang 4 triliun itu dia mau bayar pakai apa?"Aku tersenyum memandang Charlie, tatapanku penuh rasa iba. "Suamiku, aku cuma mengambil kembali apa yang memang milikku. Hanya saja, kali ini kamu kalah telak."Pertahanan mental Charlie benar-benar runtuh. "Kamu pasti sudah gila! Perempuan sepertimu kejam sekali, sampai tega menjebak suami sendiri! Kamu sakit jiwa! Aku akan suruh orang memasukkanmu ke rumah sakit jiwa!"Mendengar kata "rumah sakit jiwa", tatapan
"Apa yang kamu bilang?" Tangan Charlie yang memegang ponsel tiba-tiba bergetar hebat, hampir saja ponselnya terjatuh. "Kamu sudah gila? Aku Charlie, bosmu! Kamu berani mengkhianatiku?!""Pak Charlie, mohon jaga sikap Anda. Sekarang aku bawahan Bu Nissa." Setelah mengatakan itu, telepon langsung diputus. Nada sibuk bergema di aula yang sunyi, seperti tamparan keras yang berulang-ulang.Charlie membeku di tempat. Dia yang panik pun menelepon bank dan direktur keuangan."Halo, ini aku, Charlie! Cek rekeningku! Kenapa tertulis dibekukan?!""Halo, bagian keuangan, 'kan? Di mana dana likuid perusahaan?! Apa maksudnya sudah dipindahkan?! Dipindahkan ke siapa?!"Jawaban dari seberang telepon hanya suara mekanis yang dingin atau kalimat yang membuatnya putus asa seperti "rekening bermasalah", "dana telah dikosongkan".Ponsel pun terlepas dari tangannya dan jatuh keras ke lantai, sampai layarnya pecah. Seperti hidupnya saat ini.Charlie menatap dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka seperti or
Melihat aku tidak termakan trik itu, Tiana memutar bola matanya, lalu tiba-tiba berteriak keras, "Semuanya, coba kalian nilai sendiri! Kak Nissa biasanya pura-pura lapang dada, bilang mendukung akting kami, tapi hasilnya apa?""Beberapa hari lalu dia sengaja datang ke toko gaun pengantin dan merobek gaun ini! Ini khusus dipesan Kak Charlie untukku!"Dia menunjuk ke bekas jahitan yang jelas terlihat di bagian bawah gaun, menangis tersedu-sedu."Di depan terlihat begitu baik, tapi di belakang ternyata sekejam ini! Sekarang malah pakai tagihan palsu buat bikin onar! Benar-benar bermuka dua, benar-benar gila!"Para tamu di bawah panggung langsung mulai berbisik-bisik."Merobek gaun pengantin? Keterlaluan banget ya?""Jadi, selama ini sikap lapang dadanya cuma pura-pura?""Sepertinya Nissa ini memang agak ekstrem ...."Melihat tatapan penuh curiga di sekeliling, aku malah tertawa dingin."Gila? Bermuka dua?" Aku mengangkat mikrofon. Suaraku dingin dan tegas, langsung menutupi semua bisikan.
Seluruh aula mendadak sunyi seperti kuburan. Charlie menatap layar selama lima detik penuh, lalu tiba-tiba tersenyum. Senyumannya agak kaku dengan sedikit keangkuhan, bercampur kasih sayang dan ketidakberdayaan."Nissa, jangan bercanda." Dia mengulurkan tangan, ingin menarik tanganku. Nada bicaranya sedikit menyalahkan, tetapi juga seperti membujuk anak kecil."Aku tahu kamu masih cemburu. Kamu mau pakai cara ini buat menarik perhatianku, sekalian kasih tahu semua orang kalau kita yang sebenarnya pasangan suami istri. Cara seperti ini terlalu jelas. Yang patuh ya, matikan layarnya. Hari ini hari penting Tiana, jangan bikin dia takut."Dia bahkan menoleh ke para tamu di bawah panggung dan menjelaskan, "Maaf semuanya, istriku cuma bercanda. Dia memang seperti ini, agak nakal. Jangan dianggap serius."Melihat dirinya yang menipu diri sendiri seperti itu, aku hanya merasa lucu."Bercanda?" Aku mundur selangkah, menghindari tangannya. Kemudian, aku kembali mengangkat mikrofon. Suaraku jelas
Pernikahan itu diadakan di Peninsula Hotel paling mewah di seluruh kota. Meskipun dikatakan hanya sandiwara demi memenuhi keinginan terakhir seorang lansia, kemegahannya bahkan melampaui pernikahanku dengan Charlie dulu.Orang-orang berpengaruh di kalangan itu hampir semuanya hadir. Entah karena penasaran atau ingin menonton drama, yang jelas tidak ada satu kursi pun yang kosong.Aku mengenakan gaun hitam sambil duduk di meja utama.Penampilanku ini bukan seperti datang ke pesta pernikahan, tapi lebih seperti menghadiri pemakaman. Tatapan orang-orang di sekitarku penuh makna, disertai suara bisikan."Eh, lihat Nissa, dia benar-benar datang.""Istri sah begini benar-benar menyedihkan ya? Suaminya mau menikah sama orang lain, dia masih bisa duduk diam?""Katanya demi kakek wanita itu, cuma akting.""Akting? Kamu percaya? Lihat cincin berlian itu, lihat kemegahannya, nggak kalah dari yang dulu.""Ssst, pelan sedikit suaramu ...."Aku memutar gelas anggur di tanganku dengan santai, sama se
Seminggu lagi berlalu, Charlie hampir tidak pernah pulang ke rumah. Setiap kali dia pulang, aku sudah tertidur. Saat sesekali bertemu, aku tetap bersikap lembut dan penurut. Aku menanyakan kabarnya dan sama sekali tidak menyinggung soal Tiana.Belakangan ini, Tiana terus memposting di Instagram sela
"Aku percaya kamu," ucapku dengan tenang sambil menatap Charlie.Mendengar ucapan itu, Charlie meneliti ekspresiku dengan saksama. Melihat aku benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda marah, alisnya yang semula berkerut akhirnya mengendur. Dia tersenyum sambil merangkulku."Nissa, bagus kalau kamu







