แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Maleva
Seminggu lagi berlalu, Charlie hampir tidak pernah pulang ke rumah. Setiap kali dia pulang, aku sudah tertidur. Saat sesekali bertemu, aku tetap bersikap lembut dan penurut. Aku menanyakan kabarnya dan sama sekali tidak menyinggung soal Tiana.

Belakangan ini, Tiana terus memposting di Instagram selama seminggu penuh. Semuanya foto Charlie yang menemaninya.

Aku memberi like pada setiap unggahan, bahkan juga meninggalkan komentar berisi ucapan selamat.

Teman-teman di lingkaran pergaulan mereka sampai tercengang, satu per satu mengirim pesan pribadi ke Charlie, mengatakan bahwa Nissa yang dulu tegas dan tidak menoleransi kesalahan sedikit pun sudah tidak ada lagi.

Mereka bahkan mengucapkan selamat padanya karena akhirnya berhasil "mendidik" istrinya dan menikmati dua wanita sekaligus.

Charlie membaca pujian-pujian itu, tapi malah merasa sangat tidak nyaman.

Terlalu patuh.

Saking patuhnya sampai tidak lagi seperti Nissa yang selalu bersikap tegas dalam mencintai dan membenci seseorang. Namun setelah dipikirkan kembali, mungkin ini adalah kekuatan cinta.

Nissa sangat mencintainya. Oleh karena itu, Nissa bersedia menahan diri demi dia dan bersedia memahami kesulitannya.

Dengan pikiran itu, Charlie pun kembali merasa tenang.

Keesokan paginya, Charlie membangunkanku untuk pertama kalinya. "Nissa, cepat bangun dan siap-siap. Tiana ada sedikit urusan dan ingin minta bantuanmu."

Aku mengangkat alis tanpa berkata apa-apa. Aku hanya bangkit dan berganti pakaian, lalu ikut dengannya keluar. Sesampainya di tempat itu, aku langsung melihat Tiana yang mengenakan gaun pengantin.

Aku sangat mengenal gaun itu.

Itu adalah gaun yang dipesannya secara khusus dari desainer Prancis untuk pernikahan kami tiga tahun lalu. Gaun itu adalah satu-satunya di dunia. Sekarang, "cinta yang unik" itu dikenakan oleh wanita lain.

Saat melihatku, Tiana melirik Charlie dengan malu-malu, lalu berjalan ke hadapanku. "Kak Nissa, Kak Charlie sudah bilang, kamu sangat pengertian dan mendukung kami memainkan sandiwara ini. Kamu tenang saja, aku jamin kami hanya akting, sama sekali nggak akan ada hal lain ...."

Sambil berkata demikian, dia menoleh ke arah Charlie, matanya memperlihatkan sedikit kesedihan. "Hatinya tetap ada padamu."

Mendengar ucapan itu, Charlie mengepalkan tangan. Ekspresinya menahan sesuatu yang sulit ditahan.

Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, lagi-lagi aku dijadikan bagian dari permainan mereka. Saat aku hampir tidak bisa menahan diri lagi, Tiana kembali berbicara, "Karena ini adalah gaun pengantin milik Kakak, aku merasa harus meminta pendapat Kakak. Jadi Kakak, apa kamu setuju memberikan gaun ini padaku?"

Makna di balik ucapannya sudah sangat jelas. Bukan hanya ingin gaun pengantin, tapi juga ingin merebut posisi istri sah. Belum sempat aku membuka mulut, Charlie sudah menyambung pembicaraan dengan nada sewajarnya.

"Tentu saja nggak keberatan. Lagian, gaun ini juga cuma berdebu di rumah, Nissa juga nggak bakal pakai lagi."

"Meminjamkannya pada Tiana untuk memenuhi keinginan terakhir kakeknya, kamu juga dianggap melakukan hal baik. Kamu pasti senang, 'kan, Nissa?" Dia menoleh menatapku dengan sorot mata yang penuh keyakinan.

Aku mencibir pelan, kemudian melangkah maju untuk membantu merapikan bagian bawah gaun Tiana. Tanganku menyapu sisi pinggangnya yang terasa sedikit tegang.

"Tentu saja nggak keberatan. Kudengar, pernikahannya minggu depan, ya? Aku akan datang tepat waktu. Nanti pasti aku siapkan angpao besar untuk kalian."

"Bagaimanapun, kesempatan melihat suamiku sendiri menikahi wanita lain itu jarang terjadi. Aku juga ingin buka wawasan."

Tiana tertegun sejenak, jelas tidak menyangka aku akan setenang ini.

Aku melanjutkan, "Tapi Tiana, bagian pinggang gaun ini sepertinya agak ketat ya? Sepertinya akhir-akhir ini kamu makan dengan baik."

Aku melirik ke arah perutnya dengan maksud tersirat.

Wajah Tiana langsung menjadi kaku. Tanpa sadar, dia menutupi perutnya dengan tatapan sedikit panik. Tanganku bergerak turun mengikuti alur. Jari-jariku mengait salah satu sudut bawah gaun itu, di sana tersulam inisial namaku, "NS".

Karena orang yang memberikan gaun ini hatinya sudah tidak di sini, maka gaun ini memang sudah tidak ada gunanya. Aku menariknya dengan kuat, langsung merobek bagian renda mahal yang bersulam nama itu.

Tiana menjerit dan menutupi dadanya sambil mundur dua langkah. Air matanya pun mengalir.

"Ah! Gaunku! Kak Nissa, kamu ngapain? Kalau kamu nggak setuju, nggak usah merobeknya di depan umum untuk mempermalukanku!"

Charlie juga langsung murka. Dia berlari menghampiri, lalu mendorongku dan melindungi Tiana. "Nissa! Kamu gila, ya? Gadis seperti ini saja kamu tindas!"

"Gaun ini sudah kamu pakai, disimpan juga percuma. Memangnya kenapa kalau dipakai Tiana sebentar? Kenapa kamu sekejam ini!"

Alisnya berkerut dalam, lalu dia berkata dengan tidak sabar, "Sebagai hukuman, proyek yang sedang dibicarakan keluargamu itu, kita hentikan kerja samanya. Belakangan ini aku juga nggak akan pulang. Kamu pikirkan sendiri baik-baik!"

Setelah berkata demikian, dia merangkul Tiana yang menangis tersedu-sedu, lalu berbalik pergi. Aku memegang potongan kain itu di tanganku, sama sekali tidak peduli dengan ancamannya.

Ya sudah kalau tidak mau kerja sama.

Bagaimanapun, kamu juga sudah tidak punya lagi dana untuk proyek itu.

Aku mengeluarkan ponsel dan mulai melakukan beberapa operasi untuk memindahkan seluruh aset atas namanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 9

    Aku menutup telepon, lalu mengambil sebuah map dokumen yang sudah lama kusiapkan dari laci dan menyerahkannya kepada asisten."Kirim semua data ini ke tim investigasi ekonomi, juga ke otoritas pengawas pasar modal. Selain itu, jalankan rencana B. Alihkan seluruh arus kas dari anak perusahaan yang sebelumnya sudah kita akuisisi dan hantam balik dengan keras!""Dia mau main permainan modal? Aku akan tunjukkan padanya apa itu modal yang sebenarnya!"Tiga hari berikutnya adalah perang tanpa asap. Dana luar negeri yang dibanggakan Charlie langsung dibekukan setelah aku melaporkannya. Uang yang dia pertaruhkan habis-habisan di pasar saham langsung terjebak oleh arus kas besar yang kugunakan, membuatnya kehilangan segalanya.Bukan hanya itu, karena diduga melakukan manipulasi pasar saham dan pencucian uang, polisi resmi membuka penyelidikan terhadapnya.Seminggu kemudian, Charlie ditangkap. Namun, dia tidak masuk penjara, melainkan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.Karena saat ditangkap, kondis

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 8

    Para tamu di bawah panggung akhirnya tersadar dari keterkejutan.Aula yang semula sunyi langsung gempar, bisik-bisik berubah menjadi ejekan dan obrolan keras."Ya ampun, ternyata Charlie itu cuma numpang hidup dari istri? Sudah tanda tangan perjanjian seperti itu masih berani selingkuh, benar-benar cari mati.""Nissa ini juga kejam banget, langsung menghantam dari akar.""Mampus! Sudah bawa selingkuhan, masih berani sombong di depan istri sah. Sekarang rasakan, keluar tanpa apa-apa, malah bawa utang segunung.""Wah, ini bakal seru. Utang 4 triliun itu dia mau bayar pakai apa?"Aku tersenyum memandang Charlie, tatapanku penuh rasa iba. "Suamiku, aku cuma mengambil kembali apa yang memang milikku. Hanya saja, kali ini kamu kalah telak."Pertahanan mental Charlie benar-benar runtuh. "Kamu pasti sudah gila! Perempuan sepertimu kejam sekali, sampai tega menjebak suami sendiri! Kamu sakit jiwa! Aku akan suruh orang memasukkanmu ke rumah sakit jiwa!"Mendengar kata "rumah sakit jiwa", tatapan

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 7

    "Apa yang kamu bilang?" Tangan Charlie yang memegang ponsel tiba-tiba bergetar hebat, hampir saja ponselnya terjatuh. "Kamu sudah gila? Aku Charlie, bosmu! Kamu berani mengkhianatiku?!""Pak Charlie, mohon jaga sikap Anda. Sekarang aku bawahan Bu Nissa." Setelah mengatakan itu, telepon langsung diputus. Nada sibuk bergema di aula yang sunyi, seperti tamparan keras yang berulang-ulang.Charlie membeku di tempat. Dia yang panik pun menelepon bank dan direktur keuangan."Halo, ini aku, Charlie! Cek rekeningku! Kenapa tertulis dibekukan?!""Halo, bagian keuangan, 'kan? Di mana dana likuid perusahaan?! Apa maksudnya sudah dipindahkan?! Dipindahkan ke siapa?!"Jawaban dari seberang telepon hanya suara mekanis yang dingin atau kalimat yang membuatnya putus asa seperti "rekening bermasalah", "dana telah dikosongkan".Ponsel pun terlepas dari tangannya dan jatuh keras ke lantai, sampai layarnya pecah. Seperti hidupnya saat ini.Charlie menatap dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka seperti or

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 6

    Melihat aku tidak termakan trik itu, Tiana memutar bola matanya, lalu tiba-tiba berteriak keras, "Semuanya, coba kalian nilai sendiri! Kak Nissa biasanya pura-pura lapang dada, bilang mendukung akting kami, tapi hasilnya apa?""Beberapa hari lalu dia sengaja datang ke toko gaun pengantin dan merobek gaun ini! Ini khusus dipesan Kak Charlie untukku!"Dia menunjuk ke bekas jahitan yang jelas terlihat di bagian bawah gaun, menangis tersedu-sedu."Di depan terlihat begitu baik, tapi di belakang ternyata sekejam ini! Sekarang malah pakai tagihan palsu buat bikin onar! Benar-benar bermuka dua, benar-benar gila!"Para tamu di bawah panggung langsung mulai berbisik-bisik."Merobek gaun pengantin? Keterlaluan banget ya?""Jadi, selama ini sikap lapang dadanya cuma pura-pura?""Sepertinya Nissa ini memang agak ekstrem ...."Melihat tatapan penuh curiga di sekeliling, aku malah tertawa dingin."Gila? Bermuka dua?" Aku mengangkat mikrofon. Suaraku dingin dan tegas, langsung menutupi semua bisikan.

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 5

    Seluruh aula mendadak sunyi seperti kuburan. Charlie menatap layar selama lima detik penuh, lalu tiba-tiba tersenyum. Senyumannya agak kaku dengan sedikit keangkuhan, bercampur kasih sayang dan ketidakberdayaan."Nissa, jangan bercanda." Dia mengulurkan tangan, ingin menarik tanganku. Nada bicaranya sedikit menyalahkan, tetapi juga seperti membujuk anak kecil."Aku tahu kamu masih cemburu. Kamu mau pakai cara ini buat menarik perhatianku, sekalian kasih tahu semua orang kalau kita yang sebenarnya pasangan suami istri. Cara seperti ini terlalu jelas. Yang patuh ya, matikan layarnya. Hari ini hari penting Tiana, jangan bikin dia takut."Dia bahkan menoleh ke para tamu di bawah panggung dan menjelaskan, "Maaf semuanya, istriku cuma bercanda. Dia memang seperti ini, agak nakal. Jangan dianggap serius."Melihat dirinya yang menipu diri sendiri seperti itu, aku hanya merasa lucu."Bercanda?" Aku mundur selangkah, menghindari tangannya. Kemudian, aku kembali mengangkat mikrofon. Suaraku jelas

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 4

    Pernikahan itu diadakan di Peninsula Hotel paling mewah di seluruh kota. Meskipun dikatakan hanya sandiwara demi memenuhi keinginan terakhir seorang lansia, kemegahannya bahkan melampaui pernikahanku dengan Charlie dulu.Orang-orang berpengaruh di kalangan itu hampir semuanya hadir. Entah karena penasaran atau ingin menonton drama, yang jelas tidak ada satu kursi pun yang kosong.Aku mengenakan gaun hitam sambil duduk di meja utama.Penampilanku ini bukan seperti datang ke pesta pernikahan, tapi lebih seperti menghadiri pemakaman. Tatapan orang-orang di sekitarku penuh makna, disertai suara bisikan."Eh, lihat Nissa, dia benar-benar datang.""Istri sah begini benar-benar menyedihkan ya? Suaminya mau menikah sama orang lain, dia masih bisa duduk diam?""Katanya demi kakek wanita itu, cuma akting.""Akting? Kamu percaya? Lihat cincin berlian itu, lihat kemegahannya, nggak kalah dari yang dulu.""Ssst, pelan sedikit suaramu ...."Aku memutar gelas anggur di tanganku dengan santai, sama se

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 2

    Pukul tujuh malam, Charlie tepat waktu mengajakku ke Restoran Cloud.Posisinya memang sangat bagus, di luar jendela kaca besar terbentang pemandangan malam kota yang gemerlap. Charlie menarikkan kursi untukku dengan sopan, lalu tersenyum dan berkata, "Nissa, makan dulu ya, nanti ada kejutan besar un

  • Terlahir Kembali: Tak Lagi Memercayai Janji Pria   Bab 1

    "Aku percaya kamu," ucapku dengan tenang sambil menatap Charlie.Mendengar ucapan itu, Charlie meneliti ekspresiku dengan saksama. Melihat aku benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda marah, alisnya yang semula berkerut akhirnya mengendur. Dia tersenyum sambil merangkulku."Nissa, bagus kalau kamu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status