Di sudut lain restoran, sebuah ruangan privat kecil menjadi saksi bisu pertemuan dua pria yang memiliki pengaruh besar di dunianya masing-masing. Berbeda dengan ruang VIP sebelumnya, atmosfer di sini terasa jauh lebih canggung, dingin, dan sarat akan ketegangan yang tak kasat mata.Erick Wijaya duduk dengan tegap, meraih teko keramik berukir emas untuk menuangkan teh ke dalam cangkir Samuel. Namun, belum sempat air hangat itu mengalir, tangan kekar Samuel menahannya dengan lembut namun tegas. “Biar saya saya, Ayah mertua.”Pria muda itu mengambil alih teko, lalu dengan gerakan tenang dan penuh hormat, justru dialah yang menuangkan teh ke cangkir Erick.“Terima kasih.”Erick memperhatikan gestur itu dengan tatapan datar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati. "Tuan Samuel, kau tidak perlu berpura-pura sopan padaku di ruangan ini. Aku tahu kau dan Elena sedang berbohong."Gerakan tangan Samuel terhenti sesaat sebelum ia meletakkan teko kembali ke tempatnya. Ia menatap san
Terakhir Diperbarui : 2026-06-08 Baca selengkapnya