LOGINSelama bertahun-tahun, Elena Wijaya hanyalah bayang-bayang di balik kejayaan tunangannya. Diperas kecerdasannya hanya untuk dibuang ke jurang maut saat dianggap tak lagi berguna. Namun semesta memberinya kesempatan kedua, tepat dua jam sebelum nyawanya melayang. Alih-alih melarikan diri, Elena memilih melawan takdir dengan menabrakkan dirinya ke pelukan Samuel Adiguna, pria berkuasa untuk melawan Raka. Berkat suara hatinya, hidup Ellena berlimpah kasih sayang dan Samuel meratukannya.
View MoreSuara tepuk tangan riuh memenuhi ballroom hotel bintang lima itu, menyambut sang bintang utama yang melangkah ke atas panggung dengan dagu terangkat.
Di bawah sorot lampu, Raka Pratama berdiri dengan senyum penuh percaya diri, seolah seluruh dunia berada dalam genggamannya.
"Keberhasilan proyek Smart-Tech ini adalah bukti bahwa visi yang tepat bisa mengubah sejarah," suara bariton Raka menggema mantap.
"Saya dedikasikan pencapaian ini sepenuhnya untuk masa depan NOVATECH."
Tepuk tangan kembali membahana. Investor dan pejabat tinggi berebut memberikan tatapan kagum. Namun, di sudut ruangan yang remang-remang, Elena Wijaya berdiri mematung sambil menggenggam gelas sampanye yang sudah mendingin.
Dialah yang tidak tidur selama enam bulan untuk menyempurnakan algoritma itu. Dialah yang melobi vendor-vendor sulit menggunakan relasi pribadinya.
Namun malam ini, namanya bahkan tidak disebut satu kali pun, seolah ia hanyalah hantu di perusahaannya sendiri.
“Bukankah itu Nona Elena? Tunangan Tuan Raka?”
“Kenapa dia di pojok sana? Jika orang belum tahu, mungkin mereka akan mengira Nona Mora yang tunangannya,” bisik seorang tamu sambil melirik Mora.
"Kasihan sekali Elena," bisik sosialita lain di dekatnya, cukup keras untuk didengar.
"Kudengar dia mandul. Pantas saja keluarga Pratama tak kunjung meresmikan pernikahan. Sudahlah dari keluarga kaya kota kecil, tidak berguna pula. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk dibuang."
Elena mencengkeram gelasnya hingga buku jarinya memutih. Tatapan mengejek itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Maura, kakak perempuannya.
[Kau masih belum pulang? Apakah pria itu mengabaikanmu lagi? Perlu aku turun tangan?]
Elena terkekeh getir. Hanya Maura yang peduli, namun Elena selalu melarangnya ikut campur demi menjaga nama baik keluarga. Ia membalas singkat, enggan berdebat dengan kakaknya.
[Aku akan pulang sekarang, Kak. Aku bosan.]
Tanpa pamit pada Raka yang masih sibuk dipuja, Elena melangkah keluar.
Gerimis tipis mulai membasahi kaca depan SUV putih miliknya saat Elena memacu kendaraan menyusuri jalanan aspal yang meliuk di pinggiran tebing.
Napasnya berat, dadanya sesak mengingat bagaimana kedua orang tuanya selalu memuja Raka dan menganggap keluhan Elena hanyalah angin lalu.
Layar dasbor menyala. Maura menelepon. Elena menekan tombol hijau, mencari sedikit kehangatan dari suara kakaknya.
"Halo, Kak?"
"Elena? Kau sudah jalan pulang?" suara Maura terdengar hangat, penuh kasih sayang yang tulus.
Elena menatap jalanan yang mulai berkabut di depannya. "Sebentar lagi, Kak. Aku butuh udara segar sebentar sebelum pulang. Mungkin aku akan sampai dalam tiga puluh menit.”
Terdengar suara helaan napas dari sambungan telepon. "Kau sudah makan?”
“Sudah,” jawab Elena bohong.
“Baiklah, kabari aku jika kau sudah sampai.”
Elena menutup telepon dengan senyum tipis yang langsung hilang saat ia memasuki tikungan tajam yang menghadap langsung ke jurang.
Ia menginjak pedal rem, namun jantungnya seolah berhenti berdetak saat kakinya hanya menekan ruang kosong. Pedal itu blong—tanpa tekanan sedikit pun.
"Remnya... tidak mungkin!"
Ia memompa rem berkali-kali, namun mobil justru melaju liar seolah mesinnya telah dipaksa untuk mencapai kecepatan maksimal.
BRAKKK!
Mobil itu menghantam pembatas jalan dengan dentuman memekakkan telinga, terguling berkali-kali di lereng berbatu sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terbalik di ambang jurang yang menganga.
Kesadaran Elena tersisa di ujung tanduk. Darah hangat mengalir dari pelipis, mengaburkan pandangannya. Di tengah suara desis mesin, ia mendengar pintu mobil tertutup di dekatnya. Harapan muncul, ia mengira seseorang datang menolong.
Namun, harapan itu mati saat sepasang sepatu pantofel mahal berhenti tepat di depan jendela mobil yang pecah. Elena bersusah payah mendongak.
Di sana, Raka berdiri dengan angkuh, tangannya menggandeng mesra Mora yang tersenyum puas.
"R-Raka... tolong..." rintih Elena.
Raka berjongkok, menatap tunangannya yang sekarat dengan tatapan dingin yang belum pernah Elena lihat. Ia meludahi wajah Elena yang bersimbah darah, lalu tertawa kecil.
"Maafkan aku, Elena. Tapi kau terlalu pintar untuk tetap hidup," ucap Raka dengan nada tenang yang mengerikan.
Air mata Elena menetes, rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini. “K-kenapa?” lirihnya.
"Membatalkan pertunangan secara normal akan membuat publik mencaciku. Mereka akan tahu soal Mora dan anak yang dikandungnya. Jadi, kecelakaan tragis adalah solusi terbaik."
"Apa... salahku?" lirih Elena dengan sisa tenaga.
"Kau naif, Elena. Kau seperti kayu yang membosankan. Aku tak pernah berselera padamu."
Raka mengusap tangannya dengan sapu tangan, seolah-olah menyentuh area mobil Elena adalah sesuatu yang menjijikan.
Mora mengusap perutnya yang masih rata, lalu berbisik licik, "Semoga Anda tenang di alam baka, Nona Elena."
Raka berdiri, memberi isyarat pada mobil hitam di belakangnya. "Terima kasih untuk NOVATECH, Sayang. Aku akan menjaga warisanmu dengan baik."
Tanpa sedikit pun ragu, Raka memberikan instruksi terakhir. Mobil pengawal di belakangnya melaju, menghantam bagian belakang SUV Elena dengan kekuatan penuh.
BRAKKKK!
Elena membelalakkan mata saat gravitasi merenggut dunianya. Mobil itu meluncur jatuh ke kegelapan jurang. Dalam detik-detik jatuh yang terasa abadi, tangis Elena bercampur darah. Di tengah kobaran api yang mulai menjalar, batinnya meraung.
Jika maut memberiku jalan kembali... aku akan pastikan kalian memohon untuk mati!
BOOM!
Ledakan dahsyat mengubah tepi jurang yang gelap menjadi merah membara. Dari kejauhan, Raka dan Mora menatap pemandangan indah
itu dengan napas lega. "Selamat tinggal, Elena."
Pagi itu, atmosfer di kantor NOVATECH terasa lebih mencekik dari biasanya bagi Elena.Begitu dia melangkah melewati lobi, keheningan yang janggal menyambutnya. Tatapan para staf yang biasanya penuh hormat meski palsu, kini berubah menjadi tajam dan penuh penghinaan.Elena bisa mendengar bisikan-bisikan di balik kubikel. Ia yakin Mora telah bekerja keras semalam, menyebarkan narasi bahwa kegagalan tender besar kemarin adalah murni karena ketidakmampuan.Namun, Elena tidak mengambil pusing. Ia berjalan tegak, dagunya terangkat, melewati kerumunan itu seolah-olah mereka hanya bayangan. Baginya, mereka semua adalah bagian dari kapal yang akan segera karam.Begitu sampai di ruangannya, Elena menutup pintu dan langsung menyalakan perangkatnya. Ada hal yang lebih penting dari sekedar memperdulikan mereka.Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa. Ia mulai menanamkan ‘hadiah perpisahan’, sebuah bom waktu digital yang ia susun dengan sangat rapi di dalam inti sistem opera
Di atas meja kayu yang dingin, sebuah dokumen legal terbentang. Elena menatap kolom tanda tangan itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan.Elena Wijaya.Tangannya bergerak, menggoreskan pena dengan tarikan garis yang tegas tanpa rasa ragu sedikitpun.Saat tinta itu mengering di atas kertas, secara hukum, pertunangannya dengan Raka Pratama bukan lagi sekadar retak, tapi telah hancur berkeping-keping."Selamat, Tuan dan Nyonya Adiguna. Kalian sekarang resmi menjadi suami istri," ucap petugas administrasi dengan nada datar, seolah baru saja menyelesaikan transaksi jual beli tanah.Elena menatap buku nikah di tangannya. Ia tidak pernah menyangka akan melangkah sejauh ini. Di kehidupan sebelumnya, ia memimpikan pernikahan mewah dengan gaun putih panjang dan senyuman bahagia di samping Raka. Namun kini, ia berdiri di sini, menikah dengan rival terbesar pria itu demi sebuah dendam.[Ini semua sudah benar, kan? Langkah ini pasti sudah benar, pasti…]Samuel, yang berdiri di sampingnya,
Mobil mewah Samuel meluncur membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, hampir mencekik. Elena menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, matanya kosong menatap aspal yang berlari cepat. Secara fisik, ia hanya diam membisu. Namun, di dalam kepalanya, badai sedang mengamuk.Samuel mencengkeram kemudi, mencoba untuk tetap fokus. Sejak mereka meninggalkan gedung tender, telinganya terus-menerus menangkap melodi kepedihan yang menyakitkan dari arah sampingnya.‘Bagaimana bisa aku mencintai iblis itu selama bertahun-tahun?’‘Aku memberikan segalanya, Raka... aku memberikan hidupku, dan kau membalasnya dengan rasa sakit?’‘Kau jahat… aku akan membalas semua rasa sakit yang kau berikan padaku.’Suara batin Elena pecah, terdengar seperti isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Setiap kata yang didengar olehnya, terasa menyayat hati.Samuel melirik Elena dari sudut matanya. Wanita itu tidak meneteskan air
Suasana di dalam ruang rapat utama sangat mencekam. Udara terasa dingin oleh pendingin ruangan, namun dahi Raka mulai berkeringat. Di depannya, layar besar menampilkan grafik penawaran dari berbagai perusahaan teknologi.Raka melirik Elena yang duduk tenang di sampingnya. "El, masukkan angka itu sekarang. Jangan sampai PHILATECH punya celah," bisiknya tajam.Elena menatap layar tabletnya. Tangannya bergerak lincah, namun otaknya bekerja jauh lebih cepat. Ini adalah momen yang ia tunggu. Di seberang meja, Samuel Adiguna duduk dengan posisi santai, menyesap kopinya tanpa beban. Samuel sesekali melirik Elena, menunggu gerakan yang dijanjikan wanita itu."Raka, jika kita ingin mengunci kemenangan, kita harus menaikkan tawaran di sektor utama sebesar 20%," bisik Elena dengan nada meyakinkan.“Apakah itu tidak berisiko? Bagaimana jika nilai kita terlalu tinggi?” Raka ragu sejenak. "Itu angka yang gila, El.""Aku melihat pergerakan PHILATECH, mereka mencoba menaikkan nilai sebanyak 30% untu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews