Cahaya putih itu bukan sekadar silau; ia adalah ledakan kehampaan yang menelan segala suara, rasa, dan waktu. Arga merasa tubuhnya tercabik-cabik, bukan oleh cakar monster, melainkan oleh gaya gravitasi yang berputar liar. Ia jatuh, namun tidak ke air, melainkan ke dalam ruang hampa yang dingin dan sunyi. Di tengah kegelapan itu, bisikan-bisikan aneh mulai menyerbu telinganya. Bukan satu atau dua suara, melainkan ribuan, bertumpuk menjadi satu dengungan yang memekakkan telinga."Kembalikan takhta...""Darahku... mengapa kau tinggalkan?""Dharmapala... bangun..."Nama itu. Dharmapala. Mengapa nama itu terasa begitu akrab, seolah-olah itu adalah nama yang dipanggilkan ibunya sejak ia dalam kandungan, meski ia yakin nama lahirnya adalah Arga Pratama, anak tunggal dari pasangan guru SD di Jakarta Selatan?"Arga! Bangun!"Suara itu tajam, menusuk kabut kesadaran yang menyelimutinya. Arga tersentak, napasnya meledak-ledak seolah ia baru saja ditenggelamkan selama satu jam. Ia terbatuk, memu
Last Updated : 2026-04-15 Read more