Home / Urban / Sang Maharaja yang Terlupa / Bab 5: Racun dalam Cangkir Kemenagan

Share

Bab 5: Racun dalam Cangkir Kemenagan

last update publish date: 2026-04-15 22:28:12

Cahaya putih dari Batu Sumpah masih berdenyut lembut, memantulkan bayangan-bayangan yang menari di wajah-wajah penduduk Lembah Kabut. Sorak-sorai kekaguman mulai bergema, menggantikan bisik-bisik curiga yang tadi memenuhi udara. Bagi mereka, ini adalah tanda ilahi, bukti nyata bahwa langit telah mengirimkan penyelamat di saat paling gelap.

"Maharaja! Maharaja!" teriak beberapa pemuda, suara mereka penuh harap yang selama ini terpendam.

Arga menarik tangannya dari batu. Cahaya di lengannya perlahan meredup, menyatu kembali dengan kulitnya, meninggalkan hanya tanda teratai yang kini tampak lebih hidup dan berwarna emas kemerahan. Ia menoleh ke arah Dewi, yang tersenyum lega, air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk matanya. Pak Prabu, tetua kampung itu, perlahan membungkuk dalam-dalam, sebuah sikap penghormatan tertinggi yang jarang ia berikan kepada siapa pun.

"Maafkan keraguan hamba, Gusti," ucap Pak Prabu dengan suara bergetar. "Batu Sumpah tidak pernah berbohong. Darah leluhur benar-benar mengalir dalam diri Tuan."

Namun, di tengah euforia itu, Arga tidak ikut tersenyum. Matanya terkunci pada satu titik: Radèn Rangga.

Prajurit muda itu tidak bersorak. Ia tidak membungkuk. Wajahnya datar, topeng kesetiaan yang retak memperlihatkan kebencian murni di balik sorot matanya. Tangan kanannya, yang tadi terlihat memberi isyarat rahasia, kini dengan santai bergerak menuju sebuah meja pendek di samping pilar, nơi seorang pelayan wanita sedang menyiapkan cangkir-cangkir minuman untuk upacara penyambutan.

Insting Arga berteriak. Racun.

Kata itu muncul di benaknya begitu jelas, seolah-olah ia bisa mencium aroma pahit almond dan logam yang samar tercampur dengan wangi bunga telon dari minuman tersebut. Ini bukan sekadar firasat; ini adalah pengetahuan yang tiba-tiba hadir, warisan memori Dharmapala yang mengenali pola kejahatan.

"Jangan ada yang minum!" teriak Arga tiba-tiba, suaranya lantang dan otoriter, memotong sorak-sorai yang sedang berlangsung.

Suasana hening seketika. Semua mata tertuju padanya lagi, kali ini dengan kebingungan.

"Apa maksudmu, Gusti?" tanya Pak Prabu, alisnya bertaut.

Arga melangkah maju, bukan mendekati tetua itu, melainkan langsung menuju Radèn Rangga yang sedang memegang sebuah cangkir tembaga berisi arak madu. "Cangkir itu. Jangan diminum oleh siapa pun."

Radèn Rangga tertawa kecil, tawa yang dipaksakan agar terdengar ringan. "Ah, Gusti Arga terlalu waspada. Ini hanya arak madu untuk merayakan kedatangan Tuan. Atau... apakah Tuan takut racun? Apakah hati Tuan sebenarnya tidak sebersih cahaya batu tadi?" Tuduhan itu dilontarkan dengan halus, dirancang untuk memicu keraguan kembali di hati rakyat.

Beberapa orang mulai bergumam. "Benar juga, kenapa dia panik?"

"Mungkin dia memang penipu?"

Dewi melangkah cepat, berdiri di samping Arga. "Kalian dengarkan dia! Jika Arga mengatakan ada bahaya, maka pasti ada bahaya. Aku mengenal Radèn Rangga sudah lama, dan aku tahu ada sesuatu yang salah dengan sikapnya hari ini."

"Sikapku?" Radèn Rangga menyeringai, topengnya semakin tipis. "Aku hanya ingin memastikan tamu kita tidak paranoid, Nyai Dewi. Lihat, akan kubuktikan bahwa ini hanya minuman biasa."

Dengan gerakan dramatis, Radèn Rangga mengangkat cangkir itu tinggi-tinggi, seolah hendak meminumnya di depan semua orang untuk membuktikan kemurniannya. Namun, sebelum bibirnya menyentuh tepi cangkir, Arga bergerak.

Kecepatan Arga kali ini bukan lagi refleks ketakutan, melainkan ketenangan seorang predator. Ia melesat maju, tangannya menyambar pergelangan tangan Radèn Rangga dengan cengkeraman besi, memaksa prajurit itu menjatuhkan cangkir tersebut.

Byur!

Cangkir tembaga itu jatuh ke lantai tanah, isinya tumpah membentuk genangan kecil. Saat cairan merah kecokelatan itu menyentuh tanah, reaksi yang mengerikan terjadi. Tanah di sekitar genangan itu mendesis, mengeluarkan asap putih tebal, dan rumput-rumput kecil di sekitarnya langsung layu dan menghitam dalam hitungan detik. Seekor semut yang tidak sengaja melewati genangan itu langsung kejang dan mati kaku.

Hening.

Keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya menyelimuti balai utama. Mata semua orang terbelalak ngeri. Mereka baru saja menyadari bahwa mereka hampir meneguk maut.

"Itu... racun Sura Wijaya," bisik Pak Prabu, wajahnya pucat pasi. "Racun yang bisa membunuh seekor gajah dalam tiga tarikan napas."

Semua pandangan kini beralih tajam ke Radèn Rangga. Senyum licik di wajah prajurit itu lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin dan putus asa. Ia tahu permainannya telah terbongkar.

"Kau..." desis Dewi, tangannya sudah menggenggam erat gagang kerisnya. "Kau pengkhianat itu."

Radèn Rangga tiba-tiba tertawa keras, tawa yang penuh kepahitan dan kegilaan. "Pengkhianat? Siapa yang kalian panggil pengkhianat? Aku? Atau kalian yang mengikuti bayangan masa lalu yang sudah mati? Kediri adalah masa depan! Sri Jayabaya akan menyatukan Nusantara dengan tangan besi jika perlu! Melawan mereka adalah bunuh diri! Aku hanya melakukan apa yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa kita semua dengan berdamu sebelum terlambat!"

"Dengan cara membunuh calon raja kita dan menjual sisa rakyat kita menjadi budak?" bentak Arga, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan. "Itu bukan damai, Rangga. Itu penyerahan diri."

"Lebih baik menjadi budak yang hidup daripada mayat yang bangga!" teriak Radèn Rangga.

Tiba-tiba, dengan kecepatan kilat, Radèn Rangga menghentakkan kakinya ke lantai. Sebuah mekanisme tersembunyi di bawah lantai balai aktif. Trapdoor atau pintu jebakan terbuka tepat di bawah kaki Arga dan Dewi.

"Hati-hati!" teriak Pak Prabu.

Arga dan Dewi jatuh ke dalam kegelapan lorong bawah tanah yang curam. Sebelum pintu jebakan tertutup sepenuhnya, Arga sempat melihat Radèn Rangga melompat keluar dari jendela samping balai, diikuti oleh tiga prajurit lain yang ternyata juga bagian dari komplotannya. Mereka lari menuju hutan lebat di pinggiran lembah.

"Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos!" teriak Pak Prabu pada para prajurit yang masih syok.

Di dalam lubang yang gelap itu, Arga dan Dewi mendarat dengan gulungan tubuh di atas tumpukan jerami kering yang disiapkan sebagai penyangga. Mereka selamat, meski sedikit terguncang.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Arga segera, memeriksa tubuh Dewi.

"Aku baik-baik saja," jawab Dewi cepat, meski napasnya tersengal. Matanya menyala marah. "Dia lolos. Radèn Rangga lolos membawa informasi penting tentang pertahanan lembah ini."

"Mereka akan memimpin pasukan Kediri menyerang malam ini juga," simpul Arga, otaknya bekerja cepat menganalisis situasi. "Rangga tahu jalur masuk rahasia, tahu jumlah prajurit kita, dan tahu lokasi gudang makanan."

Dewi mengangguk suram. "Jika Kediri menyerang malam ini, kita tidak akan siap. Moral rakyat baru saja hancur karena pengkhianatan ini. Mereka akan panik."

Arga berdiri, membersihkan debu dari pakaiannya. Ia menatap langit-langit lubang jebakan yang sekarang tertutup rapat. Di dalam kegelapan lorong bawah tanah ini, hanya ada cahaya redup dari tanda di lengannya yang menerangi wajah tegasnya.

"Mereka mungkin panik," kata Arga, suaranya tenang namun penuh keyakinan yang menggetarkan jiwa. "Tapi kita tidak. Pengkhianatan Rangga justru membuka mata kita. Kita tidak perlu menyembunyikan kekuatan kita lagi. Saatnya berhenti bersembunyi di lembah ini."

"Maksudmu?" tanya Dewi, menatap Arga dengan tatapan bertanya.

Arga mengulurkan tangannya, membantu Dewi berdiri. "Kita tidak akan menunggu mereka menyerang. Kita akan menjemput mereka. Kumpulkan semua prajurit yang setia, Pak Prabu!" teriaknya ke arah celah udara di atas, mengetahui suara mereka bisa terdengar samar-samar ke atas. "Beritahu semua penduduk: Maharaja Dharmapala memerintahkan mobilisasi total. Malam ini, kita tidak akan bertahan. Malam ini, kita akan mengajarkan pelajaran pertama bagi siapa saja yang berani mengkhianati tanah ibu pertiwi."

Dewi tersenyum, senyum yang penuh kebanggaan dan semangat perang. "Perintah diterima, Tuanku."

Dari atas, terdengar suara gaduh persiapan, teriakan perintah, dan dentingan senjata yang mulai dibersihkan. Suasana di Lembah Kabut berubah drastis dari kepanikan menjadi determinasi yang membara. Pengkhianatan Radèn Rangga, yang awalnya dimaksudkan untuk menghancurkan mereka, justru menjadi pemersatu terakhir yang dibutuhkan. Rasa takut telah berubah menjadi amarah suci.

Arga menatap tanda di lengannya yang kini bersinar terang, seolah merespons tekad bulatnya. Ia merasakan aliran energi dari tanah di bawah kakinya, dari dinding gua di sekelilingnya, dari setiap detak jantung rakyat yang mulai berkumpul di atas sana. Ia bukan lagi Arga yang tersesat. Ia adalah Dharmapala, sang pemersatu, dan perang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Mari kita naik," kata Arga, menunjuk tangga tali yang dilemparkan dari atas. "Malam ini, sejarah akan ditulis ulang dengan darah dan api. Dan kita akan memastikan tinta itu berwarna emas kemenangan, bukan hitam kekalahan."

Saat mereka memanjat keluar dari lubang, udara malam yang dingin menyambut mereka, membawa bau hujan yang akan segera turun. Di ufuk utara, kilatan petir menyambar, menerangi awan gelap yang bergulung-gulung, seolah alam sendiri sedang bersiap menyaksikan pertempuran dahsyat yang akan menentukan nasib Nusantara.

Dan di tengah kerumunan prajurit yang kini berbaris rapi menatapnya dengan penuh hormat dan kepercayaan, Arga menyadari satu hal: jalan pulang ke dunia modern mungkin masih tertutup, tapi jalan menuju takhta hatinya telah terbuka lebar. Ia siap menjadi raja yang mereka butuhkan, bukan raja yang ia duga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 100: Akar Beringin Merengkuh Keabadian

    Lima belas musim penghujan telah bergulir sejak malam Purnama Akar mengikat janji di bawah cahaya bulan. Di lereng selatan Lembah Mandala, Beringin Kembar yang dahulu hanya berupa tunas merah keunguan kini telah menjulang tinggi, dahan-dahannya yang kokoh merentang lebar bagaikan payung raksasa yang menaungi separuh bukit. Akar-akarnya yang sebesar paha orang dewasa telah merambat jauh, membelah batu-batu kapur tanpa menghancurkannya, memeluk tanah dan batu dalam sebuah pelukan yang tak terpisahkan. Di bawah rindangnya daun-daun beringin itu, desa tidak lagi dibatasi oleh tembok batu atau parit berduri. Gubuk-gubuk panggung dari bambu petung dan kayu jati berdiri harmonis di antara rumpun-rumpun bambu dan pohon buah, disatukan oleh jalan-jalan setapak yang dialasi oleh batu kali dan ditumbuhi rumput jepang yang lembut di sela-selanya. Suara dentingan palu pandai besi kini hanya terdengar untuk menempa mata cangkul dan lonceng angin, berpadu dengan gemericik air dari puluhan kincir bamb

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 99: Maharani Setara Memeluk Rahim Pertiwi

    Matahari pagi pasca-badai Angin Gending menyinari Lembah Mandala dengan cahaya keemasan yang hangat, menguapkan sisa-sisa embun yang bersembunyi di balik rerumputan yang rebah. Alun-alun desa tidak disapu bersih dari jejak badai, nor dialasi oleh karpet sutra atau tikar pandan yang kaku. Tanah di tengah perkemahan dibiarkan berlumpur, memamerkan bekas-bekas pijakan kaki para pemuda yang semalam bersusah payah menahan longsoran bumi. Di tengah hamparan lumpur yang mengering dan retak-retak itu, ribuan rakyat dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul dalam sebuah lingkaran raksasa. Mereka tidak berbaris berdasarkan kasta atau kekayaan, melainkan berdiri bahu-membahu; para nelayan yang kulitnya menghitam oleh garam laut berdampingan dengan para petani yang tangannya kasar oleh gagang cangkul, serta para mantan senopati yang kini telah menanggalkan baju zirah mereka demi mengenakan kain lurik tenun desa.Dari celah-celah akar beringin purba yang menjuntai, para tetua dari pulau

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 98: Akar Kembar Menahan Gending

    Tiga musim penghujan telah berganti sejak malam Purnama Akar mengikat janji di bawah cahaya bulan. Di lereng selatan, Benih Beringin Kembar yang dahulu hanya berupa tunas merah keunguan kini telah tumbuh setinggi dada orang dewasa, daun-daunnya yang lebar menaungi tanah di sekitarnya dengan rimbun. Akar-akarnya yang masih muda namun liat telah mulai merambat, membelah batu-batu kapur kecil tanpa menghancurkannya, persis seperti filosofi yang diajarkan oleh Sang Nitiswari. Namun, alam tidak selalu menguji anak-anaknya dengan musim yang ramah. Pagi itu, langit di ufuk barat tidak memancarkan cahaya keemasan, melainkan berubah menjadi warna tembaga yang memar dan pekat. Awan-awan megamendung bertumpuk tujuh lapis, menggelinding rendah menuruni punggung Gunung Wilis, membawa serta pertanda akan datangnya Angin Gending—badai muson yang mampu mencabut pohon jati berusia ratusan tahun dan mengubah sungai tenang menjadi naga air yang mengamuk.Tidak ada teriakan panik yang memecah

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 97: Asap Damar Menjaga Batas Rimba

    Musim penghujan telah berlalu, meninggalkan jejak berupa hamparan hijau yang membentang dari dasar lembah hingga ke punggung tebing kapur. Di lereng selatan, tanah yang dahulu hangus oleh napas api kini telah ditutupi oleh permadani rumput liar dan tunas-tunas bambu yang kokoh. Di tengah ladang tersebut, Benih Beringin Kembar yang ditanam oleh Ki Sepuh pada malam Purnama Akar kini telah memecahkan kulitnya, menumbuhkan sepasang tunas merah keunguan yang setinggi lutut orang dewasa. Setiap pagi, sang mantan maharaja yang kini berjubah kain goni itu selalu berlutut di samping tunas tersebut, mencabut gulma dengan jari-jarinya yang penuh kapalan, dan membasuhnya dengan air embun yang ia kumpulkan di dalam tempurung kelapa. Ia tidak pernah berbicara pada tunas itu, namun keheningannya adalah sebuah percakapan yang paling jujur dengan ibu pertiwi.Namun, kedamaian di ladang-ladang Nusantara yang baru ini bukanlah sebuah taman yang tertutup oleh kaca. Alam liar, yang selama ini t

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 96: Kenduri Akar Merajut Pagi

    Fajar di Lembah Mandala tidak menyingsing dengan teriakan mandor atau dentuman genderang penanda waktu kerja. Cahaya matahari pagi merayap perlahan menuruni tebing kapur, menguapkan embun yang bergelayut di ujung-ujung daun pisang yang telah dibentangkan memanjang menyerupai sungai hijau di tengah alun-alun. Pagi ini, tidak ada piring perak atau cawan emas yang disusun oleh para dayang yang gemetar. Sebagai gantinya, ratusan helai daun pisang segar dialasi oleh anyaman tikar pandan, menampung kekayaan rasa dari ribuan pulau yang semalam telah mengikat janji di bawah cahaya purnama. Aroma asap tungku yang membakar ikan, wanginya serai dan daun jeruk yang ditumbuk untuk bumbu, serta pedasnya rempah-rempah dari timur jauh berpadu menjadi satu napas yang menghidupkan perut-perut yang telah lama hanya mengenal rasa takut dan kelaparan. Para wanita dari desa penyangga dan para ibu yang datang bersama armada samudra kini duduk berjajar, mengaduk periuk-periuk tanah lia

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 95: Purnama Menenun Akar Pertiwi

    Malam purnama di Lembah Mandala tidak turun dari langit, melainkan seolah terbit dari perut bumi. Cahaya perak yang membasuh tebing-tebing kapur dan memantul di permukaan sawah yang tergenang air menciptakan ilusi bahwa lembah ini adalah sebuah mangkuk raksasa yang menampung cahaya bintang. Obor-obor yang menancap di sekeliling alun-alun tidak menggunakan minyak yang berbau tajam, melainkan getah damar dan lemak kemiri yang dibalut dengan serat pelepah pisang, memancarkan nyala api yang hangat, tenang, dan beraroma hutan. Tidak ada genderang perang yang ditabuh, tidak ada terompet kerang yang ditiup untuk menakut-nakuti musuh. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh suara gesekan kain, langkah kaki telanjang yang menapak di atas rumput basah, dan senandung rendah dari para ibu yang memangku anak-anak mereka di tepi tikar pandan. Dari balik rimbunnya pohon beringin purba, Dewi perlahan melangkah menuju tengah alun-alun. Ia tidak mengenakan mahkota emas yang

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 7: Hutan yang Bernapas

    Kabut di Lembah Kabut tidak sekadar uap air; ia adalah selimut hidup yang melindungi rahasia penduduknya. Namun, pagi itu, kabut terasa lebih berat, seolah menahan napas sebelum badai besar datang. Arga berdiri di atas tebing batu karang yang menjorok ke lembah, memandang hamparan hijau yang diseli

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 6: Api di Ujung Tongkat dan Bisikan Angin

    Hujan deras mengguyur Lembah Kabut, mengubah tanah yang sebelumnya kering menjadi lautan lumpur licin. Suara gemuruh petir menyamarkan bunyi palu yang menghantam besi, serta teriakan para prajurit yang sedang berlatih dengan semangat baru. Semalam, setelah pengkhianatan Radèn Rangga terbongkar, sua

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 4: Bisik Pengkhianat di Lembah Kabut

    Terowongan kristal itu seolah tidak berujung. Langkah kaki Arga dan Dewi bergema di dinding-dinding yang memantulkan cahaya biru pucat, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang berjalan di dalam perut seekor naga raksasa yang bersinar. Udara di sini semakin dingin, menusuk hingga ke tulang, namun tand

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 3: Tarian Besi dan Janji di Ujung Keris

    Udara di dalam ruang kubah itu seketika berubah menjadi padat, bergetar oleh teriakan perang yang memecah kesunyian ribuan tahun. Prajurit pertama, seorang manusia bertubuh raksasa dengan kulit berlumuran lumpur hitam, menerjang dengan pedang panjang yang mengilap ditimpa cahaya obor. Sasarannya bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status