Se connecterArga, seorang pemuda biasa dari Jakarta abad ke-21, terlempar secara misterius ke Nusantara era perang saudara antara Kerajaan Jenggala dan Kediri. Di tengah kekacauan, ia menyadari bahwa darahnya menyimpan warisan kerajaan kuno dan takdirnya sebagai Maharaja Dharmapala, sang pemersatu yang diramalkan akan menyatukan kembali pecahan bumi Nusantara. Dalam pelariannya dari pasukan Kadiri, Arga bertemu Dewi, wanita tangguh yang kelak menjadi Permaisuri Nitiswari sosok yang tidak hanya menyelamatkannya, tapi juga menyalakan api harapan di hatinya. Bersama, mereka menyusuri lorong-lorong rahasia, menghadapi penyihir terkutuk, mengungkap pengkhianatan, dan membangkitkan kekuatan darah raja yang tidur selama berabad-abad. Namun, jalan menuju takhta bukanlah jalan yang mulus. Pengkhianat bersembunyi di antara sekutu, musuh semakin dekat, dan Arga harus memilih: kembali ke dunia modern yang sunyi, atau tetap di sini, memimpin rakyat dengan hati, bahkan jika itu berarti kehilangan segalanya. Ini bukan sekadar kisah tentang raja yang terlupa. Ini adalah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian untuk bangkit dari abu kehancuran, demi masa depan yang lebih baik.
Voir plusBau amis darah dan abu gosong adalah hal pertama yang menyambut Arga saat kesadarannya kembali. Bukan aroma kopi pagi atau knalpot motor tetangga yang biasa ia cium di Jakarta, melainkan bau kematian yang begitu pekat hingga rasanya mencekik paru-paru.
Arga terbatuk, memuntahkan debu kasar dari tenggorokannya. Matanya terbuka paksa, disambut oleh pemandangan yang membuatnya lupa cara bernapas. Langit di atasnya tidak berwarna biru cerah seperti seharusnya, melainkan kemerahan, seolah-olah awan sedang dilumuri cat darah segar. Di sekelilingnya, bukan aspal jalanan atau trotoar kota, melainkan lumpur hitam pekat yang bercampur dengan potongan bambu runcing dan sisa-sisa kain mori yang sobek. “Di mana… ini?” suaranya serak, hilang ditelan deru angin yang membawa suara tangisan dan dentingan besi. Belum sempat otaknya memproses situasi, sebuah bayangan gelap melesat di depan wajahnya. Sret! Sebuah anak panah menancap tepat di batang pohon besar di samping kepalanya, getarannya masih terasa hingga ke tulang pipi Arga. Jantungnya berdegup kencang, seakan ingin melompat keluar dari dada. Ini bukan mimpi. Rasa sakit di lututnya yang lecet, dinginnya lumpur yang meresap ke celana jinnya yang kini kotor, dan ketakutan murni yang menggigilkan seluruh tubuhnya adalah nyata. “Lari, Bodoh! Kalau kau ingin hidup, lari!” Sebuah teriakan kasar memecah kebingungan Arga. Seorang pria berpakaian lusuh, dengan ikat kepala yang sudah longgar dan memegang tombak patah, menyeret lengan Arga dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Pria itu menyeretnya masuk ke dalam semak belukar yang lebat, tepat saat segerombolan prajurit bersenjata lengkap menerobos area terbuka tadi. Mereka mengenakan baju zirah kulit yang diperkuat tembaga, wajah-wajah mereka dicoret lumpur, dan mata mereka menyala dengan nafsu membunuh. Bahasa yang mereka teriakkan asing bagi telinga Arga, terdengar kasar dan purba, namun entah mengapa, ada gema aneh yang bergetar di dadanya saat mendengarnya. Seolah-olah DNA-nya mengenali suara itu, meski pikirannya menolak. Mereka merayap di dalam lumpur, perut menempel pada tanah basah. Arga bisa mencium bau keringat pria yang menyelamatkannya, bau takut yang sama dengan yang ia rasakan. “Siapa kau? Apa yang terjadi?” tanya Arga, suaranya bergetar. Pria itu menoleh sekilas, matanya tajam meski penuh kelelahan. “Aku Rakyan. Dan kau, pemuda aneh dengan pakaian warna-warni ini, sepertinya baru saja jatuh dari langit. Tapi kalau kau tidak ingin menjadi tumbal bagi pasukan Kadiri hari ini, tutup mulutmu dan ikuti gerakanku.” Kadiri. Kata itu menghantam Arga seperti palu godam. Ingatan sejarah SMA-nya yang samar mulai muncul. Kerajaan Kediri? Perang saudara? Tapi bagaimana mungkin? Ia baru saja berdiri di halte busway Blok M lima menit yang lalu, menunggu ojek online untuk pulang kantor. Sekarang, ia berada di tengah medan perang abad pertengahan? Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka bergetar. Bukan gempa, melainkan langkah kaki kuda. Banyak sekali. “Mereka mengepung,” bisik Rakyan, wajahnya pucat. “Kita terjebak di lembah ini. Tidak ada jalan keluar kecuali melewati sungai deras di utara, tapi arus sedang tinggi karena hujan semalam.” Arga menelan ludah. Ia melihat ke arah sungai yang dimaksud. Airnya cokelat keruh, berputar liar menghanyutkan batang-batang kayu besar. Mustahil dilewati tanpa perahu. Namun, di seberang sungai, di balik kabut tipis, terlihat siluet sebuah desa kecil yang masih utuh, dengan asap dapur yang mengepul tenang, kontras dengan neraka di tempat mereka berada. “Kita harus menyeberang,” kata Arga, lebih pada diri sendiri daripada pada Rakyan. Ada dorongan aneh di dalam dirinya, sebuah insting yang bukan miliknya. Seolah-olah tanah di bawah kakinya berbisik, memberitahunya bahwa keselamatan ada di seberang sana. Bahwa takdirnya menanti di sana. “Kau gila? Arus itu akan menghancurkan kita sebelum kita mencapai setengah jalan!” protes Rakyan. “Lebih baik mati mencoba daripada menunggu disembelih di sini,” balas Arga, matanya tiba-tiba berubah. Ada ketenangan aneh yang menyelimuti pandangannya, menggantikan kepanikan sesaat lalu. Ia berdiri, meski kakinya masih gemetar, dan menatap Rakyan dengan sorot mata yang membuat prajurit veteran itu terdiam. “Ikuti aku.” Mereka berlari menuju tebing curam di tepi sungai. Di bawah, air mengaum seperti binatang buas yang lapar. Prajurit musuh sudah semakin dekat; teriakan mereka terdengar jelas, disertai bunyi decitan roda kereta perang. “Ayo!” Arga tidak menunggu lagi. Ia melompat. Rasa jatuh bebas itu terasa seperti abadi. Angin menderu di telinga, mencabut napas dari paru-parunya. Kemudian, byur! Dinginnya air sungai menusuk hingga ke sumsum tulang. Arga terhempas ke dalam pusaran air, tubuhnya diputar-putar tanpa kendali. Ia kehilangan arah, atas dan bawah menjadi satu. Paru-parunya terbakar karena menahan napas. Dalam kegelapan air yang keruh, ia merasa kesadaran mulai memudar. Apakah ini akhirnya? Apakah hidupnya yang biasa-biasa saja di dunia modern harus berakhir dengan cara konyol seperti ini, tenggelam di sungai zaman dulu? Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Bukan batu, melainkan akar pohon raksasa yang menjulur dari tebing. Dengan sisa tenaga terakhir, Arga mencengkeram akar itu erat-erat. Kakinya menendang-nendang mencari pijakan hingga akhirnya berhasil mengaitkan tumitnya pada celah batu di dasar sungai. Dengan napas tersengal-sengal, ia menarik tubuhnya keluar dari permukaan air, menyeret diri ke sebuah daratan kecil di tengah sungai yang terbentuk dari tumpukan batang kayu tersangkut. Di sana, ia terkapar, batuk-batuk memuntahkan air, tubuhnya menggigil kedinginan. “Rakyan?” panggilnya lemah. Tidak ada jawaban. Hanya suara gemuruh air. Hati Arga mencelos. Apakah pria itu tewas terbawa arus? Rasa bersalah mulai merayap di dadanya. Tiba-tiba, dari arah hulu, sebuah perahu kecil terbuat dari anyaman bambu muncul, diterjang ombak dengan lincah. Di atas perahu itu, berdiri seorang wanita. Wanita itu bukan sekadar cantik; ia memancarkan aura kewibawaan yang membuat Arga terpaku. Rambutnya yang hitam legam terurai sebagian, diikat sederhana dengan tali rotan, sementara sebagian lainnya basah kuyup terkena cipratan air. Ia mengenakan baju kebaya pendek yang sudah sobek di beberapa bagian, memperlihatkan luka gores di lengan, namun posturnya tegak bagai pedang yang siap menusuk. Matanya, tajam dan berwarna cokelat tua, menyapu area sekitar dengan cepat sebelum akhirnya tertuju pada Arga. “Pegang tali ini!” teriak wanita itu, suaranya lantang, menembus deru air. Ia melemparkan seutas tali tambang yang ujungnya diikat simpul kuat. Arga menangkap tali itu dengan refleks. Wanita itu tidak langsung menarik; ia menunggu sampai Arga memegang erat, lalu dengan gerakan tubuh yang luwes dan bertenaga, ia mendayung perahunya mendekati daratan kecil itu, melawan arus yang seolah ingin menelan mereka bulat-bulat. Begitu perahu cukup dekat, wanita itu ulurkan tangan. “Cepat! Sebelum pasukan Kadiri sampai di tepian!” Arga meraih tangan wanita itu. Sentuhan kulit mereka bertemu, dan saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah sensasi hangat mengalir dari telapak tangan wanita itu ke seluruh tubuh Arga, seolah-olah ada aliran energi yang menyambungkan jiwa mereka sejenak. Rasa dingin yang menusuk tulang seketika reda, digantikan oleh keberanian yang membara. Mata mereka bertemu. Dalam detik itu, dunia di sekitar mereka—air yang bergemuruh, teriakan musuh di kejauhan, rasa sakit di sekujur tubuh—seolah menghilang. Hanya ada mereka berdua, dua jiwa yang tersesat di tengah badai waktu, saling mengenali tanpa pernah bertemu sebelumnya. “Siapa kau?” tanya Arga, napasnya masih berat, namun matanya tidak lepas dari wajah wanita itu. Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang penuh misteri dan keteguhan. “Namaku Dewi. Dan jika kau ingin hidup untuk menjawab pertanyaan itu nanti, naiklah ke perahu sekarang juga!” Arga menarik tubuhnya naik, dibantu oleh kekuatan luar biasa dari wanita bernama Dewi itu. Begitu ia duduk di dasar perahu yang goyah, Dewi segera mengambil dayung dan mengayuhnya dengan ritme cepat dan teratur, membawa perahu mereka menyusuri celah-celah batu yang berbahaya, menjauh dari kejaran prajurit yang kini sudah memenuhi tepian sungai di tempat mereka jatuh tadi. Panah-panah mulai berhamburan, menancap di air di sekitar perahu mereka, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil di permukaan sungai yang keruh. Salah satu anak panah bahkan nyaris mengenai bahu Arga, hanya meleset beberapa senti. “Mereka tidak akan berhenti sampai kita mati,” gumam Dewi, matanya fokus ke depan, tangan-tangannya bekerja dengan presisi mesin. “Kau beruntung aku sedang memeriksa jaring ikan di hilir. Satu menit lebih lambat, dan kau sudah menjadi makanan ikan atau tumbal perang.” Arga menatap punggung wanita itu. Siapa dia sebenarnya? Mengapa ia berada di tengah zona perang sendirian? Dan yang paling penting, mengapa Arga merasa bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan? Rasanya seperti potongan puzzle yang selama ini hilang dalam dirinya, akhirnya ditemukan. Perahu mereka terus melaju, memasuki wilayah kabut yang semakin tebal. Suara kejaran di belakang mulai memudar, digantikan oleh kesunyian hutan yang mencekam. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari dalam kabut tebal di depan mereka, perlahan-lahan muncul sosok-sosok bayangan. Bukan prajurit Kadiri, melainkan sesuatu yang lebih mengerikan. Ratusan mata merah menyala muncul dari kegelapan hutan di kedua sisi sungai, mengikuti pergerakan perahu mereka. Suara geraman rendah terdengar, membuat bulu kuduk Arga berdiri tegak. Dewi menghentikan dayungnya sejenak, wajahnya menegang. “Oh tidak,” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. “Kita salah jurusan. Ini wilayah Terlarang.” Arga menatap ke depan, jantungnya kembali berdegup kencang. Di antara pepohonan raksasa yang tertutup lumut, sebuah gerbang batu kuno yang retak mulai terlihat samar. Di atas gerbang itu, terukir simbol yang sama persis dengan tanda lahir di lengan kanan Arga yang baru saja ia sadari keberadaannya sejak ia terbangun di dunia ini. Simbol itu mulai berpendar redup, bereaksi terhadap kehadiran mereka. “Arga,” kata Dewi, menoleh padanya dengan tatapan serius yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Kau tidak sengaja terlempar ke sini, bukan? Tanah ini… ia memanggil darahmu.” Sebelum Arga sempat bertanya apa maksudnya, gerbang batu di depan mereka runtuh dengan suara gemuruh yang menggetarkan bumi. Dari balik reruntuhan itu, muncul sesosok figur tinggi besar, mengenakan jubah hitam compang-camping dan memegang tongkat bertanduk tiga. Wajahnya tertutup topeng emas yang menyeramkan, dan saat ia mengangkat tangannya, ribuan kunang-kunang api terbang mengelilinginya, membentuk formasi serangan. Figur itu menunjuk langsung ke arah Arga, dan suaranya yang dalam dan bergema terdengar di seluruh lembah, seolah berasal dari segala arah sekaligus. “Ahli waris yang terlupa… akhirnya kau pulang untuk mati.” Dewi segera mengambil posisi defensif, melindungi Arga dengan tubuhnya, sementara perahu mereka terombang-ambing di tengah sungai yang tiba-tiba menjadi tenang secara tidak wajar. Arga menatap sosok misterius itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kemarahan yang bukan miliknya bangkit dari kedalaman jiwanya. Darahnya mendidih. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya mulai berkedip di kepalanya seperti film rusak. Siapa sebenarnya Arga? Dan mengapa raja iblis di depannya mengenalinya? Gelombang kejut besar tiba-tiba meledak dari tongkat sosok itu, mengarah lurus ke perahu mereka. Dewi berteriak, “Bertahan!” Dan saat gelombang itu menghantam, segalanya menjadi putih.Hujan deras mengubah jalan tanah menuju Desa Muara menjadi kubangan lumpur licin yang menyulitkan laju kuda. Namun, Arga tidak memperlambat langkahnya. Kuda tunggangannya, seekor stallion hitam bernama Bara, melompat mengatasi genangan air dengan kekuatan penuh, dipacu oleh desakan hati tuannya yang hampir meledak karena kecemasan. Di belakangnya, lima prajurit elit Laksamana Wira berusaha mengikuti sekuat tenaga, wajah-wajah mereka tertutup helm besi untuk melindungi dari cipratan lumpur dan hujan.Arga bisa merasakannya. Bukan hanya ketakutan, tapi juga sebuah "kekosongan" aneh yang menjalar dari arah desa. Udara di sana terasa hampa, seolah-olah nyawa ratusan penduduk telah disedot keluar, meninggalkan cangkang kosong yang diisi oleh sesuatu yang asing dan dingin. Tanda teratai di lengannya berdenyut nyeri, bereaksi terhadap konsentrasi energi negatif yang padat di depan sana."Mereka sudah dekat!" teriak salah satu prajurit, menunjuk ke depan.Melalui tirai hujan yang tebal, silue
Fajar menyingsing di Lembah Kabut dengan warna yang suram. Langit tidak berwarna jingga cerah seperti biasanya, melainkan abu-abu pekat, seolah-olah awan enggan memberi ruang bagi cahaya matahari. Udara pagi itu dingin dan lembap, membawa sisa-sisa bau asap dari obor-obor pemurnian yang masih menyala redup di sekeliling perkemahan.Arga duduk bersila di tepi sebuah batu besar yang menghadap ke jurang dalam. Matanya tertutup, napasnya teratur, namun keringat dingin membasahi dahinya. Di hadapannya, Eyang Surya sedang membakar sekumpulan dedaunan kering dalam sebuah mangkuk tanah liat. Asap putih tebal naik melingkar, membentuk pola-pola rumit sebelum menghilang tertiup angin."Tarik napas dalam-dalam, Gusti," instruksi Eyang Surya dengan suara rendah dan berwibawa. "Biarkan asap ini masuk ke paru-parumu. Ia akan membersihkan 'jejak' sihir hitam yang menempel pada auramu. Tapi ingat, proses ini akan menyakitkan."Arga mengangguk pelan. Ia menarik napas, dan seketika rasa panas menjalar
Asap hitam pekat masih mengepul dari kawah kecil bekas ledakan bola api, mencampur bau belerang dengan aroma daging terbakar yang menyengat hidung. Hutan Akar Gantung, yang tadi pagi terasa seperti sekutu yang hidup, kini berubah menjadi kuburan sunyi yang mencekam. Jeritan prajurit Kediri yang terperangkap di rawa telah mereda, digantikan oleh rintihan kesakitan dan tangisan tawanan yang mulai diikat oleh pasukan Jenggala.Arga duduk bersandar pada batang pohon raksasa, napasnya tersengal-sengal. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, menodai tanah lumpur di bawahnya. Rasa sakit di tulang rusuknya bukan sekadar memar; ada sensasi panas yang menjalar ke dalam, seolah-olah sisa sihir api itu masih menggerogoti jaringan tubuhnya. Tanda teratai di lengan kanannya berdenyut nyeri, cahayanya redup dan berkedip-kedip tidak stabil, seperti lilin yang hampir padam ditiup angin kencang."Arga!"Suara Dewi terdengar panik, diikuti oleh derap kaki berat Laksamana Wira dan beberapa prajurit eli
Kabut di Lembah Kabut tidak sekadar uap air; ia adalah selimut hidup yang melindungi rahasia penduduknya. Namun, pagi itu, kabut terasa lebih berat, seolah menahan napas sebelum badai besar datang. Arga berdiri di atas tebing batu karang yang menjorok ke lembah, memandang hamparan hijau yang diselimuti putih susu. Di sampingnya, Dewi dan Laksamana Wira sedang membentangkan peta kulit binatang tua di atas batu datar, menandai posisi dengan kerikil kecil."Jenderal Baya Aji dikenal karena kekejamannya, tapi juga kesombongannya," ujar Wira, jarinya yang kasar menekan sebuah titik di peta. "Dia akan membawa pasukan utama melalui Jalur Naga, celah sempit di sebelah timur lembah. Itu jalur tercepat, tapi paling berbahaya jika kita menyiapkan jebakan."Dewi menggeleng, matanya menyipit saat menatap peta. "Itu terlalu jelas. Baya Aji bukan orang bodoh. Dia tahu kita akan mengantisipasi serangan dari timur. Lihat sini," ia menunjuk ke arah barat laut, area yang ditandai dengan gambar pohon-poh












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.