"Uuuggh, kenapa kepalaku pusing sekali? Rasanya mau pecah." Luna meringis pelan sambil menyipitkan matanya yang terasa berat. Kepalanya berdenyut hebat seperti dipukul berkali-kali tanpa ampun. Dengan susah payah ia bangkit dari posisi tidurnya, lalu memegangi dahinya sambil mengerang lirih. Beberapa detik kemudian, Luna menyadari kalau dirinya berada di kamar Nathan. Selimut abu gelap yang menutupi tubuhnya masih rapi, sementara aroma khas ruangan pria itu memenuhi indra penciumannya. Belum sempat Luna mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam, pintu kamar terbuka perlahan. Nathan masuk sambil membawa segelas susu hangat di tangannya. Kali ini pria itu tidak memakai eyepatch yang biasanya menutupi mata kanannya. Mata putih pucat itu terlihat jelas di wajah tampannya, tetapi anehnya justru membuat Nathan terlihat semakin misterius. "Kamu sudah bangun rupanya," ucap Nathan santai sambil berjalan mendekat. Luna menatapnya dengan polos, dia masih sedikit linglung, "Apa yan
Baca selengkapnya