Malam itu, kota belum benar-benar sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke aspal yang sedikit basah, sementara udara terasa lebih dingin dari biasanya, sampai-sampai saya harus sedikit memeluk badan biar nggak kedinginan. Di salah satu sisi jalan dekat kantor PT James Cipta Mandiri, Laras berdiri sendirian di depan gerbang, memegang tasnya erat-erat sambil sesekali melirik layar ponselnya, berharap ada kabar atau kendaraan yang segera datang. Ia sedang menunggu kendaraan, ya, itu saja yang bisa ia lakukan saat itu. Hari itu terasa benar-benar melelahkan, rasanya kaki dan kepala mau copot semua. Meeting berlanjut terus sampai sore, pekerjaan numpuk di meja seolah nggak ada habisnya, dan pikirannya sempat melayang kembali ke pertemuannya dengan Rey di café tadi siang. Tawaran yang disampaikan Rey itu masih terngiang jelas di telinga, meskipun ia sudah menolaknya dengan halus dan sopan. Namun sebenarnya, bukan hal itu yang membuat hatinya gelisah dan nggak karu
閱讀更多