LOGINCinta yang di mulai dengan kesalah pahaman yang berubah menjadi cinta sejati yang tak pernah di sangka2 seorang gadis desa bisa dicintai secara ugal-ugalan oleh sang CEO
View MorePesta yang penuh kemewahan, kehangatan, dan perhatian luar biasa itu akhirnya pun berakhir. Para tamu satu per satu mulai berpamitan dan pulang, meninggalkan ruangan yang tadinya riuh penuh tawa dan percakapan, perlahan menjadi sepi kembali. Laras pun akhirnya diantar pulang oleh James dengan penuh kehati-hatian, hatinya masih terasa hangat dan dipenuhi perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam yang begitu indah itu ternyata justru menjadi pemicu semakin membakar api kebencian di hati dua wanita yang diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Tak lama setelah pesta usai, tepat keesokan harinya, Felly dan Ina sepakat untuk bertemu di sebuah kafe tenang yang letaknya agak terpencil, jauh dari pusat keramaian agar pembicaraan mereka tidak diketahui oleh siapa pun. Tempat itu dipilih dengan sangat hati-hati—suasananya sepi, dikelilingi tanaman hijau, dan tidak ada orang asing yang bisa menguping apa yang akan mereka bicarakan. Begitu duduk
Sejak Laras melangkah turun dan menginjakkan kakinya di lantai dasar ruangan pesta itu, tak pernah sekalipun tatapan kedua pria itu terlepas darinya. Baik James maupun Niko seolah lupa akan keberadaan orang lain di sekeliling mereka—seluruh perhatian, seluruh pikiran, hingga setiap gerak mata mereka sepenuhnya tercurah hanya untuk Laras. Persaingan diam-diam di antara keduanya semakin terasa nyata, bukan lagi sekadar terlihat dari tatapan tajam yang saling bertaut, melainkan mulai tampak nyata lewat perbuatan-perbuatan penuh perhatian yang terus-menerus mereka tunjukkan, seolah berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling sanggup melindungi, merawat, dan membuat wanita itu merasa menjadi orang paling istimewa malam ini. Tak lama setelah Laras duduk di salah satu meja yang telah disediakan, Niko lah yang pertama kali bergerak mendahului. Dengan langkah tenang namun cepat, ia berjalan menuju meja prasmanan yang dipenuhi beragam hidangan mewah—mulai dari hidangan pembuka yang
Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya pun tiba. Suasana di dalam gedung hotel bintang lima tempat pesta berlangsung sudah terasa begitu meriah dan megah. Lampu gantung kristal yang besar berkilau memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan, musik orkestra yang lembut mengalun pelan mengisi keheningan, dan aroma bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan menciptakan suasana yang sungguh istimewa. Hampir seluruh tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha ternama, pejabat tinggi, serta tokoh masyarakat sudah hadir dan berbaur satu sama lain, saling menyapa, bercengkerama, atau sekadar menikmati jamuan yang tersaji. Hanya tersisa beberapa orang yang belum tiba, sehingga semua orang masih menanti dengan penuh rasa penasaran. Sementara itu, di salah satu kamar mewah di lantai atas gedung itu, Laras sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersiap-siap. Sejak pagi tadi, ia sudah menata segalanya dengan sangat teliti, tanpa meninggalkan satu pun celah
Setelah rangkaian acara presentasi berakhir dan semua peserta mulai bersiap untuk pulang, panitia acara membagikan sebuah amplop elegan berwarna emas kepada setiap perwakilan perusahaan dan tamu penting yang hadir hari itu. Amplop itu terlihat mewah dengan logo perusahaan penyelenggara tercetak indah di bagian depannya. Laras menerima amplop itu dengan rasa penasaran, lalu membukanya perlahan. Ternyata isinya adalah undangan resmi untuk menghadiri pesta makan malam dan jamuan kehormatan yang akan diadakan dua hari ke depan. Pesta tersebut diselenggarakan oleh salah satu pengusaha ternama yang juga menjadi penasihat dalam proyek besar ini, sebagai bentuk apresiasi bagi semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi. Dalam tulisan undangan disebutkan bahwa acara ini akan diadakan di salah satu hotel bintang lima paling megah di kota, dengan dress code black tie yang sangat formal dan eksklusif. Laras membaca tulisan itu berulang kali, menyadari bahwa ini b
"Benar-benar cucu kandung, Bok?" tanya Niko lagi, kali ini suaranya sedikit lebih menekan, tatapan matanya tajam menyelidik. "Maaf ya Bok kalau saya bertanya begini. Tapi jujur saja... Laras itu cantiknya bukan main. Kulitnya putih, wajahnya halus, sopan santunnya juga begitu terawat. Terlalu...
Gadis itu, Laras Wati, sedikit bingung melihat tamu kota yang tampan dan gagah itu hanya diam menatapnya tanpa berkedip. Pipinya sedikit memerah karena malu diperhatikan sedemikian rupa, membuatnya terlihat semakin manis dan menggoda. "Pa?" panggilnya sekali lagi pelan, matanya berkedip
Langit malam itu begitu indah. Hembusan angin malam yang sejuk berhembus pelan, membelai dedaunan dan membawa aroma tanah basah serta wangi bunga-bunga liar yang tumbuh di sekeliling area tanah luas itu. Tidak ada polusi cahaya seperti di kota, membuat bintang-bintang di angkasa tampak berkelap-k
Di sebuah desankecil yang dikelilingi oleh hutan lebat dan bukit hijau, di tengah tengah ada lahan kosong yang ditinggalkan oleh waktu. Di sana, Niko berdiri yang sedari tadi ia pandangi pemandangan yang familiar namun penuh misteri. Lahan ini adalah tempat kelahirannya, sebuah kawasan yang dipenuh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.