Keesokan paginyaHelena terbangun lebih awal dari biasanya. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamar, menerangi ruangan dengan cahaya hangat. Debu-debu kecil beterbangan di udara, kelihatan jelas di sela cahaya.[Bos, apakah kau gugup?] "Sangat gugup." Ryo mengangguk lesu. [Aku juga.]Tak lama kemudian, Dayang Clara datang menjemput Helena menuju taman istana. Langkah Helena terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkah di koridor marmer terdengar menggema.Taman kerajaan di pagi hari terlihat sangat indah. Udara pagi sejuk dan segar, tapi tidak cukup untuk meredakan keringat dingin di telapak tangan Helena. Di tengah taman, Ratu Elara telah duduk di sebuah paviliun terbuka dengan meja kecil di hadapannya. "Salam hormat, Yang Mulia.""Selamat pagi, Nona Helena. Duduklah." Nada Ratu datar. Helena duduk dengan tenang. Punggungnya tegak, tapi lututnya bergetar di bawah meja.Beberapa saat, hanya suara burung dan desir angin yang terdengar. Jantung Helena terdengar lebih ke
続きを読む