Tangan besar Arseny tidak hanya diam di pipi Elara, pria itu membelainya pelan seakan ia adalah benda yang mudah tergores. “Kau yakin, Lara?”Elara mengangguk mantap, ia tidak ingin terlihat ada keraguan di matanya. Bahkan Elara berani menyentuh tangan Don di pipinya. Sudut bibir Arseny berkedut samar, ia terus maju, tetapi Elara tidak sekalipun mundur untuk menghindar. Tatapan terkunci pada manik abu-abu yang tajam dan dingin itu. Hingga suara berdebum membuatnya sedikit tersentak—Arseny menutup pintu menggunakan ujung tumitnya.“Tatap aku, Elara!” Kini dengan kedua tangannya, Arseny merangkum pipi dingin wanita itu, memaksanya mendongak. “Apa kau tahu bagaimana membuat anak, hm?”Seketika tenggorokan Elara terasa kering, meskipun tunawicara. Ia tidak sanggup mengatakan apa pun, hati dan pikirannya membeku.“Lara,” bisik Sang Don tepat di telinganya.Elara hendak mengangguk, tetapi Arseny sudah lebih dulu mencium bibirnya. Bukan sekadar menempel, pria itu melumatnya. Bibirnya yang t
最後更新 : 2026-05-04 閱讀更多