“Gaunnya sangat cantik, ini warna kesukaanku,” gumam Elara dalam hati. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mencoba berkomunikasi. “Terima kasih, Viktor.”“Ya, tentu, Nona Elara,” Viktor menyahut ramah dan diam-diam memperhatikan wajah Elara yang memerah serta kuku-kukunya yang kotor, meskipun wanita itu terlihat baru saja selesai mandi.Elara tercekat, matanya membelalak tak percaya, karena barusan ia tak mengeja kata, hanya isyarat saja. “Kau mengerti bahasa isyarat?” “Ya, Nona. Ibuku penyandang tunawicara, jadi say mengerti setiap kata yang Anda sampaikan. Saya permisi.” Viktor tergesa berpamitan.Elara menutup pintu dan memeluk gaun itu erat-erat. Ada kehangatan asing yang menjalar di dada.Sedangkan tanpa Elara tahu, Viktor melangkah mantap menuju ruang kerja Arseny di lantai empat. Dalam ruangan yang dipenuhi aroma tembakau itu, sang Don tengah mengisap cerutu sambil memeriksa laporan bisnisnya.“Bagaimana?” tanya Arseny tanpa mengalihkan pandangan.“Nona Elara menyukai gaun
آخر تحديث : 2026-05-09 اقرأ المزيد