Keesokan paginya, kabut tipis masih menggantung di sekitar area rumah tua itu. Garis polisi sudah terpasang, membentang di antara pepohonan dan pagar yang hampir roboh. Beberapa warga berdiri jauh di luar batas, berbisik pelan, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. mereka bicara dari mulut ke mulut. Meskipun tidak saling mengenal, tapi mereka seolah saling kenal satu sama lain saat membicarakan kejadian yang ada di depan mereka. Dan semakin banyak saja yang berdatangan untuk menyaksikannya. Di tanah yang masih lembap oleh embun, tubuh Hilmi itu terbaring. Petugas forensik bekerja dalam diam, mendokumentasikan setiap detail. Luka tembak di dadanya terlihat jelas, yaitu bekas peluru yang menembus tanpa ampun. Tidak ada tanda perlawanan berarti, hanya jejak kaki yang berantakan di sekitar lokasi, menunjukkan bahwa semalam, sesuatu yang kacau telah terjadi. “Korban laki-laki, usia sekitar empat puluhan,” kata salah satu petugas sambil mencatat. Tidak ada yang mengenali wajah Hi
最後更新 : 2026-05-19 閱讀更多