157Mapas Camelia tersengal, dadanya naik turun dengan cepat seiring detak jantung yang masih bertalu-talu dengan liar. Tubuhnya terasa lemas, seolah setiap tulang di tubuhnya telah meleleh di atas seprai yang kini berantakan. Keringat membasahi kening dan lehernya, memberikan kilau halus di bawah remang-remang cahaya kamar. Namun, meskipun otot-ototnya memprotes karena kelelahan, ada binar lapar di matanya yang tidak bisa disembunyikan.Calvin menarik diri perlahan, menyisir rambut basahnya dengan tangan saat ia menatap istrinya dengan pandangan yang masih menggelap oleh gairah. Ia bisa melihat bagaimana Camelia menggigit bibir bawahnya, sebuah kode yang sangat ia pahami."Lemas, hm?" goda Calvin dengan suara bariton yang serak. Ia merangkak mendekat, mencium bahu Camelia yang terekspos.Camelia terkekeh pelan, suaranya terdengar kering. "Jujur, aku sangat lemas. Tapi... entah mengapa, aku merasa dua tahun ini tidak akan cukup jika hanya dibayar dengan satu atau dua ronde."Calvin me
Mehr lesen