Layar ponsel menghitam, namun sisa kehangatan dari tawa anak-anaknya masih tertinggal di dada Camelia. Rasa tenang yang utuh merayap naik, menggantikan ruang kosong di hatinya. Mereka bahagia, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan di sini. *Cklek.* Suara pintu yang terbuka kembali terdengar, kali ini diikuti oleh deru langkah kaki yang sangat ia kenali—berat, tegas, namun selalu melunak setiap kali mendekatinya. Camelia menoleh dengan cepat. Calvin berdiri di sana. Jas abu tuanya masih terpasang sempurna, tetapi dasinya sudah sedikit dilonggarkan, dan gurat kelelahan tercetak jelas di pelipisnya. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok Camelia yang terduduk di sofa, seluruh beban di wajah pria itu runtuh seketika, digantikan oleh binar kelegaan yang masif. "Sudah sangat lama menunggu, ya?" tanya Calvin, suaranya serak bergetar saat ia melangkah lebar mendekati sofa. Camelia melipat tangannya di dada, menaikkan alisnya dengan lagak menginterogasi. "Lumayan.
อ่านเพิ่มเติม