Di atas kertas, tertulis tulisan tangan Syifa yang rapi dan indah. Seolah-olah, dia sendiri yang berdiri di hadapan Rendy dan menjelaskan alasan kepergiannya dengan tenang.[ Rendy, waktu kamu baca surat ini, aku sudah pergi. Aku sendiri nggak tahu ke mana aku akan pergi, tapi kamu nggak akan menemukanku. Soal kenapa aku pergi, alasannya sederhana, aku nggak ingin menunggu lagi. ][ Awalnya kamu bilang hanya akan punya anak dengannya lalu pergi, aku percaya. Tapi setelah putrimu lahir, kamu bilang dia terlalu kesepian. Dia ingin punya anak laki-laki untuk menemaninya, setelah itu baru kita pergi. Aku juga percaya. ][ Sekarang kamu malah bilang akan menikah dengannya, agar anakmu tahu bahwa kamu dan ibunya pernah bersama, pernah saling mencintai. Aku nggak mengerti, aku harus menunggumu sampai kapan baru kamu mau membawaku pergi? ][ Apa suatu hari nanti kamu juga akan menyuruhku menunggu sampai anak-anakmu dewasa, menikah, punya anak, atau bahkan sampai kamu menemaninya sampai tua, ba
Read more