Short
Drama Cinta Putra Mahkota Dan Penjual Ikan

Drama Cinta Putra Mahkota Dan Penjual Ikan

By:  LuluCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
2.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aturan leluhur Keluarga Arkasa menyatakan bahwa pewaris tidak boleh menikahi wanita dari kalangan rendah. Namun, putra mahkota kalangan elite ibu kota, Rendy Arkasa, malah jatuh cinta pada Syifa, seorang penjual ikan! Demi bisa bersama dengannya, Rendy melepaskan hak warisnya dan menerima 99 cambukan hukuman keluarga. Dia berlutut di aula leluhur selama tiga hari tiga malam, hingga darah meresap membasahi kemejanya. Namun, dia masih tersenyum dan berkata pada Syifa, "Syifa, jangan takut. Aku cuma mau sama kamu." Belakangan, Keluarga Arkasa akhirnya melunak. Mereka mengizinkan Rendy pergi jauh bersama Syifa, tetapi dengan syarat harus meninggalkan keturunan bagi keluarga. Sejak saat itu, kalimat yang paling sering diucapkan Rendy kepada Syifa adalah, "Tunggu." Untuk pertama kalinya, dia meminta Syifa menunggu. Menunggu sampai wanita lain mengandung anaknya ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Aturan leluhur Keluarga Arkasa menyatakan bahwa pewaris tidak boleh menikahi wanita dari kalangan rendah. Namun, putra mahkota kalangan elite ibu kota, Rendy Arkasa, malah jatuh cinta pada Syifa, seorang penjual ikan!

Demi bisa bersama dengannya, Rendy melepaskan hak warisnya dan menerima 99 cambukan hukuman keluarga. Dia berlutut di aula leluhur selama tiga hari tiga malam, hingga darah meresap membasahi kemejanya. Namun, dia masih tersenyum dan berkata pada Syifa, "Syifa, jangan takut. Aku cuma mau sama kamu."

Belakangan, Keluarga Arkasa akhirnya melunak. Mereka mengizinkan Rendy pergi jauh bersama Syifa, tetapi dengan syarat harus meninggalkan keturunan bagi keluarga. Sejak saat itu, kalimat yang paling sering diucapkan Rendy kepada Syifa adalah, "Tunggu."

Untuk pertama kalinya, dia meminta Syifa menunggu. Menunggu sampai wanita lain mengandung anaknya. Lalu, dia tidur dengan Nayla sebanyak 33 kali, sampai wanita itu mengandung anaknya.

Kedua kalinya, Rendy menyuruhnya menunggu lagi. Berhubung janin itu adalah perempuan, sedangkan Keluarga Arkasa menginginkan anak laki-laki. Maka, dia kembali tidur dengan Nayla sebanyak 99 kali, sampai wanita itu hamil lagi.

Saat Syifa mengira akhirnya penderitaan ini akan berakhir, putri Rendy dan Nayla yang baru saja mengadakan pesta 100 hari tiba-tiba demam tinggi dan muntah darah. Semua orang langsung menuduh Syifa sebagai pelakunya.

Nayla menerjang ke arah Syifa seperti orang yang kehilangan akal. Kukunya mencakar wajah Syifa hingga robek sambil berteriak histeris, "Kalau kamu mau benci, bencilah aku! Kenapa harus menyakiti anakku?!"

Orang tua Rendy murka, "Ini cucu pertama kami, kamu berani-beraninya berbuat kejam seperti ini!"

Saat Syifa ditelanjangi dan dilempar ke dalam ruang pendingin bersuhu minus 20 derajat, Rendy berdiri tepat di luar pintu.

Melalui kaca yang membeku, dia melihat tangan Rendy yang memegang rokok bergetar. Namun, mata yang dulu dipenuhi tatapan cinta itu kini hanya menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

"Sudah kubilang, tunggu lagi." Dia mematikan puntung rokoknya, lalu berkata dengan penuh kekecewaan, "Kenapa kamu sentuh anakku?"

Betapa ironisnya ... anaknya.

Syifa membungkuk kesakitan, seolah jantungnya dirobek hidup-hidup. Dia tiba-tiba teringat.

Rendy pernah berlutut di bawah hujan dan bersumpah, "Syifa, seumur hidup ini aku hanya menginginkan kamu seorang."

Rendy pernah menempelkan dahinya ke dahi Syifa dan berkata, "Syifa, aku hanya mengakui anak yang lahir dari rahimmu."

Rendy pernah mencium ujung jarinya setelah keintiman mereka dan berjanji, "Syifa, tunggu sebentar lagi. Sebentar lagi, hanya akan sisa kita berdua."

Namun sekarang, Rendy berdiri di samping Nayla sambil menggendong anak mereka, memandangnya seolah melihat orang asing yang kejam.

Saat pintu ruang pendingin itu terbuka lagi, jari-jari Syifa yang sudah membeku mencengkeram telapak tangannya erat-erat.

Kali ini, dia tidak akan menunggu lagi.

Syifa menelepon kediaman lama Keluarga Arkasa.

"Aku bersedia meninggalkan Rendy." Suaranya terdengar begitu tenang, "Tapi aku punya satu permintaan. Aku ingin kalian mengirimku ke tempat di mana dia nggak akan pernah bisa menemukanku."

Dari seberang telepon terdengar tawa puas Nyonya Arkasa, "Bukannya bagus kalau kamu dari dulu sepatuh ini? Sekali dimasukkan ke ruang pendingin langsung jadi penurut. Kamu itu cuma penjual ikan, memangnya pantas masuk ke keluarga kami?"

"Lima belas hari lagi, kami akan mengatur semuanya." Suara Tuan Arkasa dipenuhi nada meremehkan, "Saat itu tiba, jangan pernah muncul lagi di hadapan Rendy."

Telepon terputus. Syifa berdiri di depan vila, ujung jarinya gemetar.

Di ruang tamu, Rendy sedang menggendong putrinya sambil menggodanya. Nayla bersandar di bahunya dengan tersenyum lembut.

Keluarga yang terdiri dari tiga orang itu tampak begitu harmonis. Syifa berdiri di sana dengan hati yang tersayat-sayat.

"Bu Syifa sudah kembali?" Nayla yang pertama kali melihatnya, segera duduk tegak dengan gugup.

Rendy hampir refleks menyerahkan anak itu kepada pelayan. "Bawa ke atas."

Tatapan waspadanya seperti pisau yang menusuk ke dalam hati Syifa. Dia takut Syifa menyakiti anaknya.

Pria yang dulu berkata "Aku hanya mengakui anak yang lahir dari rahimmu" kini mewaspadainya seperti seorang pembunuh.

Setelah anak itu dibawa pergi, Rendy baru berjalan mendekat. Dia mengulurkan tangan seolah ingin memeriksa keadaan Syifa. "Kamu sudah kembali ya. Terluka nggak di ruang pendingin?"

Syifa menatap pria yang dulu menanggung 99 cambukan demi dirinya, rasa perih di hatinya semakin dalam. Dia memalingkan wajah untuk menghindari sentuhan Rendy.

Rendy mengernyit, lalu menjelaskan, "Syifa, dalam situasi seperti tadi malam, semakin aku melindungimu, semakin berat hukuman yang mereka berikan."

"Lagi pula kita sebentar lagi akan pergi, aku nggak ingin menambah masalah. Dan anak itu nggak bersalah, kamu kenapa harus ...."

"Aku sudah bilang bukan aku!" Mata Syifa langsung memerah.

Rendy tampak terkejut oleh reaksinya yang begitu keras. Dia terdiam sejenak sebelum melunak, "Sudahlah, nggak penting lagi."

Tidak penting lagi.

Tiga kata itu seperti es yang menusuk jantung.

Rendy tetap tidak memercayainya.

Melihat suasana menjadi kaku, Nayla mengelus perutnya lalu berjalan mendekat dan berkata dengan pura-pura tulus, "Bu Syifa, aku juga ingin minta maaf. Waktu itu aku terlalu panik. Kamu belum punya anak, mungkin nggak mengerti perasaan seorang ibu ...."

Dia mengangkat tangan merapikan rambut, gelang giok di pergelangan tangannya berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Pupil mata Syifa menyusut, dia langsung meraih pergelangan tangan itu, "Dari mana gelang ini?"

"Nayla suka, jadi aku kasih dia." Rendy menarik tangannya, "Anggap saja ini sebagai permintaan maaf darimu untuknya."

"Itu peninggalan ibuku!" Suara Syifa bergetar, "Kenapa kamu kasih ke orang lain? Kamu jelas-jelas tahu betapa pentingnya itu bagiku!"

Syifa mengulurkan tangan hendak merebut gelang itu, tetapi Nayla tiba-tiba terhuyung ke belakang. Dia memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan.

"Ah ... perutku ...."

"Syifa!" Rendy langsung mendorongnya menjauh, tatapannya tampak begitu dingin dan mengerikan. "Di dalam perutnya masih ada anakku, belum cukup kamu bikin masalah?!"

Dorongannya terlalu kuat, Syifa terpental dan menghantam sudut meja. Bagian belakang kepalanya terbentur keras, darah langsung mengalir.

Namun, Rendy bahkan tidak menoleh. Dia mengangkat Nayla dan berlari keluar.

"Rendy ...." Nayla bersandar di pelukannya sambil menangis lemah, "Apa anaknya akan baik-baik saja ...."

"Jangan takut, ada aku." Suaranya terdengar begitu lembut hingga terasa menyakitkan, "Kamu akan baik-baik saja, anaknya juga sama."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
orang tua yg egois menghancurkan anaknya sendiri.
2026-05-30 02:15:34
0
0
Zakiah Hijab
Zakiah Hijab
bisa ga bikin cerita yg ga sad ending, pengennya baca novel bukan tambah sedih gitu
2026-05-29 08:59:36
0
0
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status