Jam enam pagi, alarm di seluruh kediaman meraung keras. Toni bergegas masuk ke ruang kerja.“Nona Hana, Martin Kusuma ada di luar. Dia kepung kediaman ini dengan lebih dari dua puluh orang.”Aku bangkit dari sofa dan lihat deretan mobil hitam terparkir di depan gerbang. Joni berdiri di sampingku, nada suaranya tetap tenang.“Sepertinya dia sudah tahu tentang kejadian semalam.”“Biarkan dia masuk,” kataku sambil rapikan pakaianku.“Sudah waktunya akhiri semuanya.”Toni mengernyit.“Nona Hana, itu terlalu berbahaya.”“Nggak apa-apa,” ujar Joni sambil mengangguk ringan.“Biarkan dia masuk. Tapi cuma Martin.”Seperti yang diduga, nggak lama kemudian Martin terobos masuk ke ruang kerja. Matanya merah, jasnya kusut. Dia tampak seperti nggak tidur berhari-hari.“Hana, ayo pulang dengan aku,” kata Martin dengan suaranya yang serak.“Pelabuhan Purwoyita sedang kacau. Hanya aku yang bisa lindungi kamu.”Joni melangkah maju, berdiri di depanku, halangi jalan Martin.“Martin, keputusan itu sepenuh
Read more