“Hana, aku tahu kamu benci aku, tapi kamu nggak harus dorong aku!”“Ah, sakit! Perutku .…”Kirana tergeletak di dasar tangga, tubuhnya meringkuk sambil pegangi perutnya, erangannya lirih namun menyayat. Telapak tangannya terkoyak serpihan kaca yang berserakan di lantai.Martin jatuhkan kotak P3K dan lari turuni tangga, matanya liar dipenuhi kepanikan.“Kirana! Jangan takut. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit. Sekarang juga.”Dia angkat tubuh Kirana ke dalam pelukannya dan bergegas menuju pintu.Namun tepat sebelum melangkah keluar, Martin berhenti dan noleh ke aku. Tatapannya dingin, asing, seakan aku bukan siapa-siapa lagi. Suaranya berat, penuh ancaman.“Hana, aku nggak pernah nyangka kamu bisa sekejam ini. Sampai tega nyakitin wanita hamil.”“Kalau terjadi apa-apa ke anakku. Aku sumpah, Hana, kamu pasti akan menyesal!”Aku hanya menatapnya bawa Kirana pergi, lalu berbisik pelan pada ruangan yang kosong, “Kita memang nggak pernah punya masa depan.”Dengan tenang, aku ambil tisu dan mu
Read more