Sintya menarik tangannya perlahan dari cengkeraman Reno, mencoba menyembunyikan rasa muak yang mendadak bergejolak di dalam perutnya. Menatap wajah suaminya yang penuh dengan tuntutan berahi itu justru membuatnya merasa malas dan mual.Seluruh indra dan kulit tubuh Sintya sudah terlanjur terbiasa, bahkan terikat mati pada servis fisik Heri yang jauh lebih jantan, kasar, dan perkasa dari siapa pun di dunia ini. Dibandingkan dengan kegagahan sang satpam, sentuhan Reno terasa hambar dan tidak bertenaga."Aku ganti baju dulu ke kamar, Reno. Bersihkan badanmu dulu kalau mau menyusul," ucap Sintya dengan nada suara yang dikondisikan sedatar mungkin, bergegas bangkit dari kursi meja makan tanpa menunggu jawaban suaminya.Saat melangkah menaiki satu demi satu anak tangga menuju lantai dua, jemari Sintya bergerak dengan sangat cepat di atas layar ponselnya. Di bawah keremangan koridor atas, ia diam-diam mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Heri.Sebuah perintah gila yang lahir dari otak bin
Leer más