Heri menarik napas panjang, menatap wanita yang masih gemetar di lantai semen yang lembap itu. Otak taktisnya langsung bekerja. Ia lalu berlutut, dan mencengkeram kedua bahu Sintya dengan cengkeraman yang kuat namun terukur, sebuah tindakan penegasan dominasi sekaligus penenangan."Tenang, Sintya. Pakai otakmu, jangan pakai ketakutanmu," bisik Heri, suaranya rendah dan tajam, menusuk langsung ke kesadaran Sintya."Reno tidak tahu apa-apa. Dia hanya curiga karena kamu tidak ada di ranjang. Kalau kamu terus bersikap seperti mayat hidup begini, justru itu yang akan membongkar semuanya."Sintya mendongak, matanya yang biasa memancarkan keangkuhan kini meredup rapuh. "Kamu tidak mengerti, Heri. Reno itu licik. Cara dia menatap pos ini tadi...""Aku yang menghadapi tatapannya, bukan kamu," potong Heri dingin. Ia membantu Sintya berdiri, merapikan gaun tidur wanita itu yang kusut dengan gerakan efisien."Sekarang, kembali ke rumah melalui pintu belakang seperti yang aku katakan tadi. Masuk k
Leer más