Lima belas menit kemudian, setelah hanyut dalam ritme musik yang melelahkan, Heri memilih kembali duduk di kursi bar karena capek. Napasnya sedikit memburu, meninggalkan jejak keringat tipis di pelipis dan dada bidangnya yang terekspos.Sita dan Selly tidak membiarkannya bernapas lega; kedua wanita itu langsung mengikutinya, menempelkan tubuh mereka yang basah oleh keringat di sisi kanan dan kiri Heri.Selly mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang langsung menaikkan tensi di antara mereka. "Heri, capek ya? Gimana kalau kita pindah tempat? Kita ke toilet sekarang, yuk. Dua lawan satu. Kalau kamu memang cowok perkasa, harusnya kamu nggak bakal menolak kita, kan?"Sita terkekeh, jemarinya bergerak berani mencolek dagu tegas Heri, menantang ego maskulin sang pria jalanan. "Iya, nih. Jangan bilang kamu takut? Sayang banget badan kekar gini kalau ternyata nyalinya ciut cuma karena dihadapkan sama dua cewek sekaligus."Dua wanita itu memberi tantangan yang
Baca selengkapnya