"Suamiku itu udah berbulan-bulan nggak pulang dari Singapura, Her. Daripada kamu capek jagain rumah Sintya, mending malam ini kamu ikut aku aja. Kita check-in di hotel sebelah, aku yang tanggung semua.“Kamu kelihatan masih segar banget, pasti sanggup kan muasin hasratku yang udah lama dianggurkan?" bisik mami Amel dengan suara serak yang sarat akan berahi, jemarinya semakin berani merayap naik dari bisep menuju pundak kokoh Heri.Heri tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai miring yang sangat tipis. Di balik ketenangannya, darah lelaki berdarah panasnya bergejolak hebat mendapat tawaran blak-blakan dari wanita borjuis yang sedang kelaparan ini. Secara naluriah, Heri melirik ke arah seberang meja, tepat ke arah Sintya.Benar saja, wajah Sintya sudah berubah sekaku papan. Sepasang mata indahnya membelalak tajam, memancarkan kilatan amarah yang begitu pekat. Rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan di dada.Dari
Magbasa pa