Mendengar pertanyaan Maman, Heri hanya tertawa rendah, sebuah tawa bariton yang terdengar meremehkan pertanyaan sentimental seperti itu.Ia pun menggelengkan kepala, lalu melangkah mendekati tepi balkon, menatap butiran abu rokok yang terbang tertiup angin laut. Bagi seorang pria taktis yang merangkak dari kasta bawah seperti dirinya, emosi seperti cinta adalah kelemahan yang bisa menghancurkan rencana besar."Kamu ini bicara apa, Man? Jangan ngaco," balas Heri dengan nada suara yang terdengar datar dan dingin, mengikis habis spekulasi sentimental yang dilemparkan sahabatnya."Hubungan ini murni bisnis dan pemuasan kebutuhan fisik bersama. Sintya butuh sekutu buat hancurin Reno, dan dia butuh pria yang bisa kasih dia kepuasan yang nggak pernah dia dapetin dari suaminya. Kebetulan, aku bisa kasih kedua hal itu.""Ya... gue cuma nanya, Her. Habisnya, dari cerita lu, lu kayak protektif banget sama dia di depan temen-temen sosialitanya," sahut Maman di seberang sana, mencoba membela diri.
Leer más