Darah prajurit suci masih belum mengering di lantai serambi saat Kael Varyn memegang kendali atas situasi. Udara di kamar utama masih berbau ozon dan besi. Dengan gerakan yang tegas, Kael menarik Nayra menuju pusat ruangan, tepat di bawah simbol magis kuno yang terpatri di langit-langit marmer."Kau sadar apa yang akan terjadi selanjutnya?" Kael bertanya. Suaranya serak, penuh beban, tetapi matanya tidak sedikitpun melepaskan pandang dari wajah Nayra.Nayra menegakkan tubuh, menatap lurus ke dalam mata perak yang tajam itu. Dia tahu ini saatnya. Setelah semua pertempuran, racun, dan pengkhianatan di istana ini, koneksi yang mereka bangun hanyalah setengah jalan. Selama belum ada segel resmi, mereka hanyalah dua entitas yang kebetulan berbagi napas di tengah badai."Aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan keberuntungan di setiap pertarungan, Kael," ujar Nayra mantap. "Jika aku akan berada di sisi pria yang dikutuk dunia, aku setidaknya berhak tahu bagaimana cara agar kita berdua tida
อ่านเพิ่มเติม