Istri Iblis Yang Salah Tubuh

Istri Iblis Yang Salah Tubuh

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-30
Oleh:  Nayara VennOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
5Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Mati sekali sudah cukup buruk—bangun sebagai istri Demon Lord pembunuh jauh lebih buruk. Apalagi saat ia terjebak dengan Sistem Pleasure Cultivation yang memaksanya mendekati pria yang seharusnya membunuhnya. Ia ingin kabur. Sistem menolak. Ia ingin menjauh. Ia justru ditarik semakin dekat. Sementara sang iblis—membencinya, tetapi tak bisa melepaskannya. Mengancam membunuhnya, tetapi mulai menjadi posesif. “Dekati target. Tingkatkan intimacy level.” Di dunia ini, semakin dekat ia dengannya, semakin besar peluangnya untuk hidup—atau hancur.

Lihat lebih banyak

Bab 1

01. Ujung Pedang di Malam Pengantin

Cahaya obor yang menari-nari di dinding batu altar membiaskan bayangan yang panjang dan menakutkan. Aroma dupa yang menusuk hidung, bercampur dengan bau besi berkarat, membuat Nayra terbatuk kecil saat kesadarannya menghantam secara paksa. 

Kepalanya terasa seperti dibelah dua. Kenangan-kenangan asing menyerbu benaknya: kehidupan seorang gadis malang, pernikahan politik, pengkhianatan, dan sebuah kematian dingin di atas lantai marmer. Sekarang, ia ada di sini. Di tempat ini.

Nayra tersentak. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun kain kasar yang mengikat pergelangan tangannya di altar batu itu menahannya. Gaun pengantin merah yang ia kenakan kini sudah robek di sana-sini, memamerkan bahu kirinya yang terasa perih. Sesuatu yang ganjil terasa di sana—sebuah pola panas yang berdenyut seirama detak jantungnya. Tanda iblis.

"Bangun juga akhirnya," sebuah suara bariton yang berat dan sedingin es membelah kesunyian ruangan.

Nayra mendongak. Di hadapannya, seorang pria berdiri tegak seperti patung pembalasan dendam. Kael Varyn. Zirah hitam dengan sulaman perak itu tampak begitu elegan sekaligus mematikan di bawah temaram cahaya. Tangannya menggenggam gagang pedang hitam yang ukurannya cukup untuk membelah kuda perang menjadi dua bagian. Ujung pedang itu kini menekan dengan ringan tepat di tenggorokan Nayra, mengancam untuk menembus kulitnya kapan saja.

"Di mana aku?" tanya Nayra. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, namun sorot matanya yang waspada tidak sedikitpun berkedip. Insting bertahan hidup yang tak dikenal dari kehidupan sebelumnya seolah mengalir dalam nadinya, membuatnya tetap tenang meski kematian menari di depan mata.

Kael mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dua bilah baja. "Tempat di mana istrimu yang ke-lima meregang nyawa tiga bulan lalu. Dan kau? Kau masih bisa bernapas setelah tiga hari di ruang ritual ini tanpa setetes air pun. Menarik."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Nayra memaksakan senyum sinis di tengah kepanikan internalnya. "Jika kau ingin membunuhku, lakukan sekarang. Tapi ketahuilah, membunuh pengantin di malam pernikahanmu sendiri terdengar seperti hobi yang membosankan untuk seorang penguasa iblis."

Kael memiringkan kepalanya. Tatapan matanya yang sewarna gerhana bulan seolah menelusuri jiwa Nayra, mencari kebohongan. "Kau punya lidah yang tajam, manusia. Biasanya, mereka akan menangis memohon ampun, atau setidaknya mencoba merangkak kabur saat melihat darah yang tersisa di altar ini."

Pedang itu bergerak sedikit. Tekanannya menambah perih di kulit leher Nayra, memicu tetesan darah kecil yang mengalir hangat membasahi kerah gaunnya. 

Tiba-tiba, suara denging aneh bergema di dalam kepala Nayra. Suara mekanis yang tak emosional, seakan ada ribuan bilah besi yang saling bergesekan.

SYSTEM ACTIVATED: Pleasure Cultivation Initialized.

Status: Link established with target [Demon Lord Kael Varyn]

Misi Primer: Bertahan hidup hingga fajar.

Sinkronisasi darah terdeteksi. Sinkronisasi awal dimulai.

Nayra mengerang pelan, menahan rasa pening yang tiba-tiba meledak. Saat setetes darah dari lehernya menyentuh bilah pedang hitam Kael, pedang itu bereaksi. Aura gelap yang melingkupinya tampak menghisap darah itu dengan rakus, membuat mata Kael melebar sedikit—kejutannya singkat namun kentara.

"Apa yang kau lakukan?!" Kael menarik pedangnya, matanya kini memancarkan kilau curiga yang jauh lebih berbahaya. Ia melangkah mendekat, mencengkeram dagu Nayra dengan satu tangan sarung tangannya yang dingin. Tekanannya membuat tulang rahang Nayra terasa hampir patah.

"Aku... aku tidak melakukan apa-apa," Nayra berbohong. Kepalanya berdenyut, menampilkan deretan panel hologram tipis yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri di udara. 

Sync Rate: 1%. Energi Iblis yang diserap: minimal.

Nayra menyadari satu hal yang krusial. Rasa sakit dari pedang tadi bukan hanya sekadar luka; itu adalah koneksi. Kael tidak bisa membunuhnya sekarang, bukan karena pria itu berbaik hati, tapi karena sesuatu di dalam tubuh pria itu kini secara misterius "terikat" pada keberadaannya.

"Kau berbeda dengan yang lain," desis Kael, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Nayra. Nafas pria itu beraroma dingin dan petrichor setelah hujan. "Kau memiliki sisa-sisa kutukan yang sama dengan artefak di altar ini. Katakan, siapa yang mengirimmu ke sini? Manusia suci? Atau kaum pemberontak yang berharap aku akan membuang tenagaku untuk menghabisi jiwa rendahan sepertimu?"

Nayra menarik nafas dalam-dalam, mengabaikan getaran hebat di sekujur tubuhnya. "Aku hanya pengantin, Kael. Dan jika kau ingin jawaban, kau seharusnya berhenti memegang daguku seperti hendak meremukkannya dan mulai memberikan aku alasan kenapa aku harus peduli dengan sejarah istrimu yang sudah menjadi mayat."

Cengkeraman Kael semakin menguat, membuat wajah Nayra memerah menahan sakit, namun mata gadis itu tidak goyah. Mereka saling tatap, dalam perang psikologis yang sunyi di tengah dungeon yang penuh aura kematian.

"Cukup pemberani," Kael melepaskan dagu Nayra dengan sentakan kasar, lalu memutar badannya menuju pintu gerbang batu. Langkah kakinya berat, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Nayra berdiri. 

Saat Kael mencapai ambang pintu, ia berhenti sejenak. Ia tidak berbalik, tapi suaranya yang berat memantul di dinding ruangan.

"Dengar, Istriku. Istana ini penuh dengan makhluk yang akan sangat senang merobek dagingmu bahkan sebelum fajar menyingsing jika aku mengizinkannya."

Nayra mencuri pandang ke panel hologram yang kini menunjukkan hitung mundur fajar: 07:12:00 sisa.

"Lanjutkan," tantang Nayra, meski jantungnya berdegup tak karuan.

"Kau punya waktu sampai fajar untuk membuktikan bahwa keberadaanmu di sini memiliki nilai lebih daripada sekadar pengisi daftar korban berikutnya," suara Kael terdengar tanpa belas kasihan. "Jika sampai fajar aku tidak melihat nilai itu, kepalamu akan ku gantung di gerbang istana, bersebelahan dengan koleksi tengkorak musuh-musuhku yang paling menyedihkan."

Kael melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu batu raksasa itu terbanting menutup dengan bunyi berdebam yang menggetarkan seluruh ruangan. 

Keheningan kembali menyergap. Nayra menarik nafas panjang yang gemetar. Ia melirik bahunya yang bertanda iblis; panasnya semakin menjalar, bukan seperti terbakar, melainkan seperti sesuatu yang sedang mengaktifkan kekuatan tersembunyi.

Misi Berhasil Terbuka: "Bukti Keberadaan". Kontak kulit pertama terdeteksi.

Reward: Poin Energi (10).

"Aku baru saja dijatuhi hukuman mati, sistem," gumam Nayra pada ruang kosong dengan nada getir. "Dan kau malah memberikan poin seperti sedang bermain game?"

Di tengah remangnya altar, Nayra bangkit perlahan, melepaskan ikatan tangannya yang sudah mulai melonggar berkat sedikit dorongan energi dari tanda iblis di bahunya. Ia menatap gaun pengantin merah yang robek itu. Jika ini adalah kehidupan baru yang ia dapatkan—hanya untuk mati di tiang gantung iblis—maka ia lebih memilih untuk menjadi api yang akan membakar istana ini daripada menjadi abu.

Nayra melangkah keluar menuju lorong gelap, di mana masa depannya yang penuh dengan ketidakpastian telah menanti di balik kegelapan. Dan jauh di dalam hatinya, sebuah intuisi berbisik; bahwa Kael Varyn, Demon Lord yang menakutkan itu, mungkin saja adalah kunci dari segalanya. 

Fajar sudah di depan mata. Waktunya untuk bermain.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Risma Nur Fadillah
Risma Nur Fadillah
Bagus ceritanya, karakter cwe nya ga bisa ditindas dan pakai sistem gituu. Next author...
2026-05-14 22:59:24
0
0
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status