MasukMati sekali sudah cukup buruk—bangun sebagai istri Demon Lord pembunuh jauh lebih buruk. Apalagi saat ia terjebak dengan Sistem Pleasure Cultivation yang memaksanya mendekati pria yang seharusnya membunuhnya. Ia ingin kabur. Sistem menolak. Ia ingin menjauh. Ia justru ditarik semakin dekat. Sementara sang iblis—membencinya, tetapi tak bisa melepaskannya. Mengancam membunuhnya, tetapi mulai menjadi posesif. “Dekati target. Tingkatkan intimacy level.” Di dunia ini, semakin dekat ia dengannya, semakin besar peluangnya untuk hidup—atau hancur.
Lihat lebih banyakCahaya obor yang menari-nari di dinding batu altar membiaskan bayangan yang panjang dan menakutkan. Aroma dupa yang menusuk hidung, bercampur dengan bau besi berkarat, membuat Nayra terbatuk kecil saat kesadarannya menghantam secara paksa.
Kepalanya terasa seperti dibelah dua. Kenangan-kenangan asing menyerbu benaknya: kehidupan seorang gadis malang, pernikahan politik, pengkhianatan, dan sebuah kematian dingin di atas lantai marmer. Sekarang, ia ada di sini. Di tempat ini.
Nayra tersentak. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun kain kasar yang mengikat pergelangan tangannya di altar batu itu menahannya. Gaun pengantin merah yang ia kenakan kini sudah robek di sana-sini, memamerkan bahu kirinya yang terasa perih. Sesuatu yang ganjil terasa di sana—sebuah pola panas yang berdenyut seirama detak jantungnya. Tanda iblis.
"Bangun juga akhirnya," sebuah suara bariton yang berat dan sedingin es membelah kesunyian ruangan.
Nayra mendongak. Di hadapannya, seorang pria berdiri tegak seperti patung pembalasan dendam. Kael Varyn. Zirah hitam dengan sulaman perak itu tampak begitu elegan sekaligus mematikan di bawah temaram cahaya. Tangannya menggenggam gagang pedang hitam yang ukurannya cukup untuk membelah kuda perang menjadi dua bagian. Ujung pedang itu kini menekan dengan ringan tepat di tenggorokan Nayra, mengancam untuk menembus kulitnya kapan saja.
"Di mana aku?" tanya Nayra. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, namun sorot matanya yang waspada tidak sedikitpun berkedip. Insting bertahan hidup yang tak dikenal dari kehidupan sebelumnya seolah mengalir dalam nadinya, membuatnya tetap tenang meski kematian menari di depan mata.
Kael mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dua bilah baja. "Tempat di mana istrimu yang ke-lima meregang nyawa tiga bulan lalu. Dan kau? Kau masih bisa bernapas setelah tiga hari di ruang ritual ini tanpa setetes air pun. Menarik."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Nayra memaksakan senyum sinis di tengah kepanikan internalnya. "Jika kau ingin membunuhku, lakukan sekarang. Tapi ketahuilah, membunuh pengantin di malam pernikahanmu sendiri terdengar seperti hobi yang membosankan untuk seorang penguasa iblis."
Kael memiringkan kepalanya. Tatapan matanya yang sewarna gerhana bulan seolah menelusuri jiwa Nayra, mencari kebohongan. "Kau punya lidah yang tajam, manusia. Biasanya, mereka akan menangis memohon ampun, atau setidaknya mencoba merangkak kabur saat melihat darah yang tersisa di altar ini."
Pedang itu bergerak sedikit. Tekanannya menambah perih di kulit leher Nayra, memicu tetesan darah kecil yang mengalir hangat membasahi kerah gaunnya.
Tiba-tiba, suara denging aneh bergema di dalam kepala Nayra. Suara mekanis yang tak emosional, seakan ada ribuan bilah besi yang saling bergesekan.
SYSTEM ACTIVATED: Pleasure Cultivation Initialized.
Status: Link established with target [Demon Lord Kael Varyn]
Misi Primer: Bertahan hidup hingga fajar.Sinkronisasi darah terdeteksi. Sinkronisasi awal dimulai.Nayra mengerang pelan, menahan rasa pening yang tiba-tiba meledak. Saat setetes darah dari lehernya menyentuh bilah pedang hitam Kael, pedang itu bereaksi. Aura gelap yang melingkupinya tampak menghisap darah itu dengan rakus, membuat mata Kael melebar sedikit—kejutannya singkat namun kentara.
"Apa yang kau lakukan?!" Kael menarik pedangnya, matanya kini memancarkan kilau curiga yang jauh lebih berbahaya. Ia melangkah mendekat, mencengkeram dagu Nayra dengan satu tangan sarung tangannya yang dingin. Tekanannya membuat tulang rahang Nayra terasa hampir patah.
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa," Nayra berbohong. Kepalanya berdenyut, menampilkan deretan panel hologram tipis yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri di udara.
Sync Rate: 1%. Energi Iblis yang diserap: minimal.
Nayra menyadari satu hal yang krusial. Rasa sakit dari pedang tadi bukan hanya sekadar luka; itu adalah koneksi. Kael tidak bisa membunuhnya sekarang, bukan karena pria itu berbaik hati, tapi karena sesuatu di dalam tubuh pria itu kini secara misterius "terikat" pada keberadaannya.
"Kau berbeda dengan yang lain," desis Kael, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Nayra. Nafas pria itu beraroma dingin dan petrichor setelah hujan. "Kau memiliki sisa-sisa kutukan yang sama dengan artefak di altar ini. Katakan, siapa yang mengirimmu ke sini? Manusia suci? Atau kaum pemberontak yang berharap aku akan membuang tenagaku untuk menghabisi jiwa rendahan sepertimu?"
Nayra menarik nafas dalam-dalam, mengabaikan getaran hebat di sekujur tubuhnya. "Aku hanya pengantin, Kael. Dan jika kau ingin jawaban, kau seharusnya berhenti memegang daguku seperti hendak meremukkannya dan mulai memberikan aku alasan kenapa aku harus peduli dengan sejarah istrimu yang sudah menjadi mayat."
Cengkeraman Kael semakin menguat, membuat wajah Nayra memerah menahan sakit, namun mata gadis itu tidak goyah. Mereka saling tatap, dalam perang psikologis yang sunyi di tengah dungeon yang penuh aura kematian.
"Cukup pemberani," Kael melepaskan dagu Nayra dengan sentakan kasar, lalu memutar badannya menuju pintu gerbang batu. Langkah kakinya berat, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Nayra berdiri.
Saat Kael mencapai ambang pintu, ia berhenti sejenak. Ia tidak berbalik, tapi suaranya yang berat memantul di dinding ruangan.
"Dengar, Istriku. Istana ini penuh dengan makhluk yang akan sangat senang merobek dagingmu bahkan sebelum fajar menyingsing jika aku mengizinkannya."
Nayra mencuri pandang ke panel hologram yang kini menunjukkan hitung mundur fajar: 07:12:00 sisa.
"Lanjutkan," tantang Nayra, meski jantungnya berdegup tak karuan.
"Kau punya waktu sampai fajar untuk membuktikan bahwa keberadaanmu di sini memiliki nilai lebih daripada sekadar pengisi daftar korban berikutnya," suara Kael terdengar tanpa belas kasihan. "Jika sampai fajar aku tidak melihat nilai itu, kepalamu akan ku gantung di gerbang istana, bersebelahan dengan koleksi tengkorak musuh-musuhku yang paling menyedihkan."
Kael melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu batu raksasa itu terbanting menutup dengan bunyi berdebam yang menggetarkan seluruh ruangan.
Keheningan kembali menyergap. Nayra menarik nafas panjang yang gemetar. Ia melirik bahunya yang bertanda iblis; panasnya semakin menjalar, bukan seperti terbakar, melainkan seperti sesuatu yang sedang mengaktifkan kekuatan tersembunyi.
Misi Berhasil Terbuka: "Bukti Keberadaan". Kontak kulit pertama terdeteksi.
Reward: Poin Energi (10)."Aku baru saja dijatuhi hukuman mati, sistem," gumam Nayra pada ruang kosong dengan nada getir. "Dan kau malah memberikan poin seperti sedang bermain game?"
Di tengah remangnya altar, Nayra bangkit perlahan, melepaskan ikatan tangannya yang sudah mulai melonggar berkat sedikit dorongan energi dari tanda iblis di bahunya. Ia menatap gaun pengantin merah yang robek itu. Jika ini adalah kehidupan baru yang ia dapatkan—hanya untuk mati di tiang gantung iblis—maka ia lebih memilih untuk menjadi api yang akan membakar istana ini daripada menjadi abu.
Nayra melangkah keluar menuju lorong gelap, di mana masa depannya yang penuh dengan ketidakpastian telah menanti di balik kegelapan. Dan jauh di dalam hatinya, sebuah intuisi berbisik; bahwa Kael Varyn, Demon Lord yang menakutkan itu, mungkin saja adalah kunci dari segalanya.
Fajar sudah di depan mata. Waktunya untuk bermain.
Kabut beracun yang tebal seperti beludru kelabu menyelimuti hutan terlarang itu. Napas Nayra terasa seperti menelan serpihan kaca. Setiap hirupan memberikan rasa terbakar yang samar di paru-parunya. Tangannya yang gemetar menggenggam erat gagang belati pemberian Kael—sebilah senjata dingin yang terlihat terlalu kecil untuk menghadapi ancaman apa pun di rimba terkutuk ini."Ingat, Nayra," suara Kael memantul di ingatannya, sedingin es yang baru saja membeku di sungai. "Jika kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri, jangan repot-repot kembali. Aku tidak menyimpan 'barang' rusak di istanaku."Kael sendiri berdiri tenang di atas dahan pohon ek tua yang tingginya mencapai sepuluh meter. Ia tampak seperti ksatria maut yang hanya menonton sandiwara murah dari kejauhan. Tak ada empati, tak ada niat membantu. Matanya yang gelap memandang ke bawah, menunggu pertunjukan darah dimulai.Sebuah geraman rendah, yang vibrasinya menggetarkan tanah di bawah kaki Nayra, terdengar dari semak-semak yang gel
Langkah kaki Nayra senyap saat ia menyusuri Sayap Barat istana. Bau apak kayu tua dan aroma debu yang menggantung di udara menusuk indra penciumannya. Hari ini, istana terasa anehnya sepi; kabarnya, Kael Varyn sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan para Tetua Iblis di aula dimensi lain, membiarkan pertahanan istana sedikit longgar.Ini adalah kesempatannya. Nayra masih mengenakan gaun merah yang telah diperbaiki seadanya, meski noda robekan di bahunya tetap menjadi pengingat permanen akan malam pertamanya di sini. Ia teringat kata-kata sistem bahwa gaun ini—gaun yang ia kenakan saat pertama kali terbangun di altar—bukanlah sekadar kain biasa. Ia tiba di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan ukiran gagak bermata kristal merah. Pintu itu sedikit terbuka, mengundang rasa ingin tahu yang tak bisa dibendung. Begitu ia mendorongnya masuk, hawa dingin yang jauh lebih menusuk dari koridor istana langsung menerjang kulitnya.Ruangan itu luas, sebuah kamar raksasa yang seolah membeku d
Cahaya pucat fajar menembus celah-celah sempit jendela kastel, tapi tidak membawa kehangatan sama sekali. Di dalam kamar luas yang terasa lebih seperti kuburan mewah, Nayra masih merasakan sisa denyut adrenalin dari malam tadi. Cengkeraman Kael pada tangannya mungkin sudah lepas secara fisik, tapi rasa dingin yang merambat ke tulangnya seolah menolak untuk pergi. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih berbekas noda merah kering—darah sang Demon Lord."Cepat bangun, Nona. Tuan Besar tidak suka menunggu." Suara itu datang dari arah pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Zarek berdiri di sana. Sosoknya mirip pelayan tua dari zaman kuno yang diawetkan dalam balutan jubah hitam kelabu. Wajahnya datar, seolah seluruh emosinya telah dikuras habis ribuan tahun lalu. Matanya menatap Nayra dengan kejijikan yang tersembunyi dengan sangat buruk di balik tata krama palsu. Nayra mendengus, berusaha bangkit sambil merapikan gaun pengantin merahnya yang menyedihkan. Robekan di bagian
Pintu batu itu tertutup rapat, menyisakan Nayra dalam keheningan yang menyesakkan di dalam kamar pengantin yang lebih mirip ruang penyiksaan mewah. Langit-langitnya tinggi, dihiasi ukiran makhluk mitologi yang tampak seolah sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Nayra terhuyung ke arah tempat tidur berbalut sutra hitam yang dingin, lututnya lemas. System Warning: Vitalitas menurun. Asupan energi diperlukan.Suara itu lagi. Suara mekanis yang tanpa nada, tanpa jiwa, tetapi kini terdengar seperti belati yang mengiris saraf otaknya."Tutup mulutmu," desis Nayra sambil mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Di hadapan pandangannya, layar transparan berpendar kebiruan muncul, memancarkan informasi yang membuat Nayra ingin sekali menjerit. [User: Nayra][Status: Terancam][Intimacy Level: 0][Misi 2: Sentuhan Kedekatan. Berikan kontak kulit minimal 10 detik kepada target (Kael Varyn). Durasi: 2 jam.][Peringatan: Gagal melakukan misi akan memicu hukuman fisik tingkat satu: senga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan