Angin malam musim dingin Eropa menderu di luar menara, memukul jendela lengkung batu dengan sisa-sisa badai salju yang membeku. Di dalam kamar, hanya ada keheningan yang mencekam, ditemani derak kayu ek yang perlahan memutih menjadi abu di dalam perapian.Ralph berdiri membelakangi ranjang berkanopi, menatap lurus ke arah hamparan kegelapan di balik kaca. Jubah bulu serigalanya bergoyang pelan saat ia berbalik, menampilkan siluet tubuhnya yang besar dan mengancam. Malam ini, ketegangan di antara mereka tidak lagi berupa ledakan amarah, melainkan keheningan taktis.Meghan duduk bersandarkan kepala ranjang, memeluk lututnya sendiri di balik selimut tebal. Tatapannya dingin, mengawasi setiap gerak-gerik sang Raja."Kau persis seperti mendiang ayahmu, Ralph," bisik Meghan, suaranya parau namun tajam memecah kesunyian kamar. "Sejarah berulang, dan kau dengan bangga memakai mahkota tirani yang sama."Ralph tidak membantah. Ia melangkah mendekati ranjang dengan ritme yang lambat dan p
Read more