“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahnya.Napas Braelyn tercekat. Untuk sesaat, ia tidak mampu berkata apa-apa. Ingatan tentang hari kematiannya masih begitu jelas, begitu tajam, seolah baru saja terjadi. Rasa pahit di tenggorokannya, dinginnya lantai marmer, dan tatapan kosong Nevan masih menghantuinya.Namun kini, semuanya terasa berbeda.“Braelyn?” suara ayahnya kembali memanggil, kali ini dengan nada sedikit khawatir.Braelyn mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan yang baru saja ia pahami. Ia benar-benar kembali. Bukan mimpi, bukan halusinasi. Ini nyata.“Aku tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya, meski suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-03 อ่านเพิ่มเติม