LOGINBraelyn Wilson mati di hari pernikahannya sendiri diracun oleh tunangan dan sahabat yang paling ia percaya. Namun saat terbangun kembali tiga tahun sebelum tragedi itu terjadi, ia memutuskan untuk membalas semuanya. Kali ini, Braelyn tidak akan menjadi korban. Di tengah rencana balas dendamnya, muncul Eryx Caspian pria misterius yang seolah mengetahui masa depan yang sama dengannya. Semakin dekat dengannya, semakin banyak rahasia kelam terungkap—termasuk kebenaran tentang kematiannya sendiri.
View More“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”
Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening dengan aroma manis yang samar.
Braelyn Wilson tersenyum, meski dadanya terasa aneh. Hari ini… hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Tangannya sedikit gemetar saat menerima gelas itu, tapi ia menepis kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Mungkin hanya karena terlalu banyak tamu, terlalu banyak perhatian, terlalu banyak emosi yang menumpuk sejak pagi. Ia mengangkat gelas itu perlahan, matanya sempat bertemu dengan Nevan.
Tatapan itu entah kenapa terasa berbeda.
Dingin.
Sekilas saja, sebelum kembali berubah menjadi lembut seperti biasa.
Braelyn meneguk minuman itu Dan dalam beberapa detik, dunia mulai berubah.
Awalnya hanya rasa pahit di ujung lidah.
Kemudian panas.
Lalu nyeri.
Braelyn terdiam. Gelas di tangannya hampir terlepas saat rasa panas itu menjalar cepat ke tenggorokannya, turun ke dada, menyebar seperti api yang membakar dari dalam.
“A-apa ini…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ruangan resepsi yang megah itu masih penuh tawa. Musik mengalun. Orang-orang tersenyum, bersulang, merayakan pernikahan yang mereka anggap sempurna.
Tak ada yang menyadari. Tak ada yang melihat.
Tubuh Braelyn mulai goyah. Nafasnya tersendat. Ia mencoba berdiri tegak, mencoba tersenyum, mencoba berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi rasa sakit itu semakin menjadi.
Menusuk.
Menghancurkan.
Ia menoleh ke arah Nevan.
“Nevan…” panggilnya lirih.
Pria itu berdiri di sana, tidak jauh darinya. Masih tampan, masih rapi, masih menjadi pusat perhatian semua orang. Namun kali ini, ia tidak bergerak mendekat. Ia hanya berdiri menatap dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Braelyn melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di mata pria itu ketiadaan.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada kekhawatiran. Tidak ada cinta.
Hanya ketenangan yang dingin.
Seolah ia sudah menunggu momen ini.
Jantung Braelyn berdetak semakin cepat. Atau mungkin… semakin melemah.
“Kenapa…” bibirnya bergetar.
Langkahnya goyah. Ia hampir jatuh, tapi berhasil bertahan dengan memegang meja di sampingnya. Tamu-tamu mulai memperhatikan sekarang. Suara musik masih terdengar, tapi seperti menjauh.
“Braelyn? Kamu tidak apa-apa?” seseorang bertanya.
Ia tidak menjawab.
Matanya masih terpaku pada Nevan dan kemudian suara lain muncul.
“Kasihan sekali.”
Lembut. Familiar. Menusuk lebih dalam dari rasa sakit yang kini membakar seluruh tubuhnya.
Braelyn menoleh.
Valeska Becker berdiri di sana.
Sahabatnya.
Orang yang selama ini ia percaya lebih dari siapa pun.
Valeska tersenyum.
Bukan senyum hangat seperti biasanya. Melainkan senyum yang penuh kepuasan. Senyum yang membuat dunia Braelyn runtuh dalam sekejap. “Kamu akhirnya sadar juga,” ucap Valeska pelan, cukup untuk didengar Braelyn saja.
Tubuh Braelyn terasa dingin. Tidak ini tidak mungkin.
“Kenapa…?” suara Braelyn pecah.
Valeska mendekat sedikit, cukup dekat untuk berbisik.
“Karena kamu terlalu mudah, Braelyn,” katanya ringan. “Terlalu percaya. Terlalu bodoh untuk melihat apa yang ada di depan matamu.”
Air mata mulai mengaburkan penglihatan Braelyn. Ia menoleh kembali ke Nevan.
Berharap.
Berharap ini semua hanya salah paham.
Bahwa pria itu akan menyangkal.
Bahwa pria itu akan marah pada Valeska.
Bahwa pria itu akan memeluknya dan berkata semuanya tidak benar.
Namun Nevan tidak melakukan apa pun. Ia hanya melangkah mendekat perlahan. Setiap langkahnya terdengar seperti dentuman yang menghancurkan sisa harapan Braelyn. “Aku sudah bilang padamu untuk tidak terlalu percaya pada siapa pun,” ujar Nevan akhirnya.
Nada suaranya datar tanpa emosi seolah ia sedang membicarakan hal sepele.
“Termasuk aku.”
Dunia Braelyn benar-benar runtuh.
“Kamu… bercanda, kan?” suaranya gemetar hebat.
Nevan tersenyum tipis.
Senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Senyum seorang pria yang menang.
“Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu?” tanyanya ringan.
Setiap kata terasa seperti pisau yang ditancapkan berulang kali ke dalam dada Braelyn.
“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”
Braelyn menggeleng pelan.
Tidak.
Tidak mungkin.
Semua kenangan itu semua perhatian itu semua janji itu. Tidak mungkin semuanya palsu.
“Tiga tahun, Braelyn,” lanjut Nevan. “Aku menghabiskan tiga tahun untuk mendapatkan kepercayaanmu. Untuk masuk ke dalam keluargamu. Untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”
“Rencana…?”
“Wilson Group,” jawab Valeska cepat, suaranya penuh kepuasan. “Apa lagi? Kamu pikir kami bertahan di sampingmu karena apa? Persahabatan? Cinta?”
Ia tertawa kecil.
Suara itu terdengar begitu asing.
“Kami hanya menunggu waktu yang tepat.”
Braelyn tidak bisa lagi berdiri tegak. Kakinya melemah. Ia jatuh berlutut di lantai, gaun pengantinnya menyapu marmer dingin yang kini terasa seperti es.
Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan.
Jadi selama ini ia hanya alat? Semua cinta yang ia rasakan. Semua kepercayaan yang ia berikan hanya permainan?
“Kenapa… harus hari ini…?” bisiknya lemah.
Nevan menatapnya sebentar.
“Karena hari ini adalah hari di mana semuanya akan berpindah tangan,” jawabnya dingin. “Dan tidak ada waktu yang lebih sempurna dari ini.”
Valeska tersenyum lebar.
“Semua orang akan mengira kamu pingsan karena kelelahan,” katanya santai. “Atau mungkin… serangan jantung. Siapa yang akan curiga?”
Braelyn ingin tertawa. Ingin menjerit. Ingin menghancurkan semuanya. Tapi tubuhnya tidak lagi menurut. Rasa sakit itu semakin hebat. Penglihatannya mulai gelap di pinggir. Nafasnya semakin pendek. Ia menatap dua orang di depannya—dua orang yang dulu menjadi dunianya dan kini menjadi alasan kematiannya. “Aku… membencimu…” bisiknya, hampir tanpa suara.
Nevan tidak bereaksi.
Valeska hanya mengangkat bahu.
“Perasaanmu tidak penting lagi.”
Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir. Kesadaran Braelyn mulai memudar. Suara-suara di sekitarnya semakin jauh. Cahaya lampu yang terang kini terasa menyilaukan. Dunia perlahan tenggelam dalam kegelapan. Namun di detik terakhir itu di saat jantungnya hampir berhenti— sesuatu di dalam dirinya bangkit.
Penyesalan.
Kemarahaan.
Kebencian.
Dan satu tekad yang begitu kuat hingga hampir terasa seperti teriakan dalam jiwanya.
Jika aku diberi satu kesempatan lagi…
Aku tidak akan mempercayai siapa pun.
Aku akan menghancurkan mereka.
Semua orang yang mengkhianatiku akan membayar.
Kegelapan menelan segalanya dan untuk sesaat tidak ada apa-apa.
“Braelyn.”
Suara itu terdengar samar. Jauh seperti datang dari tempat yang sangat dalam.
“Braelyn, bangun.”
Alis Braelyn sedikit berkerut. Tubuhnya terasa ringan.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada panas. Tidak ada racun yang membakar.
Ia mencoba membuka mata. Cahaya menyilaukan menyambutnya. Langit-langit putih. Lampu gantung yang familiar dan suara detak jantungnya yang kembali terasa normal.
Braelyn terdiam. Nafasnya terhenti sejenak. Perlahan, sangat perlahan, ia duduk. Matanya bergerak menyapu ruangan. Ruangan ini ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Ini adalah kamarnya di rumah keluarga Wilson. Namun sesuatu terasa berbeda.
Seperti kembali ke masa lalu.
Jantung Braelyn mulai berdetak lebih cepat. Tangannya gemetar saat ia melihat ke bawah tidak ada gaun pengantin. Tidak ada noda. Tidak ada rasa sakit. Hanya pakaian sederhana yang ia kenakan tiga tahun yang lalu.
Nafasnya tercekat.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pelayan masuk dengan ekspresi bingung.
“Nona Braelyn, Anda akhirnya bangun. Anda pingsan saat rapat tadi. Tuan meminta Anda beristirahat.”
Braelyn membeku.
Rapat…?
Itu adalah hari sebelum semuanya dimulai.
Hari di mana ia pertama kali memberi Nevan akses ke perusahaan.
Hari di mana kesalahan pertamanya terjadi.
Matanya perlahan melebar. Jantungnya berdegup kencang dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata Braelyn tersenyum. Namun senyum itu tidak lagi lembut. Tidak lagi hangat melainkan dingin. Berbahaya penuh perhitungan.
“Jadi… aku benar-benar kembali,” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal di atas selimut. Ingatan tentang racun.
Tentang pengkhianatan. Tentang kematian semuanya masih terasa nyata dan kali ini… ia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi.
Tatapannya berubah tajam. Penuh tekad.
“Nevan Conner… Valeska Becker…”
Ia menyebut nama itu satu per satu, seperti kutukan.
“Kalian tidak akan lolos.”
Namun tepat saat ia hendak bangkit sesuatu terasa aneh. Seperti ada yang mengawasinya.
Braelyn terdiam.
Perlahan, ia menoleh ke arah jendela. Tirai yang setengah terbuka bergerak pelan tertiup angin dan di balik kaca itu di kejauhan sebuah mobil hitam berhenti. Diam tak bergerak seolah sudah berada di sana sejak lama.
Jantung Braelyn berdegup lebih keras. Perasaan asing merayap di dadanya. Tidak nyaman dan tidak bisa dijelaskan. Seolah ada sesuatu atau seseorang yang juga mengetahui bahwa ia telah kembali dan sedang menunggunya.
“Jadi ini yang kamu maksud dengan permainan yang sebenarnya?”Suara Braelyn terdengar tenang, tapi sorot matanya tajam saat menatap dua pria di hadapannya. Ia berdiri di ambang pintu, tidak melangkah lebih jauh, seolah ingin memastikan bahwa ia masih punya pilihan untuk mundur kapan saja.Pria yang membawanya ke sini hanya tersenyum tipis, lalu berjalan masuk lebih dulu. “Kamu terlalu lama bermain sendirian. Wajar kalau kamu merasa semuanya ada dalam kendalimu.”Braelyn tidak menanggapi. Tatapannya beralih pada Eryx yang masih berdiri di dekat jendela. Pria itu tidak bergerak, hanya memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.“Aku tidak suka kejutan,” kata Braelyn akhirnya. “Terutama yang melibatkan dua orang yang sama-sama menyembunyikan sesuatu.”Eryx melangkah mendekat, pelan namun pasti. “Kalau begitu kamu harus mulai terbiasa.”Nada suaranya datar, tapi ada tekanan yang
“Tempatnya di mana?”Braelyn mengetik cepat tanpa ragu, matanya tetap terpaku pada layar ponsel. Detak jantungnya terdengar lebih jelas dari biasanya, bukan karena takut, tapi karena ia tahu malam ini akan menentukan banyak hal.Balasan tidak datang secepat sebelumnya.Beberapa detik terasa lebih panjang dari seharusnya lalu layar menyala.“Datang sendiri. Aku akan menjemputmu.”Braelyn menatap kalimat itu lama.Menjemput.Artinya orang itu tahu di mana ia berada.Sudah lama tahu.Ia menghela napas pelan, lalu membalas singkat.“Baik.”Tidak ada pilihan lain. Jika ia ingin tahu siapa yang bermain di balik bayangan, ia harus keluar dari zona aman. Ia berdiri dari kursinya, merapikan dokumen di meja tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya sudah jauh ke malam nanti. Setiap kemungkinan mulai ia susun. Setiap risiko ia ukur.Jika ini jebakan, ia harus siap.Jika ini peluang, ia tidak boleh melewatkannya.Malam datang lebih cepat dari yang ia rasakan. Rumah keluarga Wilson tampak lebih ten
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam, seperti seseorang yang benar-benar memahami situasi yang sedang ia hadapi.Apa kamu yakin hanya ada dua orang yang mengingat?Dadanya terasa sedikit sesak. Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang kembali. Lalu Eryx muncul dan mematahkan asumsi itu dan sekarang ada kemungkinan orang ketiga atau lebih.Braelyn mengunci layar ponselnya perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tidak boleh bereaksi gegabah. Jika pengirim pesan itu memang mengetahui sesuatu, maka ia pasti juga sedang mengamati.Sama seperti Eryx.Sama seperti mobil hitam itu semalam.“Semua orang tiba-tiba muncul di waktu yang sama,” gumamnya pelan. “Terlalu k
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn dengan ketelitian yang membuatnya tidak nyaman.“Aku tidak terbiasa meminta izin,” jawabnya ringan.Braelyn tersenyum tipis. “Kalau begitu mulai biasakan.”Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya udara yang terasa semakin berat di antara mereka. Dua orang yang sama-sama menyimpan rahasia, berdiri saling mengukur tanpa ingin menunjukkan kelemahan.Braelyn akhirnya memalingkan wajah. Ia tidak ingin terlalu lama terjebak dalam permainan tatapan yang tidak ada ujungnya.“Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, kamu bisa pergi,” ujarnya.Eryx tidak langsung bergerak. Ia justru berjalan perlahan mengitari ruangan, seolah rumah itu bukan milik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.