เข้าสู่ระบบ“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”
Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.
Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn dengan ketelitian yang membuatnya tidak nyaman.
“Aku tidak terbiasa meminta izin,” jawabnya ringan.
Braelyn tersenyum tipis. “Kalau begitu mulai biasakan.”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya udara yang terasa semakin berat di antara mereka. Dua orang yang sama-sama menyimpan rahasia, berdiri saling mengukur tanpa ingin menunjukkan kelemahan.
Braelyn akhirnya memalingkan wajah. Ia tidak ingin terlalu lama terjebak dalam permainan tatapan yang tidak ada ujungnya.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, kamu bisa pergi,” ujarnya.
Eryx tidak langsung bergerak. Ia justru berjalan perlahan mengitari ruangan, seolah rumah itu bukan milik Braelyn melainkan wilayah netral yang bisa ia jelajahi sesuka hati.
“Kamu cepat sekali mengambil kendali,” katanya santai. “Padahal baru saja kembali.”
Langkah Braelyn terhenti. Ia menoleh, menatap pria itu dengan sorot mata yang berubah lebih tajam.
“Berhenti bicara seolah kamu tahu segalanya.”
Eryx berhenti di dekat meja, tangannya menyentuh ringan permukaan kayu mengilap itu. “Aku tidak tahu segalanya. Tapi cukup untuk tahu bahwa kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama.”
Braelyn tidak menjawab. Ia tidak ingin memberi lebih banyak celah.
“Besok,” lanjut Eryx, “Nevan akan mencoba mendekati salah satu direktur keuanganmu.”
Kalimat itu membuat Braelyn membeku sesaat.
Itu benar.
Persis seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya.
Nevan tidak berhenti hanya karena ditolak. Ia akan mencari jalan lain. Dan target berikutnya memang direktur keuangan.
Braelyn menyipitkan mata. “Kamu yakin?”
Eryx menatapnya lurus. “Aku tidak datang ke sini untuk menebak.”
Keheningan kembali jatuh. Braelyn memproses informasi itu dengan cepat. Jika ini benar, maka ia punya kesempatan untuk memotong langkah Nevan lebih awal dari yang ia rencanakan. Namun masalahnya bukan di situ. Masalahnya adalah Eryx tahu dan itu membuatnya menjadi variabel yang jauh lebih berbahaya dari Nevan.
“Kenapa kamu memberitahuku?” tanyanya akhirnya.
Eryx tersenyum tipis. “Anggap saja… investasi.”
Braelyn tertawa pelan, tanpa humor. “Aku bukan proyekmu.”
“Belum,” jawab Eryx singkat.
Jawaban itu membuat sesuatu di dalam dada Braelyn bergetar. Bukan takut. Lebih ke waspada. Ia melangkah mendekat, menatap pria itu tanpa ragu.
“Kalau kamu pikir aku akan percaya begitu saja, kamu salah orang.”
“Aku tidak butuh kepercayaanmu,” ujar Eryx. “Aku hanya butuh kamu tidak menjadi penghalang.”
Braelyn mengangkat alis. “Dan kalau aku menolak?”
Tatapan Eryx berubah sedikit lebih dalam. “Kamu tidak akan.” Bukan ancaman. Lebih seperti keyakinan dan itu justru lebih mengganggu. Braelyn menarik napas pelan, lalu mundur satu langkah. Ia tidak ingin terbawa emosi dalam percakapan ini. “Keluar,” katanya akhirnya.
Eryx tidak protes. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berjalan menuju pintu. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan menoleh.
“Jangan terlalu percaya pada siapa pun,” ucapnya pelan. “Bahkan pada ingatanmu sendiri.”
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Braelyn berdiri diam beberapa detik, menatap pintu itu seolah berharap pria itu kembali. Namun tidak ada apa-apa. Hanya keheningan. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya terasa penuh.
Eryx Caspian.
Pria itu lebih dari sekadar misterius. Ia berbahaya. Namun yang lebih mengganggu adalah kemungkinan bahwa ia berkata jujur. Braelyn menutup mata sejenak. Ia tidak punya waktu untuk meragukan segalanya. Ia harus bergerak.
Besok pagi.
Direktur keuangan.
Ia harus memastikan Nevan tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
***
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Braelyn sudah berada di kantor sebelum sebagian besar staf datang. Ruangannya masih sepi, udara terasa dingin, namun pikirannya jauh lebih tajam dibanding hari sebelumnya. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang mulai hidup. Mobil-mobil mulai memenuhi jalan, orang-orang bergegas memulai hari mereka.
Hari yang sama. Tapi bagi Braelyn, semuanya berbeda.
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan ekspresi sedikit terkejut melihatnya sudah datang.
“Braelyn? Anda datang lebih pagi.”
Braelyn menoleh dan tersenyum tipis. “Pak Adrian. Saya ingin bicara sebentar.”
Direktur keuangan itu terlihat ragu, tapi tetap masuk. “Tentu.”
Braelyn duduk, memberi isyarat agar pria itu ikut duduk di depannya.
“Ada sesuatu yang ingin saya klarifikasi,” katanya langsung.
Adrian mengangguk. “Tentang apa?”
Braelyn menatapnya lurus. “Tentang kemungkinan kerja sama dengan pihak luar yang belum disetujui.”
Ekspresi Adrian berubah sedikit. Tidak banyak, tapi cukup untuk tertangkap.
Braelyn tidak melewatkan itu.
“Belum ada pembicaraan resmi,” jawabnya hati-hati.
“Belum,” ulang Braelyn pelan. “Atau sudah ada yang mencoba mendekati Anda secara pribadi?”
Ruangan menjadi hening.
Adrian terlihat berpikir, menimbang jawaban.
Braelyn menyandarkan punggungnya ke kursi. “Saya tidak suka informasi yang berjalan tanpa sepengetahuan saya.”
Akhirnya, pria itu menghela napas. “Ada seseorang yang menghubungi saya tadi malam.”
Jantung Braelyn berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
“Seorang perwakilan dari Conner Group.”
Nama itu jatuh seperti kepastian.
Braelyn tersenyum tipis. Tidak terkejut.
Hanya semakin yakin.
“Apa yang mereka tawarkan?”
“Kerja sama investasi jangka panjang. Tapi saya belum memberi jawaban.”
Braelyn mengangguk pelan. “Bagus.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Mulai sekarang, semua komunikasi dengan pihak luar harus melalui saya. Tidak ada pengecualian.”
Adrian terlihat ragu. “Ini sedikit tidak biasa.”
“Begitu juga situasinya,” jawab Braelyn tenang.
Tatapannya tidak goyah sedikit pun. Akhirnya, Adrian mengangguk. “Baik.”
Braelyn tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Pria itu berdiri dan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Braelyn menghembuskan napas panjang. Satu Langkah ia berhasil memotong jalur pertama Nevan. Namun ini baru awal. Ia tahu pria itu tidak akan berhenti dan benar saja.
Ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Nevan Conner.
Braelyn menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Braelyn,” suara Nevan terdengar dari seberang, masih sama seperti dulu. Tenang. Meyakinkan.
“Ada apa?” jawabnya datar.
“Aku ingin bertemu.”
“Terlambat.”
Hening sejenak.
Nevan tampak tidak menyangka jawaban itu.
“Kau belum tahu apa yang ingin kubicarakan.”
“Aku tidak tertarik.”
Suara napas di ujung sana terdengar lebih berat.
“Kau berubah,” ujar Nevan.
Braelyn tersenyum kecil. “Kau baru menyadarinya?”
Ada jeda singkat lalu Nevan berkata pelan, “Kalau begitu… kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan.”
Panggilan terputus.
Braelyn menatap ponselnya tanpa ekspresi.
Ancaman atau janji ?
Ia tidak peduli. Namun sebelum ia sempat meletakkan ponsel itu, layar kembali menyala. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Braelyn membuka pesan itu perlahan. Hanya satu kalimat singkat tapi cukup untuk membuat darahnya terasa dingin.
“Apa kamu yakin hanya ada dua orang yang mengingat?”
Jantung Braelyn berdegup keras. Matanya terpaku pada layar. Pikirannya langsung kembali ke satu hal.
Eryx.
Tapi ini bukan darinya. Gaya bicara ini berbeda.
Braelyn menelan ludah pelan. Jika benar ada orang lain maka permainan ini jauh lebih besar dari yang ia kira dan untuk pertama kalinya sejak ia Kembali ia tidak lagi yakin siapa yang sedang ia hadapi.
"Tepat di titik persimpangan utama antara jalur timur, barat, dan utara ini, monumen ini akan berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang umat manusia," ujar Kael mantap, menepuk permukaan batu besar yang baru saja selesai ditegakkan.Di titik temu ketiga wilayah aliansi tersebut, para pekerja dari lembah, pesisir, dan dataran utara bergotong royong mendirikan sebuah tugu peringatan. Materialnya bukan lagi baja dingin dari menara tirani, melainkan batu alam yang kokoh dan lempengan logam sisa reruntuhan yang telah dilebur ulang menjadi simbol perdamaian. Braelyn memahat goresan garis peta tiga penjuru di permukaan tugu tersebut dengan ujung pisau belatinya, mengabadikan persatuan yang berhasil direbut melalui darah dan air mata."Setiap orang yang melintas di sini kelak akan tahu bahwa dunia ini tidak diperoleh secara cuma-cuma," ucap Braelyn lirih, menyeka debu batu dari telapak tangannya.Aris, Rian, dan Kirana berdiri berdampingan di dekat tugu tersebut, me
"Kehangatan api di balai desa ini jauh lebih berharga daripada seluruh sistem pemanas otomatis yang dulu dibangga-banggakan peradaban lama," ucap Kirana tersenyum, menuangkan semangkuk kuah kaldu panas ke hadapan Braelyn dan Kael.Balai utama permukiman Dataran Utara dibangun dari kayu pinus tebal dengan arsitektur melingkar yang dirancang khusus untuk menahan terpaan angin dingin pegunungan. Di tengah ruangan, perapian batu besar menyala terang, memancarkan kehangatan yang merata ke seluruh sudut ruangan. Para warga utara duduk berdampingan dengan rombongan dari lembah timur dan pesisir barat, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu erat di balik benteng alam Gunung Kendeng.Kael mengeluarkan gulungan peta perkamen miliknya di atas meja kayu yang luas, lalu menambahkan garis penghubung baru berwarna hitam arang yang menyatukan sisi utara ke dalam jaringan rute perdagangan. Matanya berbinar puas melihat peta tersebut kini mencakup tiga wilayah besar yang saling te
"Pola asap itu semakin jelas, artinya mereka sengaja menunggu kedatangan kita di seberang tebing ini," ujar Rian, merapatkan jubah wolnya untuk menahan terpaan angin gunung yang bertiup kencang.Rombongan kecil Braelyn kini berdiri di tepi jurang batu yang memisahkan bukit tempat mereka berpijak dengan tebing curam Gunung Kendeng. Di seberang jurang, jalur setapak yang melingkar naik ke puncak tampak jelas, dihiasi oleh beberapa orang pengawas bersenjatakan busur tradisional yang melambaikan tangan ke arah mereka. Tidak ada permusuhan atau tanda-tanda ancaman yang ada hanyalah isyarat sambutan hangat dari para penyintas dataran utara."Ada jembatan gantung tua di sisi barat lembah ini, kurasa itu satu-satunya akses aman untuk menyeberang tanpa harus turun ke dasar jurang," seru Kael sambil menunjuk struktur tali dan papan kayu yang membentang di antara dua tebing batu.Braelyn mengangguk mantap, mengawasi kondisi jembatan gantung yang tampak kokoh meskipun sudah
"Kita harus memastikan perbekalan pakaian hangat cukup untuk perjalanan ke utara, karena suhu di sekitar lereng Gunung Kendeng jauh lebih dingin dibandingkan lembah kita," ujar Aris sambil menyerahkan beberapa jubah wol tebal kepada Braelyn dan Kael.Pagi itu, suasana di gerbang Lembah Timur kembali dipenuhi kesibukan yang membuncah semangat. Rombongan kecil ekspedisi utara telah siap dengan ransel tebal dan perlengkapan bertahan hidup terbaik mereka. Selain Braelyn dan Kael, dua pemuda lembah yang terbiasa dengan medan terjal serta Rianyang ingin memastikan jalur perdagangan antarwilayah terhubung seutuhnya turut bergabung dalam tim tersebut. Setelah berpamitan dan menerima restu dari para warga yang berkumpul, mereka melangkah mantap meninggalkan gerbang permukiman, menyusuri jalan setapak menuju utara.Perjalanan hari pertama diisi dengan derap langkah yang bersemangat di bawah naungan kanopi hutan pinus yang lebat. Tidak ada lagi rasa waswas akan serangan drone ata
"Pagi yang tenang setelah malam yang luar biasa panjang," gumam Kael pelan, meregangkan otot-otot lengannya di ambang pintu balai desa Lembah Timur.Sisa-sisa kehangatan api unggun semalam masih mengepulkan asap tipis ke udara pagi yang sejuk. Di lapangan utama, beberapa warga pesisir barat dan lembah timur tampak bergotong royong merapikan meja-meja kayu dan sisa perbekalan pesta. Di tengah suasana damai itu, Kael membentangkan gulungan peta baru di atas meja panjang, menunjukkan garis-garis wilayah yang kini terhubung dari ujung timur hingga pesisir barat.Aris dan Rian melangkah mendekat, membawa mangkuk berisi buah segar dan air hangat. Perhatian Aris seketika tertuju pada sudut utara peta yang masih kosong, di mana sebuah tanda silang kecil digambar dengan arang."Semalam, sebelum tidur, aku sempat mengobrol dengan beberapa pedagang yang datang dari arah perbatasan bukit utara," kata Rian membuka percakapan, menunjuk titik utara pada peta. "Mereka melihat k
"Mana mungkin gandum lembah timur ini bisa terasa begitu lezat jika tidak dipadukan dengan garam laut murni dari pesisir barat?" seru Aris tertawa lepas, mengangkat mangkuk kayunya tinggi-tinggi di tengah kerumunan warga yang bersorak riuh.Malam perayaan penyambutan utusan pesisir barat di Lembah Timur berlangsung sangat meriah. Nyala api unggun besar memantulkan cahaya keemasan di wajah puluhan orang yang duduk melingkar di lapangan utama permukiman. Aroma harum daging panggang berpadu sempurna dengan harumnya rempah-rempah hutan dan bumbu garam khas pesisir. Di sudut lapangan, beberapa pemuda memainkan alat musik tradisional dari kayu dan senar kawat daur ulang, mengalunkan melodi riang yang membakar semangat kebersamaan.Rian dan rekan-rekannya tampak sudah membaur akrab dengan warga lokal. Mereka saling bertukar cerita tentang cara bertahan hidup, teknik berburu di hutan lebat, hingga keindahan ombak laut barat yang belum pernah dilihat oleh warga lembah. Gelak tawa d
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at







