Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra meletakkan cangkir kopinya. Tatapannya masih tertuju pada Sasa. "Katakan saja. Kamu sudah terlanjur bicara. Saya juga mau bicara sesuatu." Sasa semakin gugup. Apa yang mau dibicarakan Tuan Javen? Apa aku melakukan kesalahan lagi? batinnya panik. Ia menunduk sebentar, tangannya menggenggam ujung seragam lebih erat. "Saya tidak jadi, Tuan. Bapak… maksud saya Tuan Javen saja yang bicara duluan," ujar Sasa pelan. Javendra terdiam beberapa saat. Ia bersandar ke kursi, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia bicara dengan suara rendah dan tenang. "Saya butuh dipijat. Badan saya sering pegal akhir-akhir ini, terutama bahu dan punggung. Kalau kamu bersedia, saya akan bayar di luar
Last Updated : 2026-05-03 Read more