تسجيل الدخولSasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra meletakkan cangkir kopinya. Tatapannya masih tertuju pada Sasa. "Katakan saja. Kamu sudah terlanjur bicara. Saya juga mau bicara sesuatu." Sasa semakin gugup. Apa yang mau dibicarakan Tuan Javen? Apa aku melakukan kesalahan lagi? batinnya panik. Ia menunduk sebentar, tangannya menggenggam ujung seragam lebih erat. "Saya tidak jadi, Tuan. Bapak… maksud saya Tuan Javen saja yang bicara duluan," ujar Sasa pelan. Javendra terdiam beberapa saat. Ia bersandar ke kursi, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia bicara dengan suara rendah dan tenang. "Saya butuh dipijat. Badan saya sering pegal akhir-akhir ini, terutama bahu dan punggung. Kalau kamu bersedia, saya akan bayar di luar gaji. Langsung dibayar setelah selesai." Sasa terkejut. Ia tidak menyangka pembicaraan akan ke arah ini. Wajahnya sedikit memanas, tapi ia berusaha tetap tenang. "Itu… boleh, Tuan. Saya bisa mencoba." Javendra mengangguk kecil, ekspresinya tetap datar. "Bagus. Nanti malam setelah saya selesai meeting, kamu datang ke kamar saya. Kita lihat saja dulu." "Baik, Tuan Javen." Sasa membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang terasa berat. Pikirannya kacau balau. Di satu sisi ia lega karena Tuan Javen yang bicara duluan, tapi di sisi lain ia semakin gelisah. Memijat majikan di kamarnya malam-malam? Ditambah tawaran bayaran ekstra yang datang begitu saja. Sasa menggenggam tangannya sendiri sambil berjalan di koridor. Malam itu Sasa berdiri di depan pintu kamar Javendra. Tangannya gemetar saat mengetuk pelan tiga kali. "Masuk saja," jawab Javendra dari dalam. Sasa mendorong pintu dan masuk. Javendra sudah bertelanjang dada, duduk di tepi ranjang sambil menyesap wine. Sasa langsung menunduk, jantungnya berdegup kencang. "Maaf, Tuan. Saya datang seperti yang Tuan bilang tadi pagi," katanya pelan. Javendra meletakkan gelas wine-nya. "Tutup pintunya." Sasa menutup pintu di belakangnya. Ruangan terasa sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Ia butuh uang itu untuk ibunya, jadi meski gugup berat, ia tetap berdiri di sana. "Di mana Tuan mau dipijat?" tanya Sasa. "Punggung dan bahu," jawab Javendra. "Sering pegal." "Sebaiknya Tuan tiduran saja. Telungkup biar lebih mudah saya pijat." Javendra mengangguk dan langsung berbaring telungkup di ranjang. Punggungnya yang lebar dan penuh otot langsung terlihat jelas. Bahunya bidang, ototnya keras seperti batu. Sasa meneguk ludah berkali-kali. Tangan aku kecil begini, sanggup nggak ya memijat tubuh sebesar ini? batinnya gugup. Ia naik ke ranjang dan berlutut di samping Javendra. Tangan kecilnya diletakkan di bahu pria itu. "Kalau sakit, tolong bilang ya, Tuan," katanya pelan. "Hm." Sasa mulai memijat. Awalnya pelan dan hati-hati. Jemarinya menekan bahu Javendra yang keras. Ototnya sangat tegang. Ia menekan lebih kuat, menggunakan telapak tangan dan ibu jari untuk mengurut ke bawah. Javendra mengeluarkan suara pelan dari tenggorokan, seperti mendesah lega. Suara itu membuat Sasa semakin gugup. Ia terus bekerja, memijat bahu lalu turun ke punggung. Keringat mulai muncul di dahinya. Tangan kecilnya berusaha sekuat tenaga menekan titik-titik pegal. Semakin lama, semakin ia sadar betapa dekat mereka. Napas Javendra yang dalam terdengar jelas. Tubuh pria itu terasa panas di bawah tangannya. Sasa meneguk ludah lagi. Ia berusaha fokus, tapi sulit. Bahu lebar dan punggung keras itu membuat tangannya gemetar sesekali. "Di sini pegal, Tuan?" tanya Sasa saat menemukan titik yang sangat tegang di bahu kiri. "Iya. Di situ," jawab Javendra dengan suara agak serak. Sasa menekan lebih dalam. Jemarinya bekerja keras. Ia lelah, tapi tidak berhenti. Ia ingat ibunya, ingat biaya pengobatan, ingat bahwa ia butuh uang ini. Javendra sesekali mendesah pelan ketika Sasa menemukan titik yang tepat. Setiap desahan itu membuat dada Sasa berdegup tidak karuan. Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya, meski ini hanya pijat. Tangan Sasa sudah mulai pegal, tapi ia terus berusaha. Ia tidak tahu berapa lama sudah memijat. Yang ia tahu, malam ini terasa sangat panjang. Javendra bergeser sedikit. Otot punggungnya bergerak di bawah telapak tangan Sasa. "Cukup?" tanyanya. "Belum, Tuan. Masih ada yang tegang. Boleh saya lanjutkan sebentar lagi?" Javendra tidak menjawab dengan kata, tapi ia tetap diam di posisinya, memberi izin. Sasa melanjutkan memijat dengan tangan yang semakin lelah. Di dalam hatinya, ketegangan terus bertambah. Ia takut tangannya berhenti terlalu cepat. Ia takut Javendra tidak puas. Dan yang paling membuatnya gelisah adalah perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali jemarinya menyentuh kulit hangat dan otot keras pria itu. Sasa terus memijat punggung Javendra dengan kedua tangan. Tubuh pria itu benar-benar keras. Semakin ia menekan, semakin ia merasa tangannya kecil sekali dibandingkan otot yang tegang di bawahnya. Karena posisinya yang berlutut dan harus menjangkau lebih dalam, tubuh Sasa tanpa sengaja condong ke depan. Dada Sasa yang penuh secara tak sengaja menyenggol punggung Javendra yang telanjang. Javendra langsung tegang. Otot punggungnya mengeras seketika. Sasa tersentak kaget. Wajahnya memucat. "Maaf, Tuan! Maaf sekali!" katanya cepat sambil menarik tubuhnya ke belakang. Suaranya gemetar karena panik. "Saya tidak sengaja." Ruangan menjadi sangat hening. Hanya terdengar napas Javendra yang lebih berat. Sasa menunduk dalam-dalam, takut sekali. Ia sudah siap kalau pria itu marah besar atau langsung menyuruhnya keluar. Tapi Javendra tidak marah. Ia malah diam cukup lama sebelum bicara dengan suara rendah dan tenang. "Kamu mau uang lebih, Sasmaya?" Sasa meneguk ludah. Kata-kata itu membuatnya terdiam. Ia mengangkat wajah pelan, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. "Maksud Tuan apa?" tanyanya hampir berbisik. Javendra masih dalam posisi telungkup, tapi kepalanya sedikit menoleh ke samping. Suaranya terdengar jelas di tengah keheningan kamar. "Kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu berapa pun. Tapi kamu harus melakukan apa yang saya mau." "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" Jujur saja meskipun takut, Sasa sangat tergiur dengan tawaran itu. Apalagi dia memang sedang butuh uang untuk berobat ibunya. "Mudah saja kok, saya hanya ingin dipijat lagi." Sasa menghembuskan napas panjang. "Oh, rupanya dipijat, Tuan." Sasa sedikit lega. Kalau begitu, dia tidak masalah. "Ya, kamu mau?" Sasa mengangguk. "Mau Tuan, memangnya Tuan mau dipijat dibagian mana? Lengan atau di betis? Saya juga bisa pijat di kepala, kok, kalau Tuan Javen mau." Sasa berusaha semaksimal mungkin, dia berharap uangnya bisa cukup untuk biaya cuci darah ibunya. "Saya mau kamu pijat saya dibagian lain, tapi bukan dengan tangan kamu, Sasmaya." "B-bukan dengan tangan, Tuan? lalu dengan apa, Tuan Javen?"Menghela napas panjang, Bu Andini akhirnya tersenyum haru dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Nak Javen begitu baik... Ibu sampai tidak tahu harus membalas semua kebaikan ini dengan cara apa. Kalau memang ini yang terbaik agar Sasa tidak cemas... baiklah, Ibu menurut." "Terima kasih, Bu," balas Javendra lega, tersenyum tulus. "Nanti sore tim saya akan datang membantu merapikan dan mengemas barang-barang Ibu." "Ah, barang Ibu tidak banyak, Nak Javen. Hanya baju-baju lama dan sedikit perabotan sederhana," sahut Bu Andini pelan. Ia bangkit berdiri dengan perlahan. "Sebentar, Ibu ambilkan beberapa barang penting dulu dari kamar." Sasa ikut bangkit untuk membantu ibunya, meninggalkan Javendra yang memperhatikan interaksi manis ibu dan anak tersebut. Tak berapa lama, Bu Andini kembali membawa sebuah album foto usang yang sampul plastiknya sudah agak mengelupas. Album itu sangat tipis, menandakan betapa sedikitnya kenangan fisik yang berhasil mereka simpan di tengah perjuangan hidu
Di dalam ruang kerjanya yang sepi, kepala keluarga Aldebaran masih berdiri di tempatnya tadi. Kata-kata yang diucapkan Kenzo sebelum pergi terus bergema di kepalanya, terutama sebuah nama yang terlontar dari mulut putranya. Pria tua itu melangkah lambat menuju meja kerjanya, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Tangannya yang bergetar meraih sebuah lembaran dokumen lama yang tersimpan di laci terkunci. Matanya menatap kosong pada dinding di hadapannya, saat kenangan puluhan tahun yang selama ini ia kubur rapat-rapat mendadak pecah dan menyeruak keluar tanpa bisa ditahan. Napasnya terasa berat. "Tidak mungkin..." berbisik pria tua itu dengan suara serak yang gemetar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menahan guncangan emosi hebat yang menghantam dadanya. ** Sementara di sudut lain kota, suasana yang jauh dari kesan megah namun dipenuhi kehangatan tengah melingkupi sebuah kontrakan kecil di pemukiman padat. Sasa melangkah pelan keluar dari dapur sem
Suasana Mansion Maheswara pagi ini terasa sangat berbeda. Kehangatan yang tidak biasa tampak menyelimuti setiap sudut bangunan megah yang dulu terasa begitu dingin dan kaku. Berita mengenai lamaran Javendra dan Sasmaya semalam telah menyebar ke seluruh penjuru mansion. Para pelayan yang biasanya bekerja dalam diam kini bertukar senyum hangat setiap kali berpapasan dengan Sasa. Tidak ada lagi tatapan asing atau meremehkan. Mereka kini memandang Sasa bukan lagi sebagai mantan pelayan yang kebetulan beruntung, melainkan sebagai sosok yang memang sudah seharusnya berada di sisi Javendra Maheswara. Kasih sayang dan rasa hormat yang tulus terpancar dari bagaimana Bi Lastri dan Rani menyiapkan sarapan, atau bagaimana para penjaga memberi hormat dengan senyuman lebar. Sasa yang duduk di sofa ruang tengah perlahan menyapu pandangannya. Dada gadis itu bergemuruh. Tempat yang dahulu membuatnya merasa sangat asing, kecil, dan ketakutan, kini benar-benar telah berubah menjadi sebuah rumah ya
Mobil yang dikendarai Bram perlahan memasuki halaman Mansion Maheswara. Baru saja kendaraan berhenti, pintu utama bangunan megah itu terbuka lebar. Bi Lastri bersama Rani dan beberapa pelayan lain rupanya sudah menunggu sejak tadi. Begitu melihat Javendra turun lebih dulu lalu mengulurkan tangan pada Sasa, senyum mereka seketika mengembang lebar. "Selamat datang kembali, Tuan Javendra," sapa Bi Lastri hangat, kemudian pandangannya beralih pada Sasa yang masih terlihat sedikit canggung. "Dan selamat datang kembali, Sasa. Selamat atas lamarannya. Semoga kebahagiaan yang Tuhan titipkan malam ini selalu tinggal di hati kalian berdua." Ucapan itu langsung disambut anggukan antusias dari pelayan lainnya. "Selamat ya, Sasa." "Kami ikut bahagia sekali." "Semoga Tuan dan Sasa langgeng terus." Sasa sampai kehilangan kata-kata. Ia menatap satu per satu wajah penuh ketulusan di hadapannya dengan mata yang mulai menggenang. "Terima kasih... sungguh, terima kasih banyak," tutur Sasa h
Napas mereka berdua masih berpacu pelan di dalam keheningan kamar. Di balik selimut tebal yang melingkupi tubuh mereka, kehangatan murni saling menyatu. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai stabil. Jemari Javendra mengusap lembut bahu telanjang Sasa, memberikan ketenangan setelah badai gairah yang baru saja menyapu mereka. Sasa menyusupkan jemarinya di sela-sela jemari Javendra yang besar dan berurat, mengamati cincin tunangan mereka yang berkilau samar diterpa remang lampu tidur. "Mas Javen," panggil Sasa lirih, memecah kesunyian. Suaranya terdengar begitu manja dan hangat dari balik selimut. "Hm?" sahut Javendra, menunduk untuk mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Sasa. "Kenapa, Sayang?" Sasa mendongak sedikit, menatap garis rahang tegas calon suaminya dari jarak yang teramat dekat. "Kalau nanti kita sudah menikah... Mas punya impian apa?" Javendra tersenyum tipis, membelai pipi Sasa yang masih
WARNING! **Javendra menahan napasnya sejenak. Suara lembut Sasa yang membisikkan kata sayang terasa seperti pemantik api di tengah tumpukan jerami yang kering. Tatapan matanya yang tadi penuh kehangatan kini bertambah pekat, terbakar oleh gairah pria dewasa yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Tanpa melepaskan pandangannya dari manik mata Sasa, Javendra terkekeh rendah. Suaranya serak dan begitu berat. "Kamu benar-benar pintar membuat aku gila, Sasmaya," bisiknya, sangat jantan. Javendra tidak membiarkan Sasa menjawab. Ia kembali menyapu bibir gadis itu, kali ini dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan lapar. Sasa mendesah di dalam tautan bibir mereka, jemarinya meremas bahu kekar Javendra, merasakan betapa padat dan kuatnya otot-otot tubuh pria itu di balik kemejanya. Di tengah ciuman panas yang membakar itu, Javendra tiba-tiba membalikkan posisi tubuh mereka. Dengan kekuatan lengannya yang begitu kokoh, ia menuntun pinggul Sasa hingga kini gadis itu berada di ata
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







