首頁 / Romansa / Pelayan Kesayangan CEO Arogan / Bab 5 - Pijatan Plus Plus

分享

Bab 5 - Pijatan Plus Plus

作者: Apple Cherry
last update publish date: 2026-05-03 02:11:51

Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Tuan Javen, saya—"

Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan.

"Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang.

Javendra meletakkan cangkir kopinya. Tatapannya masih tertuju pada Sasa.

"Katakan saja. Kamu sudah terlanjur bicara. Saya juga mau bicara sesuatu."

Sasa semakin gugup. Apa yang mau dibicarakan Tuan Javen? Apa aku melakukan kesalahan lagi? batinnya panik.

Ia menunduk sebentar, tangannya menggenggam ujung seragam lebih erat.

"Saya tidak jadi, Tuan. Bapak… maksud saya Tuan Javen saja yang bicara duluan," ujar Sasa pelan.

Javendra terdiam beberapa saat. Ia bersandar ke kursi, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia bicara dengan suara rendah dan tenang.

"Saya butuh dipijat. Badan saya sering pegal akhir-akhir ini, terutama bahu dan punggung. Kalau kamu bersedia, saya akan bayar di luar gaji. Langsung dibayar setelah selesai."

Sasa terkejut. Ia tidak menyangka pembicaraan akan ke arah ini. Wajahnya sedikit memanas, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Itu… boleh, Tuan. Saya bisa mencoba."

Javendra mengangguk kecil, ekspresinya tetap datar.

"Bagus. Nanti malam setelah saya selesai meeting, kamu datang ke kamar saya. Kita lihat saja dulu."

"Baik, Tuan Javen."

Sasa membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang terasa berat. Pikirannya kacau balau.

Di satu sisi ia lega karena Tuan Javen yang bicara duluan, tapi di sisi lain ia semakin gelisah. Memijat majikan di kamarnya malam-malam? Ditambah tawaran bayaran ekstra yang datang begitu saja.

Sasa menggenggam tangannya sendiri sambil berjalan di koridor.

Malam itu Sasa berdiri di depan pintu kamar Javendra. Tangannya gemetar saat mengetuk pelan tiga kali.

"Masuk saja," jawab Javendra dari dalam.

Sasa mendorong pintu dan masuk. Javendra sudah bertelanjang dada, duduk di tepi ranjang sambil menyesap wine. Sasa langsung menunduk, jantungnya berdegup kencang.

"Maaf, Tuan. Saya datang seperti yang Tuan bilang tadi pagi," katanya pelan.

Javendra meletakkan gelas wine-nya. "Tutup pintunya."

Sasa menutup pintu di belakangnya. Ruangan terasa sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Ia butuh uang itu untuk ibunya, jadi meski gugup berat, ia tetap berdiri di sana.

"Di mana Tuan mau dipijat?" tanya Sasa.

"Punggung dan bahu," jawab Javendra. "Sering pegal."

"Sebaiknya Tuan tiduran saja. Telungkup biar lebih mudah saya pijat."

Javendra mengangguk dan langsung berbaring telungkup di ranjang. Punggungnya yang lebar dan penuh otot langsung terlihat jelas. Bahunya bidang, ototnya keras seperti batu.

Sasa meneguk ludah berkali-kali. Tangan aku kecil begini, sanggup nggak ya memijat tubuh sebesar ini? batinnya gugup.

Ia naik ke ranjang dan berlutut di samping Javendra. Tangan kecilnya diletakkan di bahu pria itu.

"Kalau sakit, tolong bilang ya, Tuan," katanya pelan.

"Hm."

Sasa mulai memijat. Awalnya pelan dan hati-hati. Jemarinya menekan bahu Javendra yang keras. Ototnya sangat tegang. Ia menekan lebih kuat, menggunakan telapak tangan dan ibu jari untuk mengurut ke bawah.

Javendra mengeluarkan suara pelan dari tenggorokan, seperti mendesah lega. Suara itu membuat Sasa semakin gugup. Ia terus bekerja, memijat bahu lalu turun ke punggung. Keringat mulai muncul di dahinya. Tangan kecilnya berusaha sekuat tenaga menekan titik-titik pegal.

Semakin lama, semakin ia sadar betapa dekat mereka. Napas Javendra yang dalam terdengar jelas. Tubuh pria itu terasa panas di bawah tangannya. Sasa meneguk ludah lagi. Ia berusaha fokus, tapi sulit. Bahu lebar dan punggung keras itu membuat tangannya gemetar sesekali.

"Di sini pegal, Tuan?" tanya Sasa saat menemukan titik yang sangat tegang di bahu kiri.

"Iya. Di situ," jawab Javendra dengan suara agak serak.

Sasa menekan lebih dalam. Jemarinya bekerja keras. Ia lelah, tapi tidak berhenti. Ia ingat ibunya, ingat biaya pengobatan, ingat bahwa ia butuh uang ini.

Javendra sesekali mendesah pelan ketika Sasa menemukan titik yang tepat. Setiap desahan itu membuat dada Sasa berdegup tidak karuan. Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya, meski ini hanya pijat.

Tangan Sasa sudah mulai pegal, tapi ia terus berusaha. Ia tidak tahu berapa lama sudah memijat. Yang ia tahu, malam ini terasa sangat panjang.

Javendra bergeser sedikit. Otot punggungnya bergerak di bawah telapak tangan Sasa.

"Cukup?" tanyanya.

"Belum, Tuan. Masih ada yang tegang. Boleh saya lanjutkan sebentar lagi?"

Javendra tidak menjawab dengan kata, tapi ia tetap diam di posisinya, memberi izin.

Sasa melanjutkan memijat dengan tangan yang semakin lelah. Di dalam hatinya, ketegangan terus bertambah. Ia takut tangannya berhenti terlalu cepat. Ia takut Javendra tidak puas.

Dan yang paling membuatnya gelisah adalah perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali jemarinya menyentuh kulit hangat dan otot keras pria itu.

Sasa terus memijat punggung Javendra dengan kedua tangan. Tubuh pria itu benar-benar keras. Semakin ia menekan, semakin ia merasa tangannya kecil sekali dibandingkan otot yang tegang di bawahnya.

Karena posisinya yang berlutut dan harus menjangkau lebih dalam, tubuh Sasa tanpa sengaja condong ke depan. Dada Sasa yang penuh secara tak sengaja menyenggol punggung Javendra yang telanjang.

Javendra langsung tegang. Otot punggungnya mengeras seketika.

Sasa tersentak kaget. Wajahnya memucat.

"Maaf, Tuan! Maaf sekali!" katanya cepat sambil menarik tubuhnya ke belakang. Suaranya gemetar karena panik. "Saya tidak sengaja."

Ruangan menjadi sangat hening. Hanya terdengar napas Javendra yang lebih berat. Sasa menunduk dalam-dalam, takut sekali. Ia sudah siap kalau pria itu marah besar atau langsung menyuruhnya keluar.

Tapi Javendra tidak marah.

Ia malah diam cukup lama sebelum bicara dengan suara rendah dan tenang.

"Kamu mau uang lebih, Sasmaya?"

Sasa meneguk ludah. Kata-kata itu membuatnya terdiam. Ia mengangkat wajah pelan, matanya penuh kebingungan dan ketakutan.

"Maksud Tuan apa?" tanyanya hampir berbisik.

Javendra masih dalam posisi telungkup, tapi kepalanya sedikit menoleh ke samping. Suaranya terdengar jelas di tengah keheningan kamar.

"Kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu berapa pun. Tapi kamu harus melakukan apa yang saya mau."

"T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?"

Jujur saja meskipun takut, Sasa sangat tergiur dengan tawaran itu. Apalagi dia memang sedang butuh uang untuk berobat ibunya.

"Mudah saja kok, saya hanya ingin dipijat lagi."

Sasa menghembuskan napas panjang. "Oh, rupanya dipijat, Tuan." Sasa sedikit lega. Kalau begitu, dia tidak masalah.

"Ya, kamu mau?"

Sasa mengangguk. "Mau Tuan, memangnya Tuan mau dipijat dibagian mana? Lengan atau di betis? Saya juga bisa pijat di kepala, kok, kalau Tuan Javen mau."

Sasa berusaha semaksimal mungkin, dia berharap uangnya bisa cukup untuk biaya cuci darah ibunya.

"Saya mau kamu pijat saya dibagian lain, tapi bukan dengan tangan kamu, Sasmaya."

"B-bukan dengan tangan, Tuan? lalu dengan apa, Tuan Javen?"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (17)
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
hadeh jevan.....emangnya kamu mau di pijit di bagian yg lainnya ya
goodnovel comment avatar
Viva Oke
eits tuan javen minta di pijat dengan apa nih. Weh mencurigakan
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Javen , kamu. mau. dipijat. bagian tubuh. yang. mana ? Kok, Sasmaya. diminta. memijat. ngga pakai. tangan
查看全部評論

最新章節

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 389 - Impian Javendra dan Obsesi Gila Kenzo

    Napas mereka berdua masih berpacu pelan di dalam keheningan kamar. Di balik selimut tebal yang melingkupi tubuh mereka, kehangatan murni saling menyatu. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai stabil. Jemari Javendra mengusap lembut bahu telanjang Sasa, memberikan ketenangan setelah badai gairah yang baru saja menyapu mereka. Sasa menyusupkan jemarinya di sela-sela jemari Javendra yang besar dan berurat, mengamati cincin tunangan mereka yang berkilau samar diterpa remang lampu tidur. "Mas Javen," panggil Sasa lirih, memecah kesunyian. Suaranya terdengar begitu manja dan hangat dari balik selimut. "Hm?" sahut Javendra, menunduk untuk mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Sasa. "Kenapa, Sayang?" Sasa mendongak sedikit, menatap garis rahang tegas calon suaminya dari jarak yang teramat dekat. "Kalau nanti kita sudah menikah... Mas punya impian apa?" Javendra tersenyum tipis, membelai pipi Sasa yang masih

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 388 - Sasmaya Yang Menggoda

    WARNING! **Javendra menahan napasnya sejenak. Suara lembut Sasa yang membisikkan kata sayang terasa seperti pemantik api di tengah tumpukan jerami yang kering. Tatapan matanya yang tadi penuh kehangatan kini bertambah pekat, terbakar oleh gairah pria dewasa yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Tanpa melepaskan pandangannya dari manik mata Sasa, Javendra terkekeh rendah. Suaranya serak dan begitu berat. "Kamu benar-benar pintar membuat aku gila, Sasmaya," bisiknya, sangat jantan. Javendra tidak membiarkan Sasa menjawab. Ia kembali menyapu bibir gadis itu, kali ini dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan lapar. Sasa mendesah di dalam tautan bibir mereka, jemarinya meremas bahu kekar Javendra, merasakan betapa padat dan kuatnya otot-otot tubuh pria itu di balik kemejanya. Di tengah ciuman panas yang membakar itu, Javendra tiba-tiba membalikkan posisi tubuh mereka. Dengan kekuatan lengannya yang begitu kokoh, ia menuntun pinggul Sasa hingga kini gadis itu berada di ata

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 387 - Aku Menginginkanmu

    WARNING Malam semakin larut ketika seluruh rangkaian acara akhirnya benar-benar usai. Pak Adrian dan Bram masih terlihat memastikan para tamu pulang dengan nyaman, sementara Bi Lastri, Rani, Ners Widya, dan Bu Andini telah lebih dulu beristirahat. Koridor hotel yang beberapa saat lalu ramai kini berubah sunyi, hanya menyisakan langkah pelan Sasa yang berjalan menuju kamar dengan senyum yang tidak kunjung hilang dari wajahnya. Sesampainya di dalam kamar, ia menutup pintu perlahan lalu menyandarkan tubuh di baliknya. Pandangannya kembali jatuh pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Bibirnya tanpa sadar kembali melengkung. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi malam ini benar-benar nyata. Ia sudah menerima lamaran Javendra Maheswara. Pria yang dahulu hanya ia kenal sebagai atasannya, kini telah menjadi tunangannya. Perasaan itu membuat pipinya kembali menghangat. Sasa berjalan mendekati cermin, memandangi pantulan dirinya beberapa saat sambil meng

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 386 - Sesuatu Yang Membingungkan

    Sasa tidak langsung menjawab. Air mata yang sejak tadi menggenang kini benar-benar jatuh tanpa mampu ia bendung. Jemarinya yang masih menggenggam tangan Javendra semakin mengerat, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, semua kebahagiaan yang sedang dirasakannya akan menghilang seperti mimpi. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum di sela tangisnya. "Mas tahu... selama ini saya selalu merasa hidup saya terlalu sederhana untuk bermimpi sejauh ini." Javendra tetap berlutut di hadapannya, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir perempuan yang dicintainya. "Sejak kecil, saya dan ibu hanya belajar satu hal, yaitu bertahan. Kami tidak pernah hidup berkecukupan. Yang kami pikirkan setiap hari hanya bagaimana besok masih bisa makan, bagaimana ibu bisa tetap berobat, dan bagaimana saya bisa terus tersenyum supaya ibu tidak ikut sedih melihat keadaan kami. Saya tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang memperlakukan saya seberharga ini." Sasa menarik napas panja

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 385 - LAMARAN

    Mobil yang dikendarai Bram akhirnya memasuki sebuah kawasan privat yang berdiri di atas perbukitan menghadap hamparan lampu kota. Begitu kendaraan berhenti, Sasa menatap ke luar jendela dengan dahi sedikit berkerut. Tempat itu bukan hotel, bukan pula restoran mewah seperti yang sempat ia bayangkan. Di hadapannya berdiri sebuah bangunan bergaya klasik dengan dominasi kaca tinggi yang memantulkan cahaya senja. Suasananya tenang, hampir tidak terdengar suara selain desir angin. "Mas... ini tempat apa?" tanya Sasa pelan. Javendra turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuknya sambil mengulurkan tangan. "Hari ini aku ingin memperkenalkan seseorang." Sasa semakin bingung, tetapi tetap menyambut uluran tangan itu. Jemarinya terasa sedikit dingin karena gugup. Begitu pintu utama terbuka, puluhan orang yang mengenakan pakaian formal langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Sasa refleks menghentikan langkah. Ia mengenali beberapa wajah. Di sana ada Pak Adrian, Bram, Bi Lastr

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 384 - Malam Yang Akhirnya....

    Kabar mengenai rapat panas di Maheswara Group tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebar ke kalangan pebisnis. Sebelum bursa ditutup sore itu, berbagai grup komunikasi antardireksi dan para pemegang saham sudah lebih dulu dipenuhi pembahasan mengenai keputusan Javendra Maheswara yang secara resmi mengalihkan sebagian kepemilikan saham pribadinya kepada seorang perempuan bernama Sasmaya Larasati. Nama yang sebelumnya nyaris tidak dikenal di dunia korporasi itu mendadak menjadi pusat perhatian. Di ruang rapat utama Aldebaran Group, beberapa direktur juga tengah membahas informasi yang sama. Berkas digital mengenai Sasmaya terpampang di layar besar, lengkap dengan riwayat pendidikan, latar belakang keluarga, hingga catatan singkat mengenai keterlibatannya di Mansion Maheswara. "Saya tetap sulit memahami keputusan Tuan Javendra," ujar salah seorang direktur sambil menutup tabletnya. "Saya tidak meragukan bahwa perempuan ini mungkin memiliki kecerdasan yang baik, tetapi dunia bisnis

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 2 - Kepergok Majikan

    Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 1 - Salah Pegang Milik Majikan

    "Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status