Masuk"Ah, Tuan Javen, tolong jangan." "Tenang saja, Sas, hanya ada aku dan kamu di sini." "Ugh, Tuan Javen, jangan!!" Sasmaya Larasati tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sejak bekerja di rumah mewah milik Javendra Prakasa Maheswara. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang, menjaga batas, dan tidak menarik perhatian. Namun semua itu runtuh saat Javen mulai mendekat. Pria arogan itu terbiasa mengendalikan segalanya, termasuk perasaannya yang perlahan menyeret Sasa masuk ke dalam permainan berbahaya.
Lihat lebih banyak"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.Pagi menyapa kamar utama dengan pancaran sinar matahari yang menerobos tipis di sela-sela tirai putih tebal. Udara AC yang dingin tak lagi terasa menusuk kulit, terkalahkan oleh kehangatan dua tubuh yang masih berpelukan erat di atas kasur berantakan. Sasa perlahan membuka matanya. Rasa pegal dan hangat masih mengaliri tubuhnya setelah malam panjang yang menguras tenaganya. Di hadapannya, paras tampan Javendra terlihat begitu tenang. Garis rahang tegas suaminya melunak saat tidur. Wajah pria yang biasanya penuh kendali itu kini tampak jauh lebih damai. Sasa tersenyum tipis. Jemari mungilnya terangkat, mengusap pelan alis tebal Javendra, menyusuri batang hidungnya yang mancung, lalu berhenti di bibir suaminya yang agak kering. "Pagi, Sayang," gumam Javendra dengan suara serak khas bangun tidur. Mata kelam pria itu terbuka, langsung menangkap wajah istrinya. Sasa sedikit terkejut, namun senyumnya makin terkembang. "Mas sudah bangun dari tadi?" Javendra tidak menjawab. Lengan keka
[WARNING - MATURE CONTENT] Kamar utama semakin terasa panas, seolah udara di dalamnya ikut membara. Cahaya lampu tidur yang redup membiaskan siluet dua tubuh yang sudah saling menempel tanpa jarak. Napas berat Javendra bercampur dengan helaan napas Sasa yang masih tak beraturan, masih terbawa cumbuan intens sebelumnya. Javendra menatap dalam manik mata Sasa yang redup, penuh binar gairah. Jemari besarnya merayap pelan menyusuri lekuk pinggang istri, menahan tubuh mulus itu dengan usapan hangat yang tegas. “Mas…” bisik Sasa serak, suaranya manja dan pasrah. Senyum tipis Javendra muncul, sarat dominasi. Tanpa melepaskan pandangan, ia menggenggam pinggul Sasa lalu membalik posisi mereka dengan gerakan lambat, terkontrol. Kini Sasa duduk di atas tubuh tegap suaminya. Tubuh mulusnya terduduk di paha kekar Javendra, sementara pria itu bersandar santai di tumpukan bantal, dada bidangnya terekspos sempurna di bawah cahaya keemasan. “Sekarang giliranmu yang memegang kendali, Sayang,” bis
[WARNING MATURE CONTENT] Kamar utama kian terasa panas dan kedap. Cahaya lampu tidur berwarna keemasan membiaskan bayangan dua tubuh yang makin menyatu di atas kasur empuk. Suara deru napas yang memburu dan ciuman-ciuman basah yang tercipta tak lagi tertahan. Javendra belum juga menuntaskan gejolak yang membakar dadanya. Pria tegap itu memilih menikmati setiap detiknya untuk membawa istrinya makin tenggelam dalam pusaran gairah yang pekat. Jemari panjangnya merayap turun dari perut mulus Sasa, menyapu lembut pangkal paha bagian dalam hingga membuat tubuh Sasa melengkung pasrah. "Mas... ah... panas..." bisik Sasa dengan mata berbinar sayu, menatap lurus pada paras tampan suaminya yang sudah basah oleh peluh tipis. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang teramat memikat. Ia merayap naik kembali, meraut bibir Sasa dalam satu kecupan dalam yang menuntut. Lidahnya menyapu rongga mulut Sasa dengan gerakan melumat yang pekat, menarik seluruh kesadaran istrinya agar makin terbuai be
[WARNING MATURE CONTENT]Pintu tebal di kamar utama terdorong tertutup rapat, mengunci seluruh kebisingan dunia luar. Javendra tidak membuang waktu untuk menurunkan Sasa ke lantai. Pria itu justru membawa tubuh mungil istrinya bergeser hingga punggung Sasa terbentur pelan pada daun pintu yang tertutup. Dalam keremangan lampu kamar yang redup, tatapan mata Javendra tampak begitu kelam, sarat akan gairah dan rasa kepemilikan yang sudah ia tahan sepanjang hari sejak di Bogor. "Mas... katanya mau mandi dulu..." bisik Sasa serak, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat tatapan suaminya yang begitu intens. Javendra tidak menjawab dengan kata-kata. Kedua tangannya terangkat mengurung tubuh Sasa di antara pintu dan dada bidangnya. Pria itu menunduk tajam, meraut bibir Sasa dalam satu sentakan ciuman yang dalam dan panas. Ciuman itu tidak lagi memiliki celah untuk kelembutan yang lambat. Javendra melumat bibir manis istrinya dengan ritme menuntut yang dominan, menyapu seluruh bagian
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak