Mendengar permintaan Sasa, rahang Javendra seketika mengeras. Sepasang matanya yang semula melembut kini berkilat tajam penuh kilatan emosi. Dia tidak menyangka, di saat dia sudah memberikan segalanya malam ini, Sasa justru menggunakannya sebagai celah untuk melarikan diri dari sisinya. "Mengundurkan diri?" desis Javendra, suaranya mendadak berubah sedingin es. "Apa kamu bilang, Sasa?" Sasa tidak sanggup membalas tatapan itu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri yang terasa sangat dingin. Namun, di balik ketakutannya pada amukan Javendra, pikiran Sasa justru berputar jauh, terseret kembali pada untaian memori masa lalunya yang penuh air mata. ** Suara rintik hujan yang bocor menetes ke dalam ember plastik terdengar nyaring di dalam kamar kontrakan sempit berukuran tiga kali tiga meter. Sasa kecil yang baru berusia empat tahun duduk meringkuk di sudut kasur lantai yang sudah menipis. "Ibu... Sasa lapar," bisik bocah kecil itu sambil menarik-narik u
Baca selengkapnya