Tidak lama setelah Ibu Andini menyelesaikan kalimatnya, sebuah dering ponsel terdengar nyaring di atas meja nakas tepat di samping ranjang. Layar ponsel jadul milik ibunya menyala, menampilkan sebuah nama yang langsung membuat dada Sasa bergemuruh hebat. Sasa menatap layar itu dengan penuh kecurigaan. "Siapa, Bu? Mas Irwan, kan?" Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Sasa langsung menyambar ponsel tersebut. Dia menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkannya ke telinga dengan rahang yang mengatup rapat. "Ini Sasa," ucap Sasa langsung, suaranya terdengar dingin dan tanpa basa-basi. Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas lega yang sangat familier. "Wah, iya Sasa. Kebetulan sekali kamu yang angkat. Saya baru saja sampai di rumah sakit mau jenguk ibu, tapi kata petugas di bagian administrasi, ibu sudah dipindahkan. Kalau boleh tahu, sekarang ibu dirawat di ruangan mana, ya?" Mendengar nada suara Irwan yang seolah tanpa dosa, rasa amarah Sasa yang sejak tadi ditahann
Baca selengkapnya