Liriel mendongak, keningnya mengernyit erat. "Reiji, ketemu tidak?" Teriakan itu membuat pria yang tengah berdiri di dahan pohon tinggi tersebut ikut mengernyitkan pelipisnya. Namun, Reiji tetap diam, memilih fokus menajamkan indranya untuk mencari. Gadis itu mendesah pelan, menggosok-gosok keningnya yang mulai terasa pening. Ia kemudian mengalihkan perhatian pada rubah kecil di hadapannya. "Bagaimana denganmu, Seliora?" Seliora membuka matanya, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi murung. Respons itu membuat Liriel kembali mengembuskan napas berat. "Ke mana Belia pergi?" gumam Liriel frustrasi. Tepat saat itu, Reiji membuka matanya. Ia melompat turun dari dahan pohon dengan gerakan seringan bulu, lalu berkata pelan, "Aku menemukannya." Mata gadis itu langsung berbinar cerah. Ia bergegas menghampiri pohon tempat pria itu berada. "Kalau begitu, ayo kita ke sana!" Reiji tidak langsung menjawab. Ia menatap Liriel dengan pandangan yang teramat dalam. Tanpa disadar
閱讀更多