INICIAR SESIÓNSetelah terbangun, Liriel mendapati dirinya berada di tengah hutan, tanpa ingatan apa pun. Sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara yang mengaku sebagai sistem pun terdengar. Jika Liriel ingin mendapatkan kembali seluruh ingatannya dan identitasnya, ia harus menyelesaikan sebuah misi yang mustahil. [Bunuh sang raja.] Tentu saja, sistem memberikan sedikit kelonggaran dengan memerintahkan Liriel untuk mengumpulkan tujuh pejuang kuat untuk membantunya menyelesaikan misi tersebut. Liriel: "Apa yang harus aku lakukan agar mereka setuju untuk membunuh raja yang mereka percayai?" Sistem: "... Sebenarnya, segalanya mungkin. Namun, aku sarankan agar Tuan Rumah menaklukkan mereka." Liriel: "Menaklukkan...?" Akhirnya, gadis yang mengalami masalah ingatan itu menemukan tujuh pejuang hebat dan menyatakan dengan lantang: "Aku, Liriel, menantang kalian untuk duel, dengan ketaatan sebagai hadiah kemenangan." Tujuh pejuang hebat: "...." Sistem: "... ITU BUKAN JENIS PENAKLUKAN YANG AKU MAKSUD."
Ver másTheron berjalan dengan waspada di samping Lucian. Mengawasi setiap gerakan di sekelilingnya.Baju zirahnya sebagian terkoyak dengan balutan perban yang terlihat menempel di kulit. Di depannya, Lucian tampak tidak terganggu di hutan ini.Pakaiannya masih bersih tak ternoda. Dia tampak santai di tengah ilusi yang terkadang bisa menjebak Theron.Keheningan yang damai ini mendadak pecah akibat suara napas kacau disertai langkah kaki tergesa-gesa.Theron mengeratkan genggaman pedangnya, menatap tajam ke arah asal suara. Beberapa detik kemudian, bulu oranye kemerahan menyala melompat keluar dari semak-semak.Seekor rubah kecil menabrak pohon terdekat. Rubah itu mengerang pelan sambil menggumamkan sesuatu.“Sungguh sial, ini ketiga kalinya aku menabrak...”“Aduh, kepalaku sakit,” tambahnya sambil mengusap kepala berbulunya.Dia menguap lebar, rasa kantuk menyerbu. Dari kemarin Seliora tak sempat tidur, untuk anak 5 tahun, sepanjang waktu itu cukup berat.Seliora merentangkan tubuh, lalu menj
"Hapus pandangan iba itu dari matamu. Mereka tidak butuh dikasihani, baik Viner maupun Belia jauh lebih kuat dari yang kau kira. Dan—" Suara Reiji mendadak terhenti, tatapannya melihat kejauhan ke tempat Viner berada.Refleks, Liriel menoleh, memelototi pria itu tidak senang sambil mendengus. "Aku tidak merasa kasihan!""Aku hanya... ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu bukan kasihan!” Gadis itu memalingkan wajah, dengan tangan terlipat di dada dan wajah tertekuk.Reiji diam memperhatikan gadis itu berjalan pergi meninggalkannya dengan marah. Bibir merahnya terbuka dan menutup, melontarkan semua omelan.Tanpa sadar, sekilas senyum melintas di wajahnya. Reiji melirik ke belakang sejenak sebelum bergegas mengikuti Liriel, mencegah gadis itu tersesat di hutan ilusi ini.“Hati-hati, jika terus cemberut nanti cepat tua." Pria itu menusuk pipi Liriel dengan ujung jarinya, terkekeh pelan saat ia merasakan tubuh gadis itu sedikit kaku.Liriel menepis tangan Reiji, mendengus sekali lagi. N
Kelopak mata Viner perlahan terbuka. Cahaya samar jingga dari sela-sela dedaunan menampakkan kilau keemasan di ujungnya. Matahari perlahan bangkit untuk menyinari hari baru.Dia berkedip beberapa kali, menyipitkan mata menyesuaikan pandangannya. Perlahan dia menengadah, mencoba mencari tahu di mana ia berada sekarang.Seketika itu juga, dia membeku saat melihat gadis yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan senyum manis.Viner bisa merasakan bagaimana jari-jemari gadis itu mengusap lembut rambutnya. Ia tak kuasa menahan napas, tanpa sadar air mata merembes keluar.Namun, Viner tak sedetik pun berkedip seolah takut kekasihnya akan hilang bagai malam-malam biasa saat ia merindukannya dulu."Kenapa menatapku begitu? Ada sesuatu di wajahku? Atau..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu dengan wajah cemberut ia kembali berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi?""Hah? Tidak!" sangkal Viner tegas. Dia buru-buru bangkit ingin menjelaskan. Namun, rasa sakit di tubuhnya membuat pria
Setiap detik yang berlalu suhu di sini semakin menurun. Liriel memeluk dirinya, tubuhnya bergetar. Dia mendekati Reiji lalu memeluk erat lengan pria itu, mencari kehangatan di sana. "Bukannya kau itu makhluk laut, ya? Suhu segini saja sudah menggigil," ejeknya sambil melepaskan Liriel dan menghindar kesamping. Kedua alis Liriel berkerut erat, kesal dengan gerakan menghindar pria itu. Dia menggertakan gigi sebelum menerkanya. "Jangan bergerak! Sebagai rubah dengan banyak bulu, kamu tidak berhak menghakimiku." Dengan lihai Reiji mundur selangkah, membiarkan gadis itu terhuyung dan menggeram marah. Seringai tersungging di wajahnya. "Sigh... sekarang seorang pria harus pandai menjaga diri, apalagi dari gadis aneh yang selalu ingin memanfaatkannya," desahnya tak berdaya. "Hei!" Teriak Liriel tak terima. "Jangan mencuri dialogku! Dan... berhenti bergerak Reiji, biarkan aku merasakan kehangatanmu~" Sudut mata Reiji terkedut mendengar kata ambigu itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk m
"Mau sampai kapan kamu di sana? Cepat turun," kata gadis itu sambil menatap tajam satu pohon tak jauh darinya. Keheningan menyelimuti hutan, hanya suara dedaunan bergesekan dan hembusan angin lembut yang terdengar. Matanya menyipit, senyum penuh makna merekah di wajah cantiknya. "Masih tidak mau
Suara langkah kaki panik memecah keheningan hutan. Seorang gadis berlarian di antara semak dan pohon, keringat bercucuran di wajah cantiknya. [BERHENTI!] Langkah gadis itu seketika terhenti, mengakibatkan gadis itu hampir terpental. "Apa lagi kali ini?" Dia terengah-engah, menyeka keringat di pi
Cahaya matahari bersinar lembut, menerpa kesibukan di ibu kota Varelis. Liriel bersandar di tepi jendela memperhatikan semua itu. Sampai akhirnya deritan pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Seekor rubah kecil berlari dan melompat-lompat sebelum berdiri di samping gadis itu. "Kak Liriel bagaim
Di tengah rerumputan, terbaring seorang gadis muda. Rambut panjang bergelombang dengan warna perak kebiruan transparan, tergeletak di rumput di dekatnya. Siulan angin membuat bulu mata gadis itu bergetar. Lalu kelopak matanya mulai terangkat, memperlihatkan sepasang mata berwarna ungu muda bercam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas