LOGINSetelah terbangun, Liriel mendapati dirinya berada di tengah hutan, tanpa ingatan apa pun. Sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara yang mengaku sebagai sistem pun terdengar. Jika Liriel ingin mendapatkan kembali seluruh ingatannya dan identitasnya, ia harus menyelesaikan sebuah misi yang mustahil. [Bunuh sang raja.] Tentu saja, sistem memberikan sedikit kelonggaran dengan memerintahkan Liriel untuk mengumpulkan tujuh pejuang kuat untuk membantunya menyelesaikan misi tersebut. Liriel: "Apa yang harus aku lakukan agar mereka setuju untuk membunuh raja yang mereka percayai?" Sistem: "... Sebenarnya, segalanya mungkin. Namun, aku sarankan agar Tuan Rumah menaklukkan mereka." Liriel: "Menaklukkan...?" Akhirnya, gadis yang mengalami masalah ingatan itu menemukan tujuh pejuang hebat dan menyatakan dengan lantang: "Aku, Liriel, menantang kalian untuk duel, dengan ketaatan sebagai hadiah kemenangan." Tujuh pejuang hebat: "...." Sistem: "... ITU BUKAN JENIS PENAKLUKAN YANG AKU MAKSUD."
View MoreDi tengah rerumputan, terbaring seorang gadis muda. Rambut panjang bergelombang dengan warna perak kebiruan transparan, tergeletak di rumput di dekatnya. Siulan angin membuat bulu mata gadis itu bergetar.
Lalu kelopak matanya mulai terangkat, memperlihatkan sepasang mata berwarna ungu muda bercampur biru laut, seperti cahaya misterius di kedalaman samudra. Dipenuhi kabut dan tampak linglung. “Di mana ini?” Suara gumaman lembut dan merdu terdengar sebelum lenyap terbawa angin. [Ding! Selamat Tuan Rumah sudah terikat pada sistem dunia binatang. Saya 114 siap melayani Tuan Rumah.] Suara muda dan kekanak-kanakan terdengar nyaring. Gadis itu terdiam sejenak, lalu dengan kaku memperhatikan sekelilingnya. “Sistem? Apa itu.” [Sistem adalah esensi kecerdasan buatan dewa semesta yang memiliki tugas untuk membantu menstabilkan dunia-dunia kecil.] Gadis itu beranjak duduk, tangannya menopang kepala yang terus berdenyut nyeri. “Lalu di mana kamu? Aku hanya mendengar suaramu tapi tidak dengan tubuhmu.” [Aku terhubung langsung dengan jiwamu, jadi aku tidak memiliki tubuh fisik. Namun, Tuan Rumah bisa berbicara dalam pikiranmu secara langsung, karena aku bisa mendengarnya.] Tanpa mereka sadari cahaya keemasan samar berkedip di mata gadis itu lalu menghilang sedetik kemudian. “Mm, baiklah. Kalau begitu. Apa kamu tahu… siapa aku?” [Tentu, host bisa melihat data dirimu di sini. Nama : Liriel. Usia : 18 tahun. Asal : Dunia Binatang. Ras : Ubur-ubur. Data ini sangat akurat. Namun, host mengapa kamu menanyakan ini? Apa kamu tidak ingat siapa dirimu sendiri?] Suara kekanak-kanakan itu terdengar bingung. Gadis itu tidak menjawab hanya memperhatikan dengan linglung panel sistem yang menampilkan identitasnya. “Liriel…,” bisik gadis itu pelan. “Terdengar familiar tapi aku tidak ingat apapun tentangnya.” [Host, kamu kehilangan ingatanmu!] Gadis itu memiringkan kepalanya, tidak mengerti mengapa suara sistem terdengar panik. “Sepertinya begitu– sudahlah, kalau hilang ya hilang.” Liriel berdiri, meregangkan tubuhnya sebentar. Lalu tatapannya menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu dan antisipasi kuat. “Dimana kita sekarang? Apa ada yang harus kita lakukan?” Daun-daun maple merah menyelimuti langit seperti lautan api yang membeku. Saat angin berhembus, helai-helai itu jatuh perlahan, berputar di udara sebelum menyentuh tanah yang lembap dan sunyi. [Tunggu sebentar Host, aku akan melaporkan masalah hilangnya ingatanmu dulu, jangan kemana-mana.] Setelah itu, Liriel bisa merasakan dengan samar, hilangnya sesuatu dalam dirinya. Namun, ia tidak terlalu peduli. Matanya berbinar melihat buah bergoyang pelan dari pohon di dekatnya. Dia berlari kecil, menghampiri pohon itu. Rambutnya memantul-mantul mengikuti gerakan melompatnya, setiap helainya tampak ringan dan mengalir, bergerak lembut. pakaian yang gadis itu gunakan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah dan menawan. Kulitnya pucat bening dengan semburat mutiara, memberi kesan rapuh namun memikat. Mata ungu muda tercampur biru lautnya berbinar-binar, gadis itu terlihat begitu cantik. Senyum merekah diwajahnya, saat akhirnya ia berhasil mengambil buah. "Hm~" Liriel bersenandung senang, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa buah lagi. [Host aku kembali.] Setelah mengunyah habis buah lezat ini. Liriel akhirnya memperhatikan sistem yang sudah mengoceh banyak hal padanya. "Hah? Siapa yang harus kubunuh?" Liriel tak bisa menahan seruan kaget. [Sang Raja. Huft...] Sistem menghela napas. [Aku juga tidak tahu mengapa kamu harus membunuh sang Raja untuk mendapatkan kembali ingatanmu.] Liriel memandang hamparan rumput tempat ia bangun lalu ikut mendesah. "Pertanyaannya sekarang bagaimana aku bisa membunuh Raja, kalau aku saja tidak ingat siapa diriku." Sistem tertawa riang dan menjawab penuh kemenangan. [Tenang saja Host, aku sudah mempersiapkannya! Kita bisa meminjam kekuatan dari tujuh pejuang hebat.] "Kamu yakin? Menyuruh mereka meminjamkan kekuatan untuk membunuh Raja yang mereka yakini?" tanya gadis itu. Tawa sistem seketika berhenti. [Umm... benar juga. Namun kita tidak bisa menyerah begitu saja! Kalau tidak Host akan hidup tanpa ingatan selamanya!] Liriel menghela napas, senyum tipis tersungging di wajahnya. Meskipun dia sendiri tidak terlalu peduli dengan ingatannya yang hilang. Namun mendengar semangat membara sistem membuatnya tertarik. Gadis itu berjongkok, mengambil ranting dan menebas-nebas rumput. "Baiklah, kamu punya saran agarmereka mau meminjamkan kekuatannya?" Sistem merenung. [...Sebenarnya, segalanya mungkin. Namun, aku sarankan agar Host menaklukkan mereka saja.] Menaklukkan? Mata Liriel berkedip, sedetik kemudian pupil ungu muda tercampur biru laut itu berbinar cemerlang. Spontan ia berdiri, dengan semangat membara gadis itu berseru, "Bagus! Ayo kita taklukan mereka!" Melihat itu Sistem ikut berseru. [Ayo!] .... Bangunan-bangunan tinggi menjulang dari akar dan batang pohon raksasa, dindingnya dari kayu gelap yang dipoles halus, jendelanya memantulkan cahaya hangat seperti bara api. Jembatan-jembatan lengkung menghubungkan satu menara ke menara lain, melayang di antara kanopi merah. Kota itu diselimuti kabut tipis, dengan daun merah berguguran membuat orang ingin mengelurkan tangan untuk menyingkirkan tabir tipis itu sekaligus merasa kagum dan penasaran akan misterinya. "Wow," seru gadis itu. Dengan perasaan terkagum-kagum, satu ubur-ubur dan satu sistem bergegas memasuki kota. Tanpa memperhatikan sepasang mata coklet kemerahan mengintip dari balik pohon. "Di sini kau rupanya." Suara serak dan merdu seorang pria mendekati pemiliki mata itu. Seekor rubah kecil melompat keluar dari balik pohon, dengan kaki kecilnya bergegas lari. Namun tangan pria itu bergerak lebih cepat dan berhasil menangkapnya. "Dasar gadis nakal, mau pergi kemana lagi kau." "Ying! Le-lepaskan," teriak rubah kecil itu, meronta-ronta. "Reiji bau, lepaskan." Pria itu tersenyum tipis, telapak tangannya menampar punggung rubah kecil itu. "Panggil aku kakak!" "Hm?" Reiji berhenti sejenak, hidungnya mengendus udara. "Laut...? Aneh sekali, sejak kapan suku kami kedatangan tamu langka ini." "Ayo pulang," kata pria itu sambil memangku rubah kecil ditangannya. ... Liriel memandang ke sana kemari penuh rasa ingin tahu, berlari-lari kecil melewati kios dipinggir jalan. Mulut kecilnya terus mengeluarkan seruan kagum. Sampai teriakan panik menyela perhatiannya. "Awas!" Refleks Liriel menoleh, seekor rubah kecil menghantam perutnya dengan kecepatan tinggi. "Ugh! Aduh–" "Ying, ying... kamu baik-baik saja? Maaf," ucap rubah kecil itu panik. Liriel memegang perutnya, merintih kesakitan. Dia mencoba untuk berdiri, sambil menopang rubah kecil yang sudah menangis di pelukannya. "Seliora!" Suara marah seorang pria terdengar nyaring, dengan langkah tergesa-gesa pria itu berlari mendekat. "Sudah berapa kali kubilang, jangan lari dijalan!" Rubah kecil itu berbalik, matanya berbinar melihat pria itu. "Wuuu... Reiji." Reiji segera memeluk sadara perempuannya, menenangkannya. "Jangan menangis, ini salahmu sendiri karena nakal." Liriel yang sedari tadi tidak diperhatikan, mengangkat tangannya. "Ugh... maaf mengganggu tapi bisakah kamu membantuku dulu?" Seliora melompat dulu, matanya memerah dan masih berkaca-kaca. Memperhalitan kakaknya membantu gadis yang dia tabrak berdiri. "Maaf atas kecelakaan ini Nona," ucap pria itu dengan nada menyesal. "Aku pasti akan menghukumnya saat kembali nanti." Gadis itu menarik napas, perutnya masih terasa sakit meskipun tidak separah tadi. Setelah menenangkan diri, akhirnya dia mendongak. Saat itu tatapannya membeku. Rambutnya merah kecokelatan jatuh berantakan namun tetap rapi, dipasangkan dengan sepasang mata keemasan cerah. Senyum tipis di sudut bibir dengan anting merah bergoyang mengikuti gerakannya. Bajunya memperlihatkan setengah kulit berwarna putih, dengan otot perut yang samar terlihat. Pria itu terlihat sangat tampan membawa pesona liar namun menawan. [Ding! Selamat Host sudah menemukan salah satu dari tujuh target!]Suara langkah kaki panik memecah keheningan hutan. Seorang gadis berlarian di antara semak dan pohon, keringat bercucuran di wajah cantiknya. [BERHENTI!] Langkah gadis itu seketika terhenti, mengakibatkan gadis itu hampir terpental. "Apa lagi kali ini?" Dia terengah-engah, menyeka keringat di pipinya dengan tangan. "Kamu sudah menemukan Reiji?" [Bukan itu, Host dari tadi kita hanya berputar-putar di satu tempat!] teriak sistem panik. "Sebentar biarkan aku bernapas dulu...." Liriel duduk bersandar di pohon, menarik dan menghembuskan napas perlahan. Tangannya mengibas pelan, mengusir panas. "Mari kita analisa lagi dari awal." Gadis itu mengambil ranting, menggambar sesuatu di tanah. "Pertama, aku dan Reiji masuk ke hutan ilusi ini lalu bertemu kelinci aneh kemudian—" Sistem menyela dengan nada datar. [Kamu sibuk bermain dengan boneka rubah sampai tidak sadar sudah terpisah dengan Reiji.] "Ekhem." Pipi gadis itu memerah, ia sedikit malu dengan kecerobohannya sendiri. "Ayolah, bo
"Kamu masih marah? Reiji~" Liriel mengetuk pelan punggung pria itu dengan jarinya. "Tidak," ketus Reiji tanpa menoleh. Pipi Liriel mengembung, melihat ketidakpeduliannya. Gadis itu terus mengetuk punggungnya dengan kekuatan yang semakin besar. Tepat saat Reiji berbalik dan ingin marah, ia tidak menemukan gadis itu di belakangnya. Pandangan pria itu menyapu sekeliling, mencari jejak Liriel. Tak jauh darinya, gadis itu sedang berjongkok di depan kios pedagang mainan. Matanya berbinar antusias memperhatikan pedagang menjelaskan berbagai jenis mainan. Reiji memijit pelipisnya, menghampiri gadis itu. Sampai di sana ia tidak berbicara, Reiji memilih berhenti beberapa langkah di dekat mereka, mendengarkan obrolan mereka. Liriel meraih boneka rubah oren kemerahan. "Pak berapa harga boneka rubah ini?" "Nona kamu memiliki mata yang bagus! Boneka ini dibentuk berdasarkan bentuk rubah Tuan Muda dan sangat populer di sini," jelas pedagang itu antusias. "Karena kamu dari wilayah luar, aku be
"Jadi cara yang kau maksud dengan mencari tahu tentang Belia dan..." Reiji berhenti, sejenak tak tahu harus berkata apa. "Menyamar menjadi gadis itu?" "Kalau tidak? Memangnya ada cara lain?" Liriel menyesuaikan lipatan gaun. "Aku tidak masalah dengan cara itu hanya–" Reiji memandang gadis yang sibuk merapikan bajunya. "Mengapa aku yang harus menyamar menjadi Belia?" Liriel mendongak. "Mau bagaimana lagi, warna mata dan rambutku berbeda dengan suku rubah. Hanya kamu yang bisa, jangan khawatir aku pasti akan membuatmu menjadi wanita tercantik di Klan Varelis." Semangat membara terpancar di mata gadis itu membuat Reiji terdiam. Dia menarik napas, menenangkan dirinya. Reiji mendorong Liriel dan berkata, "Keluar." "Eh? Kenapa, aku belum selesai mendandani-mu," teriak gadis itu tak terima. "Reiji–" BRAK. Suara bantingan pintu menunjukkan sebesar apa amarah yang pria itu miliki. [Host selamat, kamu berhasil memicu emosi dari Reiji.] Sindiran sistem membuat Liriel merasa bersalah sej
Cahaya matahari bersinar lembut, menerpa kesibukan di ibu kota Varelis. Liriel bersandar di tepi jendela memperhatikan semua itu. Sampai akhirnya deritan pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Seekor rubah kecil berlari dan melompat-lompat sebelum berdiri di samping gadis itu. "Kak Liriel bagaimana lukamu? Apa masih sakit." Gadis itu mengulurkan tangan, membelai lembut kepala rubah kecil. "Tidak apa-apa." "Pakai ini," ucap seorang pria saat berjalan mendekat. Liriel menoleh. "Ini..." "Obat penghilang rasa sakit milik Klan Varelis, obat ini sangat efektif," jawab rubah kecil. Dengan senyum lembut, Liriel menerima obat itu. "Baiklah, terima kasih." Reiji ikut tersenyum, lalu memandang keluar jendela. "Ibu kota masih sesibuk biasanya. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya kau datang kemari, kan?" Gadis berkedip perlahan. "Bagaimana kau—" "Warna rambut dan matamu terlihat unik. Untuk Klan Varelis yang didominasi suku rubah, mereka memiliki warna menyerupai daun maple," potong Rei












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.