Detik berikutnya, teriakan Baruga memenuhi ruangan.Bukan teriakan yang punya bentuk—tidak ada kata di dalamnya, tidak ada ancaman, tidak ada kalimat yang setengah diucapkan. Ini suara dari seseorang yang menemukan rasa sakit yang sebelumnya tidak pernah ada dalam referensinya, yang datang dari arah yang tidak ada kalkulasi yang mempersiapkannya.Lalu suara itu berhenti.Bukan karena sakitnya berhenti.Tangan kiri Caelan bergerak setinggi pinggang, dan energi spiritual yang keluar dari jari-jarinya menutup mulut Baruga dengan cara yang tidak memerlukan sentuhan fisik untuk bekerja. Yang tersisa hanya erangan—tertahan, terpaksa masuk ke dalam, yang mana itu justru membuat tekanan di wajah yang sangat merah itu semakin terlihat.Wajah Baruga sudah tidak lagi menyimpan ekspresi campuran dari yang tadi.Sekarang hanya satu—rasa sakit yang menguasai semuanya, merah yang keluar bukan dari malu tapi dari upaya keras menahan sesuatu yang tidak bisa ditahan.Di seluruh ruangan, tidak ada yang
Baca selengkapnya