Pemimpin Agung menerjang.Bukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya.Kali ini lebih cepat, lebih keras, dengan aura hitam yang masih mengalir dari tubuhnya menambah berat pada setiap gerakan. Bukan berat yang memperlambat, tapi berat yang membuat setiap serangan terasa seperti sesuatu yang bukan hanya pedang tapi seluruh tubuhnya yang menghantam.Caelan menggeser kakinya, menyesuaikan kuda-kuda, lalu menerima.KRANG. KRANG. KRAAANG.Dua puluh serangan dalam satu detik.Pedang perak tipis itu bergerak di tangan Pemimpin Agung seperti perpanjangan dari pikirannya. Tidak butuh waktu antara niat dan eksekusi, tidak butuh jeda antara satu serangan dan berikutnya. Dari leher, ke sisi kiri, ke lutut, kembali ke atas, menyilang ke kanan, turun lagi.Di tribun, yang terlihat bukan lagi gerakan individual.Yang terlihat adalah garis-garis—kilatan perak dan kilatan hitam emas yang saling bertabrakan di tengah arena, dengan percikan api menyebar setiap kali dua bilah itu bertemu. Percikan it
Mehr lesen