LOGINCaelan Voss menghabiskan empat tahun di balik jeruji besi demi melindungi wanita yang dia cintai, dan ketika dia kembali, yang dia terima bukan pelukan melainkan surat cerai. Dibuang oleh istri, dihina keluarga, diusir dari rumah sakit tempatnya pernah berjaya, semua orang di Velmont yakin Caelan sudah tamat. Yang tidak mereka tahu, empat tahun di penjara bukan menghancurkannya, tapi mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka kenal. Kini Caelan Voss kembali, bukan untuk meminta maaf atau meraih belas kasihan, tapi untuk memaksa semua orang yang pernah menginjak-injaknya berlutut di kakinya.
View MoreEmpat tahun Caelan Voss mendekam di balik jeruji untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Malam itu bukan dia yang mabuk, bukan dia yang memegang setir. Tapi ketika Serena berdiri gemetar di depannya dan berkata, "Tolong aku, Cael, karirku akan hancur jika aku masuk penjara." Caelan menyerahkan dirinya tanpa berpikir panjang.
Dia korbankan empat tahun hidupnya dan karirnya sebagai dokter, agar nama Serena Hale tetap bersih. Agar karir aktris dan penyanyi papan atas ini tidak ternoda satu pun skandal. Dan hari ini dia pulang. Tapi tidak ada pelukan. Tidak ada air mata haru. Yang ada hanya sebuah amplop putih, disodorkan dingin oleh tangan yang sama yang pernah dia genggam di altar pernikahan mereka. "Apa ini?" tanya Caelan. "Baca saja." Serena berdiri di tengah ruang tamu dengan gaun merah yang tidak pernah dia beli untuk menyambut suaminya. Rambut hitamnya diikat ke belakang dengan indah. Wajahnya sempurna. Tapi ekspresinya, dingin seperti marmer. Caelan membuka amplop itu. Matanya berhenti di baris pertama. Surat Permohonan Cerai. "Apa maksudnya ini, Serena?" tanya Caelan dengan ekspresi tidak percaya. "Artinya tepat seperti yang tertulis." Serena menyilangkan tangannya. "Kau mantan narapidana, Caelan. Kau tidak punya pekerjaan. Tidak punya masa depan. Dan namamu sudah hancur." Bibirnya melengkung tipis. "Lalu untuk apa aku bersama pria sepertimu?" Dada Caelan terasa seperti ditekan dari dalam. "Bukankah aku seperti ini karenamu? Empat tahun aku di penjara untuk sesuatu yang bukan kesalahanku—" "Aku tidak peduli." Diucapkan Serena tanpa ragu, tanpa sedikitpun rasa bersalah di wajahnya. "Lagipula," lanjut Serena, "aku sudah punya calon suami, dan dia jauh lebih baik darimu dalam segala hal." Tulang rahang Caelan mengeras. "Siapa?" Seolah menjawab pertanyaannya, deru mesin dari luar memecah keheningan, suara khas mobil sport kelas atas. Wajah Serena berubah seketika. Dingin mencair, diganti senyum yang tidak pernah Caelan terima bahkan di hari pernikahan mereka. Dia bangkit, melangkah ke pintu, dan membukanya lebar. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tinggi dengan rahang tegas, dan setelan gelap yang tidak perlu dipamer karena sudah berbicara sendiri. Rambut hitam tersisir rapi dengan satu helai yang jatuh natural ke dahi. Jam tangan di pergelangan kirinya saja sudah cukup untuk membeli apartemen di pusat kota Velmont. Caelan mengenalinya dalam sekejap. Harrison Blake. Nama itu tidak asing bagi siapapun yang tinggal di Velmont. Direktur utama Blake Medical Group, jaringan rumah sakit terbesar yang mencengkeram setengah fasilitas kesehatan kota ini. Namanya ada di gedung-gedung. Wajahnya ada di majalah bisnis. Kekuasaannya ada di tempat yang tidak terlihat tapi terasa oleh semua orang. Dan sekarang dia berdiri di depan pintu rumah Caelan sendiri. Serena tidak menunggu sepatah kata pun. Dia melangkah maju, meraih kerah jas Harrison, dan keduanya berciuman. Panjang, tanpa rasa malu, tanpa peduli bahwa suami sah Serena berdiri empat langkah di belakang mereka. Harrison melingkarkan tangannya ke pinggang Serena seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Api menjalar ke atas dada Caelan. Tangannya menggenggam surat cerai itu hingga kertasnya mengerut. Akhirnya Harrison melepas Serena dan melirik ke arah Caelan. Satu detik saja, tapi cukup untuk menyampaikan segalanya. Tatapan yang tidak menyimpan permusuhan, tidak menyimpan rasa bersalah. Hanya jijik, seperti memandang noda di lantai. "Bisa kita pergi sekarang?" tanyanya kepada Serena. "Tentu saja." Serena meraih tasnya dari sofa. Mereka melangkah keluar bersama. Caelan tidak bergerak, tidak bersuara, berdiri di tengah ruang tamu rumahnya sendiri seperti orang asing yang tersasar. Satu langkah sebelum masuk ke mobil, Serena menoleh. "Segera tandatangani surat itu, Cael." Suaranya ringan, seperti mengingatkan seseorang untuk membayar tagihan. "Jangan buang waktuku. Kau sudah tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, jadi jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan berpikir masih ada yang bisa dipertahankan." Klik. Pintu mobil tertutup. Mesin menyala, mobil itu pergi. Caelan berdiri di depan pintu yang terbuka, angin sore Velmont menerpa wajahnya. Di tangannya, surat cerai itu masih tergenggam, kertasnya kini kusut di bagian yang dia peras tanpa sadar. Perlahan, dia menarik napas panjang. Dia akan menemui ayah dan ibu mertuanya, menceritakan semua ini kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang selalu memperlakukannya dengan baik. Mereka pasti belum tahu apa yang terjadi. Caelan melipat surat itu, memasukkannya ke saku, dan melangkah keluar rumah dengan langkah yang panjang dan penuh harapan. Namun, apa yang dia harapkan berbanding terbalik dengan yang terjadi. Caelan berdiri di ruang tamu yang sama tempat dia dulu disambut dengan baik. Tapi kali ini, setelah dia menceritakan segalanya—Serena, surat cerai itu, Harrison Blake—tidak ada satu pun wajah yang berubah menjadi marah atas nama keadilan. Yang ada hanya keheningan, lalu tawa pendek dari Gerard; ayah mertuanya. "Jadi?" Gerard meletakkan cangkirnya dengan santai. "Kau datang ke sini mengharapkan apa? Kami membelamu?" Caelan terdiam. "Dengarlah, Caelan." Margaret; ibu mertuanya, menyilangkan kaki, menatapnya dari atas ke bawah seperti menilai barang bekas. "Kami memang tidak pernah benar-benar menganggapmu menantu. Kami hanya menoleransimu selama Serena mau bersabar. Dan ternyata kesabarannya sudah habis." "Empat tahun aku di penjara untuk putri kalian—" "Dan itu pilihanmu." Gerard memotong dingin. "Tidak ada yang memaksamu. Jangan datang ke sini seperti pahlawan minta tepuk tangan." Margaret menambahkan, "Kau pikir kami bangga punya menantu mantan narapidana? Setiap kali nama Serena disebut di media, namamu ikut muncul seperti noda. Kau mempermalukan keluarga ini hanya dengan bernapas." "Caelan." Suara Preston terdengar dari sudut ruangan. Caelan menatap adik iparnya, pria yang dulu berlari menyambutnya setiap kali dia datang berkunjung, mengajaknya bermain PS. Preston berdiri dengan tangan di saku, senyum tipis di wajahnya. "Jujur saja, kami semua lega. Serena layak mendapatkan yang lebih baik dari pria yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Harrison Blake bisa memberikan segalanya. Sementara kau?" Matanya menyapu dari ujung kepala ke ujung kaki. "Apa yang bisa kau berikan? Catatan kriminal?" Sesuatu di dalam dada Caelan retak. "Tandatangani surat itu." Gerard berdiri, suaranya final. "Jangan persulit hidup Serena lebih dari yang sudah kau lakukan." "Dia sudah membuang cukup banyak waktunya untukmu." Margaret mengulurkan pena. "Sekarang pergi dan biarkan putri kami hidup dengan layak." Caelan menatap pena itu lama, lalu dia mengambilnya. Tangannya tidak gemetar ketika dia membubuhkan tanda tangan di atas surat itu. Satu goresan panjang yang menutup lima tahun pernikahan dan semua yang dia korbankan. Dia letakkan pena di atas meja, menyerahkan surat itu tanpa sepatah kata. Margaret merebutnya dengan cepat, matanya berbinar. "Akhirnya. Masa depan Serena akan sangat cerah sekarang." Dia melirik Caelan sekali lagi. "Tanpa beban sepertimu." Gerard sudah berbalik, tidak lagi tertarik. Caelan berjalan ke pintu. "Hei!" Preston memanggil dari belakang, suaranya penuh tawa. "Jangan lupa tutup pintu. Kau sudah cukup lama membawa hawa penjara ke rumah ini." Tawa Margaret mengikuti langkahnya keluar. Caelan menutup pintu dengan pelan. Bukan membantingnya, dan bukan karena dia tidak ingin, tapi karena ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang lebih dingin dari kemarahan. Angin sore Velmont menyapu wajahnya ketika dia melangkah menjauh. Di punggungnya, hinaan-hinaan itu masih berdengung.Di sisi kiri ruangan, sesuatu bergerak di wajah Brock—sangat kecil, tapi ada. Cara seseorang yang menelan sesuatu yang tidak enak tapi tidak punya pilihan lain yang lebih baik. Daven lebih berhasil menyembunyikannya, tapi cara matanya yang terlalu datar itu justru mengkomunikasikan hal yang sama.Ini selesai begitu saja?Sekte Lotus Api—yang namanya bahkan disebut dengan nada yang berbeda oleh sekte-sekte lain—diperlakukan seperti ini dan membiarkannya begitu saja?Tapi tidak ada satu pun dari kata-kata itu yang keluar ke permukaan.Karena keduanya sudah belajar, dengan cara yang lebih konkret dari yang biasanya dalam dua hari terakhir, bahwa meragukan keputusan Pemimpin Sekte adalah jenis kesalahan yang konsekuensinya tidak bisa dibatalkan.Caelan mengangguk. "Kalau begitu silakan bawa ketiganya sekarang. Mereka ada di kamar itu."Dia menunjuk ke arah pintu kamar di sisi kiri ruangan.Aldrus mengirim satu isyarat ke arah Brock dan Daven—gerakan tangan yang sangat kecil, tapi sudah cu
Setelah kotak susu kedua habis dan piring sarapan Caelan sudah bersih, Rex menoleh ke arahnya dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya—kepala sedikit miring, mata biru yang tidak pernah terlihat seperti milik anak empat tahun."Apa yang akan kita lakukan setelah ini, papa?""Menunggu." Caelan meletakkan serbet di atas meja. "Pria tua itu akan datang untuk menjemput ketiganya. Aku yakin dia tidak akan membiarkan mereka terlalu lama di sini."Rex mengangguk. Singkat, paham.Dan mereka tidak perlu menunggu lama.Dua puluh tiga menit setelahnya, telepon di saku Caelan bergetar."Dokter Voss." Suara Layla di ujung lain terdengar profesional seperti biasa, tapi ada sesuatu yang sangat terkendali di baliknya. "Keluarga Sterne ingin menemui Anda, beserta tamunya.""Tolong antarkan mereka ke atas, Layla. Terima kasih.""Baik, Dokter Voss."---Bel berbunyi satu kali.Caelan membuka pintu.Yang masuk pertama adalah Aldrus. Tongkat kayu hitamnya menyentuh lantai marmer suite dengan bunyi yang
Pukul delapan pagi.Bel kamar Presidential Suite berbunyi dua kali—ritme yang sudah Caelan kenal tanpa perlu melihat jam untuk tahu siapa yang ada di balik pintu.Dia membuka pintu.Layla berdiri di luar dengan troli sarapan yang sudah teratur rapi, kemejanya sempurna, rambut pendeknya tersisir rapi dan indah. Ekspresinya tenang dan terkontrol dengan cara yang sudah menjadi ciri khasnya sejak hari pertama Caelan mengenal wanita ini."Selamat pagi, Dokter Voss." Dia mendorong troli masuk dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. "Sarapan Anda—"Dia berhenti.Di tengah ruangan, duduk di lantai di depan televisi yang masih menyala dengan volume rendah, ada seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun. Mengenakan kemeja putih yang kebesaran—panjangnya hampir menyentuh lantai, lengannya dilipat berkali-kali sampai tangannya bisa terlihat—dengan rambut merah kecokelatan yang sedikit berantakan karena tidur dan dua mata biru cerah yang sekarang sedang menatap balik ke arahnya.L
Pada titik ini, Caelan sudah ada di sisi Rex sebelum angin di atas gedung ini sempat membawa semua sisa dari apa yang baru saja terjadi lebih jauh.Dua tumpukan abu. Dua jubah hitam kosong. Dua bilah pedang yang sekarang tidak punya pemilik."Begitu caramu mendapatkan energi spiritual, Rex?" Caelan menatap titik di mana Lu tadi berdiri. "Menyerap langsung dari tubuh seseorang?""Ya, papa." Rex menatap hasil kerjanya sendiri dengan cara yang tidak punya penyesalan di dalamnya—murni evaluasi. "Tapi jangan khawatir soal itu. Aku tidak akan menyerap dari sembarang orang." Matanya biru yang cerah menatap ke atas ke Caelan. "Hanya mereka yang datang dengan niat membunuhmu—atau aku.""Itu cukup adil." Caelan mengangguk. Lalu pandangannya bergerak ke dua pedang yang tergeletak di atap. "Apakah kau bisa menyerap energi dari benda-benda ini juga?"Rex memandang kedua bilah itu, lalu mengerutkan dahinya dengan cara yang terlihat lucu di wajah seukurannya tapi terasa sangat serius."Dari benda ma
Pembawa berita menampilkan tiga foto berdampingan di layar—Victor Ashford, Rosalind Crest, dan Edmond Whitaker. Nama-nama yang bahkan Gerard, dengan semua keterbatasan pergaulan sosialnya, mengenali artinya."—Victor Ashford, patriarch Keluarga Ashford, diselamatkan dari kondisi kritis hanya dalam
Blake Medical Group pukul satu siang tidak jauh berbeda dari Blake Medical Group di jam lainnya. Aktivitas yang teratur, staf yang bergerak dengan cara yang sudah terlatih, dan atmosfer yang dibentuk oleh uang yang cukup besar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai standar yang tidak perlu diumu
Jarum jam di ruang tamu kediaman Keluarga Hale sudah lewat dari angka sebelas.Gerard Hale tidak duduk.Sudah setengah jam dia mondar-mandir—dari sofa ke jendela, dari jendela ke pintu, dari pintu kembali ke sofa, dengan tangan di belakang punggungnya dan napas yang keluar lebih keras dari yang dip
Damien berjalan ke Caelan dengan cara seseorang yang sudah tidak punya pilihan lain yang lebih baik—setiap langkah terlihat dari lengan kirinya yang dijaga ketat di sisi tubuhnya, tidak bergerak, karena bergerak berarti rasa sakit yang baru saja terbukti lebih dari yang bisa dia toleransi.Tas hita












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews