Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat ketika Feng Long melangkah memasuki pekarangan Paviliun Anggrek Liar. Langkah kakinya tak lagi terseret dan pincang seperti saat dia mendekam di Istana Dingin. Jubah pangeran berwarna biru tua sewarna langit senja melekat di tubuhnya yang masih kurus, namun dagunya kini terangkat. Ada harga diri baru yang berdenyut di dalam nadinya. Begitu pintu paviliun tertutup rapat di belakangnya, Feng Long langsung menjatuhkan lututnya di atas lantai kayu. Di hadapannya, Lichun sedang duduk dengan tenang, menyeduh teh krisan yang aromanya menenangkan. "Berdirilah, Pangeran Feng Long. Di tempat ini, tidak ada mata-mata yang perlu kita kelabui untuk sementara waktu," ucap Lichun tanpa menoleh, jemarinya yang lentik menuangkan air panas ke dalam cawan porselen. "Tidak, Selir Han. Biarkan aku tetap seperti ini," suara Feng Long terdengar berat, dipenuhi ketegasan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Dia mendongak, menatap sepasang mata manusia mil
Read more