Segera setelah itu, aku menutup aplikasi siaran langsung tersebut. Bangkit berdiri, lalu melangkah keluar menuju bandara.Di sepanjang perjalanan, ponselku terus-menerus menerima panggilan telepon dari Evan yang masuk tiada henti. Namun untuk saat ini, sudah sama sekali tidak ada yang mendesak lagi bagiku untuk mengangkatnya.Melihat panggilannya yang terus kuabaikan, dia mulai membanjiri kotak masukku dengan rentetan pesan singkat.[Sayang, apa maksud dari semua ini?] [Sayang, tolong angkat teleponnya, ya? Apa kamu lihat siaran langsung yang tadi?] [Sayang, kejadiannya benaran nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mengatakan hal itu benar-benar cuma untuk menenangkan emosi Kamila saja agar dia mau turun.] [Sayang, apa maksud dari surat cerai yang kamu kirimkan pada Kamila? Cerai apanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk nggak cerai?] Menatap rentetan pesan yang terus bermunculan di layar ponsel, aku merasa teramat risi dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan nomor
Baca selengkapnya