LOGINDi hari jadi pernikahan kami, suamiku yang tidak pernah menyentuh dapur, tiba-tiba menyiapkan satu meja penuh hidangan. Setiap kali aku mencicipi satu suapan, Evan Sibana selalu bertanya dengan detail dan mencatatnya dengan serius. Di tengah-tengah itu, dia masuk ke kamar untuk menerima telepon. Itu nada dering khusus untuk asistennya, Kamila Lumban. Aku pun asal mengambil buku catatan yang dia tinggalkan di meja. Namun, aku mendapati halaman-halamannya dipenuhi catatan rapat yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. [Buncisnya agak mentah, Kamila harusnya nggak suka.] [Jamurnya agak keasinan, saat masak untuk Kamila nanti, ingat untuk mengurangi garam.] [Daging kambingnya terlalu perengus, saat masak untuk Kamila nanti, ganti dengan daging sapi saja.] Suamiku kembali dan hendak mengambil bukunya, tetapi dia langsung melihat apa yang sedang kulakukan. "Jenny Igmava, kamu benar-benar nggak punya sopan santun. Memangnya aku mengizinkanmu menyentuh barangku?" Baru saja aku hendak membuka mulut, kepalaku mendadak sakit luar biasa. Bayangan suamiku di hadapanku mulai berbayang. "Evan, aku merasa nggak enak badan, sepertinya karena buncis tadi belum matang ...." "Kalau begitu, aku harus cepat-cepat mencatatnya. Jadi saat masak untuk Kamila nanti, aku harus menumisnya lebih lama." Evan sama sekali tidak memedulikanku. Sambil terus menulis di bukunya, dia bergegas berjalan ke arah pintu. "Aku pergi keluar sebentar. Daya tahan tubuhmu, 'kan, bagus. Kalau merasa nggak enak badan, minum obat saja yang banyak." Sebelum pingsan, aku menelepon suamiku sekali lagi. Namun, dari seberang telepon hanya terdengar suaranya yang tidak sabaran. "Masalah sepele begini saja diributkan? Apa kamu mau mati? Kalau sudah mati, baru telepon aku lagi!" Evan, aku tidak akan pernah mencarimu lagi!
View MoreSegera setelah itu, aku menutup aplikasi siaran langsung tersebut. Bangkit berdiri, lalu melangkah keluar menuju bandara.Di sepanjang perjalanan, ponselku terus-menerus menerima panggilan telepon dari Evan yang masuk tiada henti. Namun untuk saat ini, sudah sama sekali tidak ada yang mendesak lagi bagiku untuk mengangkatnya.Melihat panggilannya yang terus kuabaikan, dia mulai membanjiri kotak masukku dengan rentetan pesan singkat.[Sayang, apa maksud dari semua ini?] [Sayang, tolong angkat teleponnya, ya? Apa kamu lihat siaran langsung yang tadi?] [Sayang, kejadiannya benaran nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mengatakan hal itu benar-benar cuma untuk menenangkan emosi Kamila saja agar dia mau turun.] [Sayang, apa maksud dari surat cerai yang kamu kirimkan pada Kamila? Cerai apanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk nggak cerai?] Menatap rentetan pesan yang terus bermunculan di layar ponsel, aku merasa teramat risi dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan nomor
Dia langsung maju dan mendekap tubuhku erat-erat, suaranya sarat akan rasa iba. “Sayang, kamu kurusan banget.”Aku agak geli mendengarnya, lalu mendorong tubuhnya menjauh sembari melayangkan gurauan, “Memangnya sejak kapan aku gendut?”Setelah keluar dari kantor pengacara, aku berjalan menyusuri trotoar jalanan tanpa arah tujuan yang pasti.Entah karena memang sudah takdirnya begitu, atau mungkin karena Evan menganggapku terlampau mudah dikendalikan. Begitu aku mendongakkan kepala, aku langsung menangkap siluet Evan dan Kamila yang berdiri tidak jauh dari tempatku berada.Percakapan di antara mereka berdua pun terdengar dengan sangat jelas di telingaku.“Mulai sekarang jangan pernah lagi berpikiran licik dengan mengirimkan pesan pada Jenny! Aku nggak akan pernah menceraikannya!”“Evan, aku melakukan semua ini juga karena aku terlalu mencintaimu!”“Sekarang karena rencana kita sudah terbongkar, aku berencana untuk menggugurkan kandungan ini. Aku nggak akan mempertahankan anakmu, Jenny
Tepat pada detik saat Evan memajukan wajahnya, aku refleks mengulurkan tangan untuk mendorongnya menjauh.Melihat penolakanku, kilatan kekecewaan melintas di kedua mata Evan. “Sayang, kenapa kamu mendorongku?”Aku terus memundurkan tubuhku, sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan Evan, lalu menyahut dengan nada datar untuk berbohong, “Aku sedang flu, jangan sampai menular kepadamu.”Setelah berkata demikian, aku tidak lagi memedulikan Evan di hadapanku. Aku membalikkan badan memunggunginya, lalu kembali memejamkan mata untuk tidur.Mungkin karena suasana malam terlampau sunyi, aku bisa mendengar suara hela napas Evan yang terdengar berulang kali dari sampingku.Jika itu terjadi di masa lalu, aku pasti sudah membalikkan badan. Merengkuh tubuhnya erat-erat dalam pelukanku, lalu menenangkan dan membujuknya dengan wajah penuh rasa iba.Namun sekarang, aku hanya merasa terusik dan muak.“Aku sangat ngantuk. Bagaimana kalau kamu kembali ke kamarmu saja? Kamu tidur di sini membuatku ng
Sudut bibirku tertarik getir. Di kolom obrolan, perlahan aku mengetik beberapa kata. [Nggak tahu. Aku cuma tahu kalau pada saat itu, otakku benar-benar kacau.] [Sayang, ini sudah sepuluh tahun. Evan sudah lama bukan pria yang tulus dan setia seperti dulu lagi. Satu-satunya orang yang masih bertahan di masa lalu cuma kamu.] Menatap Evan di hadapanku, kepingan masa lalu kami mendadak terlintas satu demi satu di dalam benak.Aku dan Evan adalah teman masa kecil, kami tumbuh besar bersama. Namun, hubungan kami adalah jenis teman masa kecil yang selalu saling tidak cocok satu sama lain.Hingga akhirnya, orang tuaku bercerai. Kedua belah pihak sama-sama membangun keluarga baru mereka sendiri dan tidak ada yang sudi merawatku, sehingga aku terpaksa tinggal bersama Nenek.Masa-masa itu, bagiku, sebenarnya teramat menyiksa.Orang-orang mencibirku sebagai anak buangan yang tidak diinginkan, bahkan beberapa di antaranya menyebarkan rumor keji bahwa akulah penyebab perceraian orang tuaku.Lamb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.