Short
Cinta Tak Sehebat Robot

Cinta Tak Sehebat Robot

By:  NasgorCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
12Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di hari jadi pernikahan kami, suamiku yang tidak pernah menyentuh dapur, tiba-tiba menyiapkan satu meja penuh hidangan. Setiap kali aku mencicipi satu suapan, Evan Sibana selalu bertanya dengan detail dan mencatatnya dengan serius. Di tengah-tengah itu, dia masuk ke kamar untuk menerima telepon. Itu nada dering khusus untuk asistennya, Kamila Lumban. Aku pun asal mengambil buku catatan yang dia tinggalkan di meja. Namun, aku mendapati halaman-halamannya dipenuhi catatan rapat yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. [Buncisnya agak mentah, Kamila harusnya nggak suka.] [Jamurnya agak keasinan, saat masak untuk Kamila nanti, ingat untuk mengurangi garam.] [Daging kambingnya terlalu perengus, saat masak untuk Kamila nanti, ganti dengan daging sapi saja.] Suamiku kembali dan hendak mengambil bukunya, tetapi dia langsung melihat apa yang sedang kulakukan. "Jenny Igmava, kamu benar-benar nggak punya sopan santun. Memangnya aku mengizinkanmu menyentuh barangku?" Baru saja aku hendak membuka mulut, kepalaku mendadak sakit luar biasa. Bayangan suamiku di hadapanku mulai berbayang. "Evan, aku merasa nggak enak badan, sepertinya karena buncis tadi belum matang ...." "Kalau begitu, aku harus cepat-cepat mencatatnya. Jadi saat masak untuk Kamila nanti, aku harus menumisnya lebih lama." Evan sama sekali tidak memedulikanku. Sambil terus menulis di bukunya, dia bergegas berjalan ke arah pintu. "Aku pergi keluar sebentar. Daya tahan tubuhmu, 'kan, bagus. Kalau merasa nggak enak badan, minum obat saja yang banyak." Sebelum pingsan, aku menelepon suamiku sekali lagi. Namun, dari seberang telepon hanya terdengar suaranya yang tidak sabaran. "Masalah sepele begini saja diributkan? Apa kamu mau mati? Kalau sudah mati, baru telepon aku lagi!" Evan, aku tidak akan pernah mencarimu lagi!

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku menatap ponsel di tanganku yang panggilannya baru saja diputus sepihak. Otakku dipenuhi oleh kata-kata yang baru saja diucapkan Evan.

"Apa kamu mau mati? Kalau sudah mati, baru telepon aku lagi!"

Aku sekuat tenaga menekan gejolak emosi yang membubung di dalam dada. Sambil memaksakan tubuhku yang melemah, aku menggunakan sisa tenaga terakhirku untuk menghubungi nomor darurat ambulans.

Kenyataan membuktikan, bahwa dalam beberapa situasi, ambulans bahkan jauh lebih bisa diandalkan daripada seorang Evan.

Dokter mengatakan bahwa aku mengalami keracunan buncis dan jamur secara bersamaan. Untung saja aku segera dibawa ke rumah sakit. Jika terlambat beberapa menit saja, saat ini aku tidak akan bisa berbaring dengan tenang di atas ranjang pasien.

Saat aku sedang berbaring menerima cairan infus, ponsel di sampingku tiba-tiba berdering.

Setelah tersadar dari lamunan, aku mengambil ponsel itu dan melihat layarnya. Ternyata Evan yang menelepon.

"Jenny, menurutmu tumis daging sapi itu lebih enak pakai daun bawang atau nggak?"

Pertanyaan Evan membuatku tercengang. Setelah tersadar, sudut bibirku tertarik membentuk senyum getir, lalu menyahut pelan, "Evan, aku di rumah sakit."

Di seberang sana, nadanya terdengar agak tidak sabar. "Ya, pergi sana, minta obat yang banyak."

Segera setelah itu, Evan langsung mengalihkan pembicaraan kembali ke topik sebelumnya. "Cepat katakan, sebenarnya lebih enak pakai daun bawang atau nggak?"

Baru saja aku hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam telepon. "Evan, asal itu masakan buatanmu, pakai daun bawang atau nggak, aku tetap suka kok."

Hanya dalam sekejap, panggilan itu langsung diputus.

Aku tertegun menatap ponsel yang layarnya sudah menggelap. Tiba-tiba, dua pesan masuk berturut-turut.

[Kantor mendadak ada proyek yang harus dikerjakan lembur, aku baru pulang besok.]

[Kalau ke rumah sakit, minta obat yang banyak. Kalau uangnya kurang, nanti aku transfer.]

Melihat deretan teks di layar, aku merasa jantungku seperti diremas kuat-kuat.

Lembur mendadak di kantor? Ke rumah sakit minta untuk minta obat yang banyak?

Bagaimana bisa seseorang bersikap seacuh itu?

Kali ini, aku hanya meletakkan ponsel itu begitu saja, tidak lagi membalas pesan Evan.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Di ranjang sebelah, ada seorang anak perempuan kecil yang dirawat. Melihatku yang terus terdiam sendirian, dia mendekat sambil tersenyum riang. Sambil menopang dagu, dia menatapku. "Kakak, kenapa Kakak sendirian?"

"Waktu Ibu dirawat dulu, Ayah selalu menemani Ibu. Kak, di mana suami Kakak?"

Aku memandang anak perempuan kecil yang berwajah polos di hadapanku ini, lalu berkata lirih, "Suami?"

"Kakak nggak punya suami."

Mendengar perkataanku, anak perempuan itu mendadak berdiri tegak. Sambil berkacak pinggang, wajah kecilnya memerah karena kesal. "Kakak bohong! Aku lihat sendiri kok, di dalam casing ponsel Kakak, jelas-jelas ada foto nikahan Kakak dengan laki-laki!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status