Mendengar bisikan itu, Renjana seketika terpaku. Tenggorokannya mendadak terasa kering, memaksanya menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya memalingkan wajah ke arah lain. Demi menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya, ia bergegas berdiri dari tempat duduknya. "Kayaknya untuk hari ini cukup, Naren. Aku lelah, aku lapar, aku butuh sesuatu untuk dimakan," ocehnya panjang lebar. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah usaha yang terlalu kentara untuk mengalihkan rasa salah tingkah di depan sang koki pribadi. Naren tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju pada Renjana, tenang namun menghanyutkan. "Saya sudah janji untuk membawa Nyonya ke suatu tempat setelah Nyonya sembuh," ucap Naren kembali, suaranya begitu lembut hingga membuat Renjana reflek menoleh, menatapnya tak percaya. "Tapi..." Renjana mencoba menyela, menyuarakan keraguannya. "Tenang saja, ini rahasia kita," sela Naren cepat. Pria itu menatap Renjana dengan tatapan lekat,
続きを読む