"Apa-apaan kamu, sayang? Jangan begini, kita bisa jadi sorotan publik!" ucap Andra setengah berbisik. Tangannya mencengkeram lengan Renjana, berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun dan hampir meledak saat itu juga. Air mata Renjana luruh seketika, membasahi pipinya yang kian memucat. Tatapannya tertuju lurus pada sosok perempuan cantik yang duduk di hadapan suaminya. Dada Renjana naik-turun menahan sesak yang mendadak menghimpit. Melihat situasi yang memanas, perempuan itu segera merapikan berkas-berkas di atas meja dengan kikuk. "Mbak Renjana, tolong jangan salah paham. Saya... saya hanyalah sekretaris yang diutus untuk menemui Pak Andra, tidak lebih," jelas perempuan itu dengan nada panik, membuat Renjana seketika terdiam kaku di tempatnya berdiri. "Apa itu benar? Lalu kenapa harus di tempat seperti ini..." suara Renjana bergetar, menuntut kejelasan. "Renjana, meeting itu tidak harus selalu di kantor!" sela Andra cepat, memotong kalimat ist
Baca selengkapnya