"Aku... boleh ikut bergabung?" ucap Renjana gugup. Ia berusaha menekan rasa sesaknya, mencoba bersikap biasa dan mengakrabkan diri kembali dengan keluarga suaminya. Tangannya meremas pinggiran baju dengan kuat, jemarinya gemetar hingga kukunya memutih. "Tentu saja, Sayang. Sini, gabung!" jawab Nonik. Sikapnya yang mendadak ramah membuat Renjana merasa sedikit lega. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah dan duduk di samping sang mertua. "Kamu sudah makan, Sayang? Ah, maaf. Tadi aku kira kamu akan ikut gabung di meja makan," ucap Andra tiba-tiba dengan nada yang terdengar penuh perhatian, padahal di telinga Renjana, kalimat itu terasa seperti duri yang menusuk hatinya. Renjana mengangguk kaku. "Tidak apa-apa, Mas," jawabnya singkat. Damar menatap Renjana dengan lekat, namun detik berikutnya ia membuang muka saat sosok Naren muncul di balik punggung Renjana. "Naren, ada apa, Nak?" suara Oma terdengar begitu lembut menyapa Naren. Renjana menoleh ke belakang, mendapati p
Baca selengkapnya