Keesokan paginya, badai salju tipis masih menyelimuti cakrawala perbatasan, namun sorotan matahari musim dingin yang redup berhasil menembus celah-celah awan, menerangi pelataran depan perkemahan utama Kekaisaran Yan. Di bawah pengawasan ketat ribuan prajurit zirah hitam yang berdiri tegak dengan tombak terhunus, rombongan utusan Khitan akhirnya melangkah membelah kabut es. Di tengah barisan mereka, sebuah kereta kuda yang luar biasa megah, dilapisi kulit beruang kutub dan dihiasi ornamen perak khas utara, bergerak lambat sebelum akhirnya berhenti dengan anggun tepat di depan tenda komando.Seorang utusan tua maju beberapa langkah, membungkuk dalam-dalam di hadapan Chu Canglan dan Shen Qingge yang berdiri berdampingan. Dengan suara lantang yang bergetar menembus udara dingin, ia menyampaikan maklumat bahwa Kekaisaran Khitan menawarkan gencatan senjata dan perdamaian semu. Sebagai jaminan atas sumpah tersebut, mereka menyerahkan seorang putri kerajaan mereka—adik kandung dari Putra Mah
Read more