Waktupun berlalu. Tak terasa siang telah berganti sore. Di satu halaman belakang yang luas, terdengar berbagai suara yang bising. Salah satunya tepukan tangan beradu dengan embusan napas kasar oleh banyak orang.Rino berjalan cepat dan menepuk paha Hadi dengan ujung tongkat. “Hadi, kuda - kudamu terlalu terbuka. Jika lawan menarik kerahmu, kamu bisa tumbang seketika!”Hadi tampak memperbaiki kuda-kudanya. Keringat membasahi kaos miliknya. Rino mengangguk saat Hadi sudah sesuai arahannya.Mata Rino kini mengamati Dimas. Ia memicingkan mata. “Dimas, jangan cuma mengandalkan tangan saja! Gerakkan pinggulmu! Putar woi!”“Aduh, Boss! Saya nggak kuat! Istirahat dulu yuk?” Seno terengah di pojok, tangannya bertumpu di lutut.Rino melirik jam tangannya. Ternyata hampir pukul empat. Ia menaruh tongkat ke tanah dan menyilangkan tangan. “Kalau begitu selesai. Sekarang aku mau lihat hasil latihannya. Hadi, Dimas, maju. Kalian sparing.”“Apa?
Leer más