Luna meletakkan jarinya tepat di bibir Rino. Ia mendorong lelaki itu menjauh dari tubuhnya. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas,” sahut Luna, “kamu nggak bisa sepelekan masalah ini. Kamu nggak tau kan, betapa tersiksanya aku setiap menghadapi Sekar.” Rino menundukkan kepalanya. Ia menghela napas panjang, sementara tangannya memijat keningnya sendiri yang mulai berdenyut. “Sekar lagi … Sekar lagi,” lirih Rino, “aku harus gimana sama Sekar, Sayang? Kamu tau, kan … dia itu nggak punya tempat tinggal. Nggak mungkin, kan … kalau aku usir dia cuman karena hal kecil gini.”Luna menggeleng pelan. Ia semakin kesal karena Rino masih tak juga memahami masalah ini. “Mas, kamu ini pura pura bodoh, atau memang bodoh, sih?” kesal Luna, “semua orang juga bisa lihat, siapapun juga bisa ngerasain kalo Sekar … perempuan yang kamu anggap adik itu … sebenarnya suka sama kamu. Dia itu benci dan nggak suka sama aku itu, ya … karena dia anggap aku ngerebut d
Read more