Mau Berapa Ronde?

Mau Berapa Ronde?

last update최신 업데이트 : 2026-06-18
에:  Chocoberry pie방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
7챕터
5조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Raka, mahasiswa miskin tak menduga dibalik sikap galak tante kosnya justru tersembunyi sifat binal. Sifat galaknya mulai berubah setelah ia menemukan sebuah cincin antik di gudang barang bekas rumah kos tempat ia tidur malam itu. Cincin itu seperti mengubahnya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Liar dan penuh gairah. Tante Feli yang awalnya galak itu, bahkan mau membebaskannya dari uang sewa, asal Raka mau menjadi simpanannya. Namun apa jadinya jika cincin bertuah itu justru memaksanya untuk berubah menjadi 'nakal' pada para wanita.

더 보기

1화

Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

"Baru pulang, Ka?"

"I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya.

Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yang sepi.

Wanita berusia empat puluhan itu selalu membuat Raka salah tingkah saat berpapasan. Ibu kostnya ini meskipun galak, tetapi sangat cantik dan sexy. Bentuk tubuh yang dia miliki, mampu menjadi magnet untuk setiap pria.

Badan tante Feli, montok dan sangat singset. Raka pernah melihat beberapa kali ketika pantat bahenol itu sedang melakukan zumba. Meliuk ke sana kemari, membuat gemas ingin meremasnya. Apalagi tonjolan kembar di dadanya, seakan mau tumpah.

Mungkin itu pula alasan mengapa dada tante Feli terlihat begitu kencang, menonjol, membuat mata terasa gemas, ingin sekali melihat lebih jauh ke balik belahan dada mulus itu. Berapa ya ukurannya, Raka yang tidak pernah melihat dalaman wanita secara langsung, dibuat penasaran. Raka menelan ludah, membayangkan bisa menggapai dan menikmati dada itu.

"Setiap hari selalu pulang malam, keluyuran saja kamu?" Tante Feli menutup majalah yang sedang di bacanya. Dia menatap Raka dengan tajam. "Kamu pikir tante ini penjaga malam, yang tiap hari harus nunggu kamu pulang!"

“Tante Feli …,” desah Raka dalam hatinya. Paha kencang itu terlihat begitu menantang, terekspos dengan hanya celana pendek yang dia kenakan. Saat tante Feli duduk seperti saat ini, celana pendek itu terlihat kecil seperti hanya mengenakan celana dalam.

Tanpa sadar Raka yang masih berdiri di depan pagar kost, memiringkan kepalanya. Penasaran untuk bisa melihat lebih jauh ke dalam celah yang dibuat oleh rongga celana tersebut. Ia ingin menguaknya sedikit dengan tangan, andaikan itu bisa dia lakukan.

Apa warna dalaman tante Feli? Apakah celana dalamnya berwarna sama dengan bra yang dia kenakan? Merah. Tali bra berwarna merah yang bersalipan dengan tali spageti dari atasan tanktop mini yang dikenakannya begitu menggoda, bahkan atasan ketat yang dipakai tante Feli, memamerkan pusar seperti biasanya.

“Raka!”

“I –ya, Tante.” Raka terkejut mendengar tante Fely membentaknya.

“Ditanya, malah bengong,” ujar pemilik suara cempreng itu kesal.

Tante Feli bangun dari duduknya dengan sedikit menghentakkan kaki. Raka menjilat bibirnya, saat hentakan itu membuat paha dalam wanita itu sedikit bergetar. Wanita yang belasan tahun lebih tua darinya itu, berjalan mendekat membuat mata Raka semakin terbelalak.

Dada itu naik turun, tanpa kawat penyangga. Kenyal-kenyal empuk, gatal rasanya tangan Raka ingin meremas, merasakan kelembutannya dalam angan.

“Bengong saja kalau diajak omong orang tua! Kapan kamu mau bayar uang kost?" Sepasang mata wanita itu membulat. "Kamu pikir semua nggak perlu uang! Listrik, air, kebersihan, perawatan gedung."

“I–iya, Tante. Gajian kemarin habis buat bayar uang kuliah dan buku.” Raka berbicara tanpa bisa melepaskan pandangan matanya di dada tante Feli yang montok, kenyal-kenyal empuk.

“Dasar!” Tante Feli memutar dadanya meninggalkan Raka.

Tapi mata Raka kembali terpana menatap ke arah bokong yang padat berisi itu. Kedua bongkahan itu berlenggak-lenggok, membuat imajinasi terliarnya semakin bekerja keras.

Dan benar saja, batangnya sudah mendesak ingin lolos dari celana yang menutupinya. Entah kenapa bagian tubuhnya yang satu ini begitu cepat bereaksi setiap kali melihat tante Feli yang sexy. Postur tubuh dan wajahnya terlihat seperti salah satu artis cantik di televisi, yang … ah, jadi sungkan menyebutkan nama mereka.

“Kunci pagar kalau masuk! Anak aneh!” Tante Feli berteriak galak lagi, sebelum masuk ke dalam rumah yang bersebelahan dengan pintu masuk kost.

“Iya, Tante sexy,” bisik Raka sambil menghela napas karena sesak.

Raka buru-buru menutup pintu pagar. Dia bergegas menuju ke kamar kostnya yang terletak di bangunan terujung, terpisah dari penghuni lain. Raka memang menempati kamar kost yang lebih kecil dari kamar lainnya, tapi kamar itu punya kamar mandi dalam.

Di dalam kamar dia segera melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Batangnya sudah berdenyut sedari tadi, hanya dengan melihat tubuh bahenol tante Feli. Meskipun penampilan Raka culun, sopan dan cenderung pendiam, tetapi dia tetap seorang lelaki yang memiliki fantasi liar seperti lelaki lainnya.

Raka membasahi tangannya dengan sabun sebanyak mungkin dan mulai bermain di bagian miliknya. Naik turun semakin kencang. Bergerak perlahan kemudian semakin cepat.

“Aah … Tante Feli.”

….

"Ka, bapakmu kumat neh …." Suara isakan seorang wanita dengan logat jawanya yang kental terdengar dari ujung sambungan telepon. "Sekarang ada di rumah sakit. Diinpus, disuntik."

"Lah …. Gimana ceritanya kok tiba-tiba kumat, Bune?"

"Bapakmu kondangan kemarin, putrine Bu Narti, Nella. Mantanmu loh." Suara Bu Lastri terdengar sedikit lebih tenang.

"Teman, Bu. Teman!" balas Raka. Dia tak mau Nella terhitung menjadi salah satu historynya karena kisah perselingkuhan gadis itu saat mereka berpacaran dulu. Raka sangat pantang untuk mengingat gadis materialistis itu.

"Yo wes, teman. Nella rabi karo Parto. Bapakmu semalaman lihat wayangan karo bapake si Nella. Dijamu sate kambing sama ketan durian," tutur Bu Lastri.

"Waduh," ucap Raka singkat. Dia tak tahu lagi harus berkata apa mendengar kedua makanan yang seharusnya merupakan pantangan dari bapaknya itu.

"Ka …. Kalau ada uang, kirim ke ibu. Ibu butuh buat bapakmu. Biaya pengobatan sama rawat jalannya nanti pasti buesaar ini."

Raka mendesah pelan. "Astaga, kirim uang. Padahal uang kost masih nunggak dua bulan, kalau uang sisa kukirim juga ke kampung. Artinya aku nunggak lagi sebulan. Terus kalau aku diusir …." Perhelatan di dalam hati Raka terputus ketika mendengar suara ibunya kembali.

"Ka, siapa lagi yang mau bantu kalau bukan kamu, putra satu-satunya."

"Iya Bu, besok Raka kirim sisa tabunganku." Tentu saja Raka tak dapat menolak permohonan dari ibunya.

"Makasih ya, Ka. Maaf, bapak sama ibu ngerepoti kamu. Bukannya dukung kamu kuliah." Suara isakan kembali terdengar dari seberang sana.

"Sssst …," desis Raka. "Wes toh, Bune." Raka berusaha menghentikan tangisan ibunya. Dia tahu perjuangan ibunya saat ini sangat berat. Mengolah sawah sendirian sekaligus memantau suaminya yang sedang mengalami stroke.

Sesaat setelah panggilan itu terputus, Raka mulai melamun tentang cara mencari uang banyak dengan cepat. Merampok atau menjadi perantara penjual narkoba mungkin adalah yang tercepat. Tapi dia tak punya nyali cukup besar untuk melakukan hal semacam itu.

Bekerja part time, dia sudah habis-habisan bekerja di kedai fast food. Apalagi yang bisa dia kerjakan sekarang. "Nggak ada waktu buat santai, pikirkan apa yang bisa menghasilkan uang," batinnya sambil memeluk guling dengan pandangan menghadap ke tembok.

Tembok berposter grup band korea favoritnya, Blackpink dengan pose personilnya yang sangat menggemaskan dan sexy, membuatnya mendesah karena rasa frustasi. Kemolekan paras wajah dan postur tubuhnya yang memukau benar-benar adalah dambaan para kaum adam.

Seketika kepalanya terasa pusing. Bagaimana besok dia akan menghadapi ibu kostnya yang galak itu. Walaupun sebenarnya Raka suka mencuri lihat karena bodynya yang aduhai, tetapi di lain pihak dia tidak suka jika sampai ditegur.

"Ah …. Biarlah. Walaupun diusir juga, tak apa. Lebih baik aku cari kost yang lebih murah, supaya bisa mengirim uang untuk membantu biaya pengobatan bapak di kampung," batin Raka.

Pria muda itu mencoba memejamkan matanya, tapi yang terbayang adalah badan sexy tante kost nya yang tadi menyambut kedatangannya.

….

"Kuat berapa ronde?" tanya Bu Feli tanpa basa - basi.

"M-maksud Tante?"

"Kamu bisa puasin aku berapa ronde?"

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
7 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status