Mendengar pembelaan Adrian, Rose langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya sengaja dibuat sedikit bergetar, dia melangkah maju untuk memeluk lengan Magnus dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan gerakan perlahan, Rose sengaja memposisikan tangan kanannya yang terbebat perban putih tepat di depan dada Magnus, memastikan sang ayah melihat "pengorbanannya". "Papa... ini semua salah Rose," suaranya bergetar menjadi tangisan lirih yang terdengar sangat menyedihkan. "Harusnya Rose bisa memegang tangan Leo lebih erat semalam. Jangan salahkan Kak Yura. Kakak... dia hanya salah paham, emosinya sedang tidak stabil setelah pergi dari rumah." Rose mengusap sudut matanya yang basah, melirik sekilas lorong koridor yang mengarah ke ruang dokter sebelum melanjutkan hasutannya dengan nada polos. "Kak Yura tidak sengaja membesar-besarkan seolah-olah kami menelantarkan Leo, sampai di dengar oleh dokter, Pa. Kakak pasti masih marah makanya menuduh yang tidak-tidak. Padahal Rose panik, dan
Read more